‘The Drama’ dan Bias Rasial di Balik Hubungan Emma dan Charlie
Foto oleh A24
Peringatan: Artikel ini mengandung spoiler
Sebelum menikahi pasangan, seberapa yakin kamu sudah mengenalnya?
Pertanyaan itu menggambarkan konflik dalam The Drama (2026). Disutradarai oleh Kristoffer Borgli, film ini bercerita tentang Emma (Zendaya) dan Charlie (Robert Pattinson), sepasang kekasih yang mengalami ketegangan hubungan menjelang pernikahan.
Konflik berawal ketika Rachel (Alana Haim), teman Emma dan Charlie, melempar pertanyaan pada mereka: “Apa hal terburuk yang pernah kamu lakukan?”
Pertanyaan tersebut kemudian mengungkap, sewaktu remaja, Emma pernah berniat melakukan penembakan di sekolah.
Jawaban mengejutkan yang sempat dianggap lelucon, dijadikan “senjata” oleh Charlie dan Rachel untuk menghakimi Emma. Mereka yang merupakan kulit putih, merasa terancam dengan keberadaan Emma setelah mendengar masa lalunya. Bahkan merasa lebih bermoral, terlepas dari keburukan yang dilakukan.
Charlie pernah melakukan cyberbullying terhadap seorang anak, hingga keluarga anak tersebut pindah tempat tinggal. Rachel mengunci dan meninggalkan seorang anak difabel di dalam lemari, di sebuah recreational vehicle (RV) yang terbengkalai. Sedangkan Mike (Mamoudou Athie), sahabat Charlie yang adalah suami Rachel, memanfaatkan mantan pacarnya sebagai tameng untuk melindungi diri dari serangan anjing.
Alih-alih merefleksikan, mereka (terutama Charlie dan Rachel yang sangat terkejut) merasa lebih bermoral daripada Emma. Kemudian mereduksi kesalahan dengan niat buruk Emma—mengecap jahat dan paling menyeramkan, meski belum dijalankan. Reaksi Charlie dan Rachel ini mengaburkan latar belakang Emma yang kompleks.
Baca juga: Mitos ‘Love is Easy’, Kencannya yang Setengah Mati: POV Seorang Lelaki
Karakter Emma Kompleks, tapi Direduksi Jadi Stereotip
Emma adalah seorang perempuan, keturunan kulit hitam, yang mengalami bullying dan depresi semasa sekolah. Ayahnya seorang anggota militer, menjelaskan kepemilikan senjata di rumah mereka di Louisiana.
Sayang, Borgli tak mengeksplorasi kompleksitas tersebut. Cerita Emma justru banyak disampaikan melalui perspektif Charlie dan Rachel, yang menganggap Emma menyeramkan dan perlu diwaspadai.
Dari Charlie, penonton bisa melihat perubahan perilaku terhadap Emma: selalu merasa waswas di sekitarnya, hingga menuntut agar Emma menceritakan motifnya melakukan penembakan di sekolah. Bahkan, di kepala Charlie sempat terlintas skenario, untuk meninggalkan Emma dan pulang ke Inggris. Ini mencerminkan Emma sebagai beban, mengganggu kestabilan dan keamanan hidup Charlie.
Skenario tersebut sekaligus menunjukkan privilese yang dimiliki Charlie. Ia punya pilihan untuk “menyingkir” dari kekacauan dengan membatalkan pernikahan, kemudian kembali ke negara asalnya. Sedangkan Emma tidak bisa lari dari identitasnya, masa lalunya di Louisiana.
Sementara Rachel menghakimi dan menjauhi Emma karena trauma—sepupunya lumpuh akibat penembakan massal. Alasan valid, meski tak menjustifikasi perlakuan tersebut.
Perilaku Rachel justru menjelaskan, ia melihat Emma bukan sebagai korban dari sistem, melainkan serupa dengan pelaku penembakan massal yang mencelakai sepupunya. Padahal, Emma tak pernah melakukan aksinya. Rachel pun tak memberikan Emma kesempatan berbicara, ataupun ruang agar temannya bisa menunjukkan kerapuhan.
Dalam Black Women in Film: The Film Stereotypes, Cliches, and Tropes that Negatively Influence Perceptions of Black Women (2023), peneliti Isatou K. Sey menerangkan soal arketipe karakter perempuan kulit hitam dalam film. Biasanya, identitas mereka disederhanakan lewat narasi tunggal yang tak mendalam maupun akurat. Kemudian tergolong dalam trope, salah satunya Sapphire.
Trope tersebut melabeli perempuan kulit hitam sebagai sosok agresif dan berbahaya. Ketika Borgli menyorot “kengerian” di masa lalu Emma lewat cara Charlie dan Rachel bersikap padanya, sebenarnya Borgli memperkuat narasi tunggal yang merusak harga diri perempuan kulit hitam. Padahal, Borgli punya kuasa untuk menekankan cara Emma bangkit dari kekelaman, dengan mengadvokasi anti-senjata di sekolah.
Selain dipotret lewat kacamata Charlie dan Rachel, tempat Emma berasal juga menggambarkan stereotip.
Louisiana punya sejarah panjang terkait kekerasan rasial. Negara bagian tersebut termasuk dalam Deep South, wilayah yang ekonominya dibangun di atas sistem perkebunan dan perbudakan. Kemudian setelah perbudakan dihapus pada 1865, Louisiana turut menerapkan hukum Jim Crow, untuk memisahkan orang kulit hitam dengan kulit putih. Contohnya pemisahan transportasi umum, sekolah, dan fasilitas publik. Bahkan melarang pernikahan antar ras.
