Dear Bro, Ada ‘Gender War’ yang Sia-sia dari Tren ‘Sepakat’ di Media Sosial
Tren ‘sepakat’ belakangan jadi jawaban andalan laki-laki di media sosial saat menanggapi perempuan. Apa pun topiknya, mulai dari pengalaman seksisme sampai pembahasan soal gender, kata itu dipakai seolah jadi respons paling aman. Masalahnya, jokes ini sering dipakai bukan untuk mendengarkan, melainkan untuk menyudahi percakapan.
Pola itu terlihat lagi setelah kecelakaan Kereta Listrik (KRL) Commuter Line yang menewaskan 16 perempuan di Bekasi Timur, Jawa Barat (27/4) silam. Publik wajar marah dan mengritik KAI. Namun, di tengah duka tersebut, muncul komentar dan konten media sosial yang menunjukkan ketersinggungan ketika perempuan menjadi fokus utama dalam kecelakaan ini.
Baca juga: Mendengarkan Maskulinitas yang Manusiawi dari Band Perunggu
Saat berselancar di media sosial, saya melihat unggahan meme tentang bagaimana laki-laki terus “dikorbankan” dalam setiap perkembangan kereta api. Konten semacam ini muncul untuk menanggapi pernyataan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi.
Ia mengusulkan pemindahan gerbong perempuan yang semula berada di depan dan belakang menjadi di bagian tengah. Melansir CNBC Indonesia, KAI menjelaskan posisi tersebut dipilih demi menghindari penumpukan dan rebutan penumpang. “Jadi yang laki-laki di ujung, depan belakang itu laki-laki, jadi yang perempuan di tengah,” tuturnya (28/4).
Tak butuh waktu lama, diskursus tentang seberapa tidak masuk akalnya ide ini menjalar di media sosial. Warganet mengkritik Arifatul karena solusinya dinilai tidak memikirkan laki-laki. Komentar seperti, “emang laki-laki kalau ketabrak kereta enggak mati?” atau “laki-laki mah memang biasa dikorbanin”, ramai dikemukakan saat mengritik solusi tersebut.
Pembahasan lalu berkembang liar menjadi keluhan tentang betapa sulitnya hidup laki-laki. Perempuan yang ikut berkomentar pun tidak digubris secara serius. Alih-alih merespons substansi, banyak warganet, mayoritas laki-laki, justru kompak membalas pendapat perempuan dengan kata ‘sepakat’.
Jangan salah tangkap, saya juga tidak setuju dengan pernyataan Arifatul. Dibanding disebut tidak memikirkan keselamatan penumpang laki-laki, ia lebih tepat dibilang tidak memikirkan solusi secara matang. Lagipula, untuk apa jurnalis menanyakan keselamatan penumpang kepada Menteri PPPA? Sebaliknya, untuk apa ia menjawab sesuatu yang berada di luar wewenangnya?
Namun, tren ‘sepakat’ yang masih bergulir sampai sekarang tampaknya bukan respons yang tepat. Alih-alih membantu percakapan jadi lebih sehat, lelucon ini justru memicu gender war baru yang sebenarnya enggak perlu.
Baca juga: Erika: Lagu Seksis Zaman ‘Baheula’ yang Harusnya Dikubur Saja
Sepakat
Tren ini mulai dari sebuah cuplikan siniar Najwa Shihab di media sosial. Jurnalis dan pembawa acara Mata Najwa ini mengutarakan tantangan menjadi perempuan di hadapan beberapa tamu acaranya, di antaranya stand up komedian Ge Pamungkas dan David Nurbianto yang mengamini pendapat Najwa.
Ia beberapa kali mengutarakan kata sepakat ketika Najwa bilang laki-laki tidak akan kuat jadi perempuan. Klip itu kemudian dipotong dan dijadikan landasan tren ‘sepakat’. Intinya, apa pun yang keluar dari mulut perempuan, sepakat adalah jawaban yang tepat.
Salah satu pemengaruh membuat video pendek dengan format drama tentang tren sepakat ini. Skenarionya memperlihatkan pasangan yang sedang berdebat tentang peran berdasarkan gender. Pemeran perempuan mempertanyakan apa yang bisa dilakukan laki-laki. “Apa yang bisa kamu lakuin tapi aku enggak bisa?”
