07/07/2026
Culture Opini Screen Raves

‘Phantom Lawyer’: Drama Hukum-Hantu yang Klise, tapi Susah Ditolak

‘Phantom Lawyer’ mungkin bukan drama Korea paling orisinal, tapi akting luwes Yoo Yeon-seok dan kisah-kisah humanis yang hangat membuat serial ini susah ditolak.

  • May 12, 2026
  • 5 min read
  • 887 Views
‘Phantom Lawyer’: Drama Hukum-Hantu yang Klise, tapi Susah Ditolak

Foto: Netflix

Ada jenis tontonan yang sejak awal tidak berusaha menipu penonton. Ia tidak pura-pura menjadi drama paling orisinal, tidak menawarkan misteri yang terlalu rumit, dan tidak malu memakai formula yang sudah sering kita lihat. Namun justru karena tahu persis ingin menjadi apa, tontonan seperti ini kadang lebih mudah membuat kita betah.

Phantom Lawyer (Netflix) adalah salah satunya.

Drama Korea ini dibuka dengan Shin Yi-rang (Yoo Yeon-seok), seorang pengacara yang kesulitan bergabung dengan firma hukum mana pun karena nama ayahnya telanjur tercemar. Sang ayah dikenal sebagai jaksa korup, dan lebih sial lagi, tuduhan itu mencuat setelah ia meninggal. Ayahnya tidak bisa membela diri, sementara Shin Yi-rang harus menanggung akibatnya.

Karena sudah terlanjur berkata kepada ibunya, Park Gyeong-hwa (Kim Mi-kyung), bahwa kariernya baik-baik saja, Yi-rang nekat menyewa gedung kosong untuk dijadikan kantor hukum. Gedung itu murah, strategis, dan dari jendelanya ia bisa melihat gedung pengadilan. Masalahnya, gedung tersebut bekas tempat praktik dukun.

Baca juga: ‘Would You Marry Me’, Plot Pura-pura Menikah, dan Klise-klisenya

Dari sinilah hidup Yi-rang berubah. Klien pertamanya bukan manusia, melainkan seorang mantan preman yang kini menjadi hantu. Setelah itu, ia harus menerima kenyataan bahwa firma hukumnya bukan hanya melayani orang hidup, tetapi juga arwah penasaran yang masih punya urusan belum selesai.

Saya tidak tahu kapan tepatnya drama Korea mulai mengikuti mesin Hollywood dengan konsep musim demi musim. Namun, jika melihat judul-judul seperti KingdomHospital PlaylistTaxi Driver, dan Yumi’s Cells, kita mungkin bisa menyalahkan layanan streaming. Logikanya sederhana: kalau penonton masih datang, kenapa ceritanya harus berhenti?

Phantom Lawyer baru saja mengakhiri musim pertamanya, tetapi rasanya episode 16 bukan terakhir kali kita melihat aksi Shin Yi-rang.

Agar bisa bertahan lebih dari satu musim, sebuah serial membutuhkan series engine yang kuat. Istilah ini merujuk pada struktur cerita yang mampu terus menghasilkan konflik, plot, dan perkembangan karakter. Grey’s Anatomy, misalnya, bisa terus berjalan karena rumah sakit adalah mesin cerita yang nyaris tidak ada habisnya.

Dalam Phantom Lawyer, mesinnya sederhana tapi efektif: karakter utamanya adalah pengacara yang bisa melihat hantu. Dua elemen ini saja sudah cukup untuk membuat dramanya bergerak lincah. Para hantu bisa memberi informasi penting yang tidak bisa didapat manusia biasa. Lebih jauh lagi, serial ini juga memberi aturan bahwa arwah dapat merasuki tubuh Yi-rang, membuatnya menguasai keahlian si hantu untuk sementara waktu.

