Foto: The Independent
Di suatu malam yang penuh kegalauan, saya membiarkan algoritme di platform musik berjalan sesukanya. Lagu demi lagu patah hati lewat begitu saja di telinga, kebanyakan lagu-lagu yang sudah familier. Enggak ada yang benar-benar membuat saya berhenti sampai lagu melankolis muncul di antara deretan lagu tersebut.
“Back on your sofa, of course I still care / Love’s never wasted when it shared…”
Lirik itu datang di saat yang tepat. Alih-alih membuat saya semakin tenggelam dalam patah hati, “A Couple Minutes” justru terdengar seperti pengingat, mencintai seseorang tidak otomatis menjadi sia-sia cuma karena hubungan itu berakhir. Sejak saat itu, saya mulai mendengarkan lagu-lagu lain milik Olivia Dean hingga akhirnya larut dalam keseluruhan album The Art of Loving.
Semakin saya menyelami album tersebut, semakin terasa The Art of Loving bukan sekadar kumpulan lagu tentang jatuh cinta atau patah hati. Dean seperti tengah memetakan berbagai bentuk cinta, mulai dari euforia, kehilangan, hingga proses melepaskan. Di saat yang sama, ia menghadirkan perempuan sebagai sosok yang memiliki agensi dalam percintaan.
Baca juga: Review Album ‘Berusaha di Bawah Hujan’: Cinta yang Dewasa Bukan Cuma soal Romansa
Potret Cinta dalam Album “The Art of Loving”
“Something lost and something gained, in the art of loving.”
Dean menempatkan lagu berdurasi 40 detik berjudul The Art of Loving (Intro) sebagai pembuka album. Penggalan lirik di atas seakan memberi gambaran tentang keseluruhan isi album. Kehilangan dan menemukan ditampilkan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari seni mencintai.
Dari lagu pembuka itu, Dean seperti memberi tahu pendengarnya, album ini enggak dibangun di atas satu premis cinta tunggal, entah bahagia atau sedih. Ia justru memetakan cinta dalam berbagai wujudnya. Karena itu, setiap lagu terasa seperti potongan pengalaman yang saling melengkapi satu sama lain.
Dalam lagu yang paling populer, “Man I Need”, misalnya, Dean membawakan kisah cinta dengan nuansa ceria dan playful. Ia memperdengarkan keberanian untuk menyatakan cinta sekaligus mengungkapkan apa yang ia inginkan. Sosok perempuan dalam lagu ini tampil aktif, bukan sekadar menunggu untuk dipilih.
“Tell me you got something to give I want it / I kinda like it when you call me wonderful…”
Ada pula “So Easy (To Fall in Love)”, lagu yang sekilas terdengar seperti lagu bucin pada umumnya. Namun, di balik itu Dean sedang menyampaikan sesuatu yang berbeda tentang cara ia memandang dirinya sendiri. Ia melihat dirinya sebagai individu yang penuh cinta dan layak dicintai.
“Cause I make it so easy to fall in love…”
Namun Dean tidak berhenti pada euforia. Dalam “Close Up”, ia merekam frustrasi yang muncul dalam hubungan yang tidak seimbang. Lagu tersebut berujung pada pertanyaan yang terasa menyakitkan karena begitu sederhana.
“Do you even see me?”
Pertanyaan itu menunjukkan kebutuhan paling mendasar dalam sebuah hubungan, yakni keinginan untuk dilihat dan diakui. Sementara dalam “Let Alone the One You Love”, Dean menolak cinta yang membuat seseorang harus mengerdilkan dirinya sendiri. Cinta tidak lagi diposisikan sebagai alasan untuk terus bertahan dalam situasi yang menyakitkan.
“If you knew me at all / you wouldn’t try to keep me small…”
Di lagu lain, “Something in Between”, Dean bergulat dengan ketakutan kehilangan diri dalam sebuah hubungan. Ia mengingatkan bahwa kedekatan tidak harus menghapus ruang personal seseorang. Justru dari ruang itulah hubungan dapat terus bernapas.
“Love needs breathing.”