Pemeran laki-laki menatap kekasihnya, adegan kemudian beralih kepada flashback setiap bantuan yang diberikannya, mulai dari membetulkan mobil hingga pendingin ruangan yang rusak. Saat flashback habis, si laki-laki hanya menjawab “sepakat,” kepada perempuan yang memaksanya untuk menjawab.
Saya bahkan menemukan di Thread, beberapa perempuan menyatakan keberatannya dengan candaan ini. Keluhannya tentu saja seputar merasa tidak didengar dan dikucilkan. Sayangnya kritik tersebut ramai-ramai dibalas sepakat oleh banyak akun. Bahkan ada yang berkomentar “enggak dijawab salah, dijawab sepakat salah, terus kita harus ngapain?”
Saya sendiri bingung dengan dasar jokes ini. Kembali ke cuplikan video Najwa, ada perbedaan signifikan dari cara David dan Ge menjawab dengan tren sepakat yang menjalar ke berbagai topik ini: Mereka mendengarkan dan memahami lawan bicara. Sementara, laki-laki yang mengikuti tren ini hanya ingin menyudahinya.
Baca juga: Anak Perempuan Bukan Investasi Masa Tuamu, Cerita Mereka yang Jadi ‘Caretaker’ karena Gendernya
Perang Gender
Gender war semacam ini bukan barang baru di dunia maya. Setiap ada kejadian yang melibatkan gender, di situ polarisasi gender akan terjadi. Perdebatan tentang menjadi jenis kelamin mana yang paling berat akan beredar. Narasi yang tidak produktif akan terbentuk hanya karena ada pihak-pihak yang salah tangkap.
Melansir artikel berjudul ‘Gender War’ in Social Media: A Technofeminist Critique of Cyberfeminism’ yang ditulis Aisya Sabili (2025), perang gender bisa terjadi karena algoritme media sosial didesain untuk mengadu domba netizennya.
Dengan model bisnis yang bergantung pada seberapa lama manusia berselancar di timeline, perdebatan yang tak berkesudahan ini jadi komoditas abadi. Terlebih lagi, narasi yang memperjuangkan hak perempuan seringkali dipelintir keluar jauh dari konteks.
Sabili menulis, perjuangan melawan patriarki, seringkali dibingkai sebagai kebencian terhadap laki-laki. Aktor-aktor yang menyuarakan pendapat mereka, terutama perempuan, akan dicap sebagai pembenci laki-laki. Maka, kritik mereka kepada sistem akhirnya dikunyah secara personal dan menimbulkan ketersinggungan yang tak berkesudahan.
Begini Bro, tidak semua kata ‘laki-laki’ yang diucapkan perempuan saat sedang marah dan mengritik ditujukan secara personal kepadamu. Mungkin ia sedang berbicara ke sistem patriarki yang, kalau mau jujur, menyengsarakan kita. Bahkan, perdebatan tentang jadi gender apa yang paling berat bisa ada karena patriarki.
Kamu dibilang cengeng saat menangis? Itu karena patriarki melarang kamu mengekspresikan perasaan. Kamu dianggap miskin ketika split bill dengan pasangan? Patriarki bilang kamu harus jadi provider. Kamu dikatai kurang ‘cowok’ karena bentuk tubuhmu tidak kekar? Itu karena patriarki mau kamu terlihat kuat dan memberi standar yang mustahil diikuti semua orang.
Mungkin, saat perempuan mengritik, mereka sedang berbicara kepada sistem yang juga bikin hidupmu susah. Mungkin kamu akan tetap bilang sepakat saat menangkap pesan mereka dengan jelas. Bedanya, kamu sepakat karena benar-benar mengerti, bukan tidak peduli dan hanya ingin menyudahi.
Ujung-ujungnya, kita semua punya pengalaman buruk karena patriarki. Jadi, sekadar mengingatkan, ada baiknya mendengarkan dan berusaha mengerti pendapat orang lain sebelum menjawab apapun. Sepakat?




