Dengan premis seperti itu, Phantom Lawyer punya banyak jalan untuk bersenang-senang. Yi-rang bisa menang di pengadilan dengan cara yang tidak biasa. Ia bisa mengungkap rahasia, menjebak lawan, dan sesekali terlihat konyol ketika tubuhnya diambil alih oleh arwah dengan kepribadian yang bertolak belakang dengannya.

Namun daya tarik utama Phantom Lawyer bukan terletak pada trik-trik pengadilan. Drama ini tidak mencoba menjadi Extraordinary Attorney WooBeyond the Bar, atau Pro Bono. Yang ia tawarkan adalah kisah-kisah humanis tentang orang-orang yang meninggal sebelum sempat menyelesaikan urusan hidupnya.

Baca juga: ‘Dear X’: Kenapa Saya Terbius Ah-jin, Si Red Flag Berjalan?

Dalam kematian, ada saja rahasia yang tertinggal, pesan yang tidak sempat disampaikan, atau luka yang tidak pernah selesai dijelaskan. Phantom Lawyer mengeksplorasi ruang itu. Mengapa mantan preman yang sudah bertobat masih begitu mencemaskan anaknya? Apa yang sebenarnya terjadi pada seorang trainee idol yang diduga bunuh diri? Benarkah ayah Yi-rang memang jaksa korup seperti yang selama ini dipercaya orang?

Pertanyaan-pertanyaan itu terjawab ketika Yi-rang mulai menghabiskan waktu dengan para arwah yang mendatanginya. Dari sana, Phantom Lawyer menemukan jantung emosionalnya.

Betul, drama ini memang klise dan formulaik. Setelah menonton dua episode, kita sudah bisa menebak polanya dan kira-kira bagaimana setiap kasus akan berjalan. Yi-rang bertemu hantu, rahasia mulai terbuka, ada rintangan dari pihak lawan, lalu semuanya ditutup dengan momen menghangatkan yang siap mengundang air mata.

Namun yang membuat Phantom Lawyer tetap asyik adalah kejujurannya. Ia tidak malu menjadi drama yang sentimental. Ketika Yi-rang berhadapan dengan hantu mantan trainee, sutradara Shin Joong-hoon membiarkan adegannya terasa menggemaskan. Ketika ia berhadapan dengan hantu anak kecil, nadanya berubah lebih serius karena kisah tentang kematian anak jelas tidak bisa diperlakukan sama seperti kisah bapak-bapak yang masih ingin berpamitan kepada istrinya.

Baca juga: ‘Dynamite Kiss’: Drama Klise dan Ciuman yang Mengubah Hidup

Selain mesin cerita yang solid, kekuatan lain serial ini adalah Yoo Yeon-seok. Sebagai Shin Yi-rang, ia punya karisma yang cukup untuk menjadi pusat cerita, tetapi juga tidak jaim ketika harus mengeksekusi adegan-adegan konyol. Saat tubuhnya dirasuki berbagai jenis hantu, Yoo Yeon-seok bermain dengan luwes tanpa terasa berlebihan. Chemistry-nya dengan Han Na-hyun (Esom), pengacara lawan yang perlahan menjadi love interest, juga terasa natural.

Phantom Lawyer mungkin bukan drama Korea terbaik tahun ini, tapi ia cukup membuat saya selalu menunggu episode baru setiap akhir pekan. Terkadang yang kita butuhkan memang bukan tontonan paling brilian atau paling revolusioner. Kita hanya butuh cerita sederhana yang tahu kapan harus lucu, kapan harus menyentuh, dan kapan harus membuat kita menangis bahagia.

Dalam hal itu, Phantom Lawyer berhasil menjalankan tugasnya—dengan manis, hangat, dan sedikit hantu penasaran sebagai bonus.

Seluruh episode ditonton untuk ulasan ini. Phantom Lawyer dapat disaksikan di Netflix dan Vidio.

About Author

Candra Aditya

Candra Aditya adalah penulis, pembuat film, dan bapaknya Rico. Novelnya ‘When Everything Feels Like Romcoms’ dapat dibeli di toko-toko buku.