Dalam “A Couple Minutes”, cinta hadir sebagai seni melepaskan. Lagu ini menawarkan gagasan bahwa perpisahan tidak otomatis membuat cinta yang pernah ada menjadi sia-sia. Sementara itu, pada “I’ve Seen It”, Dean memperluas makna cinta melampaui relasi romantis.
Ia melihat cinta dalam kontak mata dengan orang asing di transportasi umum, dalam suasana taman kota, atau saat berkumpul bersama teman-teman. Cinta tidak lagi menjadi sesuatu yang eksklusif dimiliki pasangan romantis. Ia hadir dalam banyak bentuk yang sering kali luput kita sadari.
Pada akhirnya, The Art of Loving terasa seperti galeri berbagai bentuk cinta. Dean tidak menjanjikan akhir bahagia dalam proses mencintai. Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa proses mencintai itu sendiri sudah layak dirayakan.
Baca juga: Dari Olivia Dean sampai Nadhif Basalamah: Rekomendasi Lagu Buat Pejuang LDR dan Para Bucin
Tak Sekadar Dicintai, tetapi Juga Punya Agensi
Bagi saya, hal yang membuat The Art of Loving terasa berbeda dari banyak album cinta lainnya adalah cara Olivia Dean menempatkan perempuan dalam relasi romantis. Ia tidak menghadirkan perempuan sebagai sosok yang hanya menunggu untuk dicintai, dipilih, atau diselamatkan. Sebaliknya, perempuan tampil sebagai individu yang sadar atas keinginannya sendiri.
Dean menghadirkan perempuan yang mampu menentukan batasan, memahami kebutuhannya, serta memiliki suara dalam hubungan. Cara pandang ini terasa konsisten muncul di berbagai lagu dalam album tersebut. Karena itu, tema agensi jadi salah satu benang merah yang paling kuat dalam The Art of Loving.
Selama berabad-abad, gagasan cinta yang diwariskan melalui berbagai kisah populer, kerap menempatkan perempuan dalam posisi pasif. Dalam dongeng maupun cerita romansa, perempuan sering kali menjadi pihak yang menunggu. Dalam albumnya, Dean tampak menolak gagasan tersebut.
Penolakan itu tidak lahir begitu saja. Dalam wawancaranya dengan Elle, Dean bercerita, The Art of Loving lahir dari perjumpaannya dengan pemikiran bell hooks. Ia menjelaskan album tersebut terinspirasi dari kunjungannya ke pameran All About Love karya Mickalene Thomas di Amerika Serikat, pameran yang terinspirasi dari buku bell hooks berjudul sama.
Dean menyebut buku itu sebagai salah satu karya yang ingin ia bagikan kepada semua orang dalam hidupnya. Dari sanalah muncul keinginannya untuk menulis album yang merefleksikan pemahamannya tentang cinta. Keterhubungan tersebut terasa jelas dalam cara Dean menulis tentang cinta di album ini.
Seperti hooks, Dean tidak melihat cinta sebagai sesuatu yang menuntut perempuan untuk terus mengalah, mengecilkan diri, atau bertahan dalam relasi yang menyakitkan. Dalam All About Love: New Visions (2000), hooks menulis budaya kita kerap keliru memahami cinta. Cinta sering disempitkan menjadi sekadar perasaan atau hasrat, padahal cinta juga mencakup kepedulian, penghormatan, dan tanggung jawab.
Cara pandang tersebut membuat banyak orang tetap menyebut relasi yang penuh kontrol, dominasi, bahkan kekerasan sebagai cinta. Padahal bagi hooks, cinta tidak seharusnya hadir dalam bentuk yang melukai atau menghapus diri seseorang. Karena itu, mencintai seseorang tidak semestinya membuat individu kehilangan dirinya sendiri.
“Love and abuse cannot coexist. Abuse and neglect are, by definition, the opposites of nurturance and care. Often we hear of a man who beats his children and wife and then goes to the corner bar and passionately proclaims how much he loves them. If you talk to the wife on a good day, she may also insist he loves her, despite his violence.” tulis hooks.
Gagasan tersebut terasa hidup dalam lagu-lagu Dean, terutama ketika ia bernyanyi tentang kebutuhan akan ruang, keberanian menyatakan keinginan, hingga keputusan untuk meninggalkan relasi yang membuat dirinya terasa kecil. Dalam album ini, cinta tidak dipahami sebagai pengorbanan tanpa batas. Sebaliknya, cinta justru berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap diri sendiri.
Dalam “Let Alone the One You Love”, misalnya, ia menolak cinta yang menuntutnya mengerdilkan diri.
“And if you knew me at all / You wouldn’t try to keep me small / Who would do that to a friend / Let alone the one you love?”
Bagi Dean, cinta bukan alasan untuk membuat seseorang merasa kecil. Sebaliknya, cinta menuntut penerimaan yang utuh atas diri seseorang. Relasi yang sehat justru memberi ruang bagi setiap individu untuk berkembang.
Sementara dalam “So Easy (To Fall in Love)”, yang sekilas terdengar seperti rayuan manis, Dean sebenarnya sedang menegaskan nilai dirinya sendiri. Ia tidak berbicara dari posisi seseorang yang haus validasi. Sebaliknya, ia menunjukkan keyakinan terhadap dirinya sendiri.
“I’m the perfect mix of Saturday night and the rest of your life / Anyone with a heart would agree / It’s so easy to fall in love with me…”
Ia tidak memohon untuk dipilih. Ia justru menyatakan dengan percaya diri bahwa dirinya layak dicintai. Di titik inilah cinta dan agensi bertemu.
Dalam The Art of Loving, mencintai tidak pernah berarti kehilangan diri. Justru sebaliknya, cinta menjadi cara perempuan menegakkan dirinya secara utuh. Dean menunjukkan bahwa hubungan yang sehat tidak mengharuskan seseorang menghapus dirinya demi orang lain.
Baca juga: Mendengarkan Maskulinitas yang Manusiawi dari Band Perunggu
Seni yang Terus Dipelajari
Pada akhirnya, The Art of Loving tidak menawarkan rumus cinta yang selesai. Olivia Dean, di usianya yang masih muda, tidak mengklaim telah menguasai seni mencintai. Ia justru jujur bahwa banyak hal masih ia pelajari dan masih ia raba-raba.
Di situlah letak kejujuran album ini. Cinta bukan sesuatu yang kita kuasai sekali lalu selesai, melainkan keterampilan yang terus dilatih sepanjang hidup. Karena itu, album ini terasa begitu dekat bagi banyak orang.
Ia tidak berbicara dari posisi seseorang yang telah menemukan seluruh jawaban. Sebaliknya, ia berbicara sebagai seseorang yang masih belajar memahami dirinya sendiri saat mencintai orang lain. Kerentanan itu membuat lagu-lagu Dean terasa lebih manusiawi.
Lewat album ini, Dean juga memperlihatkan bahwa perempuan dapat hadir secara utuh dalam percintaan. Bukan sekadar sebagai pihak yang menunggu untuk dicintai, tetapi sebagai individu yang mampu menentukan apa yang ia inginkan, apa yang ia terima, dan kapan ia harus pergi. Cinta tidak lagi digambarkan sebagai sesuatu yang menuntut perempuan mengecilkan diri demi dipertahankan.
Sebagai penutup, bagi saya seni dalam mencintai justru terletak pada kemampuan untuk tetap menjadi diri sendiri di tengah relasi. Mengetahui kapan harus bertahan, kapan harus melepaskan, dan kapan harus memilih diri sendiri. Mungkin itu pula yang ingin Dean sampaikan melalui lagu penutup albumnya, “I’ve Seen It”.
Setelah menyusuri cinta dalam berbagai wujudnya, ia tiba pada satu kesadaran sederhana. Cinta tidak pernah benar-benar datang dari luar untuk ditemukan. Ia sudah ada di dalam diri selama ini.
“I know it’s somewhere in my chest / I guess it’s been inside me all along.”





