Gambaran Emma di kepala Charlie dan Rachel, bahwa Emma bisa melukai orang lain dengan kekerasan, mempertebal prasangka terhadap orang kulit hitam. Ini mencerminkan ketakutan orang kulit putih, atas perlawanan orang kulit hitam terhadap rasisme pada 1960-an.
Di sini, Charlie dan Rachel juga memiliki bias rasial. Yakni masih terjebak dalam stereotip, orang kulit hitam memiliki catatan kriminal. Hal itu ditunjukkan lewat adegan, ketika Charlie berusaha menelusuri latar belakang Emma setelah ceritanya terungkap. Bias tersebut membuat Charlie tak sepenuhnya berempati pada Emma, maupun melihat masalah kesehatan mentalnya secara utuh.
Di sisi lain, sikap Charlie ketika mencari tahu masa lalu Emma, juga menunjukkan white savior complex.
Baca juga: Horor Berpasangan “Cowok Miskin” yang Dipotret ‘Together’
Charlie dan Tendensi White Savior Complex
Sebagai calon suami, Charlie berhak mengetahui kebenaran atas niat Emma melakukan tindakannya. Charlie pun memberikan Emma kesempatan untuk menceritakan masa lalu, walaupun Emma tak begitu ingin membahas. Namun, semakin mengetahui latar belakang Emma, semakin Charlie ingin memperbaiki pasangannya—bukan sekadar memahami.
Dalam sebuah adegan, Charlie “membantu” Emma menyelidiki peristiwa-peristiwa yang dialami semasa kecil. Salah satunya kematian teman kecil Emma, yang Charlie anggap menimbulkan trauma sehingga mendorong Emma melakukan penembakan di sekolah. Padahal, Emma tak begitu akrab dengan teman kecilnya. Kejadian itu pun tak berdampak padanya.
Perilaku Charlie cenderung mencerminkan white savior complex. Ketika orang kulit putih memiliki mindset ini, mereka ingin memenuhi kebutuhan emosional sebagai penyelamat. Sekalipun orang yang ingin dibantu berdaya.
Dalam konteks ini, Charlie tak melihat Emma sebagai pasangan yang setara, tetapi “masalah” yang perlu diperbaiki, diselesaikan. Dengan memosisikan diri sebagai penyelamat, posisi Emma inferior: tidak stabil, lemah, kesulitan menolong dirinya sendiri. Sedangkan Charlie punya privilese untuk mendefinisikan trauma Emma.
Itu sebabnya ia mengidentifikasi keinginan Emma melakukan penembakan. Charlie hendak memastikan kejadian serupa tak terulang. Salah satunya dengan mendekati Rachel, supaya Emma tak merasa ditinggalkan.
Kenyataannya, sejak SMA, Emma sudah berdaya. Ia menemukan kebersamaan lewat komunitas anti-senjata di sekolah, mengubah kekelamannya menjadi kegiatan aktivisme.
Keingintahuan Charlie terhadap peristiwa tersebut justru menyingkap, ia sedang mencari rasa aman untuk melanjutkan hubungan. Charlie bukan menunjukkan kasih sayang dengan meringankan beban Emma. Melainkan ingin mengalahkan rasa takut, dengan “mengatasi” masa lalu pasangannya.
Kita bisa melihat kegagalan Borgli dalam memberikan hak pada Emma untuk berbicara. Malah terjebak dalam kacamata karakter kulit putih yang penuh prasangka.
Emma bahkan tak punya ruang untuk mengungkapkan perasaan, ketika Charlie bersikap takut berada di dekatnya. Sementara Borgli memberikan waktu pada Charlie untuk memproses masa lalu Emma—di saat bersamaan, Borgli membuat Emma menghadapi situasi ini dengan tenang.
Perbedaan cara Borgli memotret kedua karakternya, merefleksikan peran Emma hanya sebatas plot device. Fungsinya hanya mendorong pengembangan karakter Charlie, bukan sebagai subjek yang berdaya.
Dalam studi yang sama, Sey menuliskan, “Stereotip tentang perempuan kulit hitam yang muncul dalam film maupun televisi, bukan cuma merusak harga diri dan persepsi mereka terhadap diri sendiri. Tapi memperburuk pandangan ras lain terhadap mereka, dan berdampak buruk pada posisi perempuan kulit hitam di masyarakat.”
Dampak tersebut terjadi karena narasi film sering kali fokus pada karakter dominan, daripada realitas subjek yang termasuk kelompok marginal. Dalam The Drama, penonton tidak diajak untuk melihat bagaimana Emma memproses stigma yang dilekatkan padanya, melainkan dipaksa untuk bersimpati pada pergumulan batin Charlie. Karena itu, keberadaan Emma hanyalah “ujian” bagi moralitas laki-laki kulit putih.
Penonton bisa melihatnya dalam sebuah adegan pasca-pernikahan. Malam itu, Charlie pulang ke rumah dalam kondisi terluka, memutar lagu Inside Out oleh Jesse Rae—liriknya tentang seseorang yang memperjuangkan relasi dengan pasangan. Kemudian, Charlie pergi ke sebuah restoran untuk mencari Emma.
Adegan tersebut menunjukkan, Charlie memiliki agensi. Ia masih menerima Emma dan memperjuangkan hubungan mereka, terlepas dari latar belakang Emma. Namun, dengan memosisikan diri sebagai seseorang yang berlapang dada, Charlie malah memperkuat narasi kepahlawanannya. Ia tidak memperjuangkan Emma sebagai manusia yang utuh, tetapi Emma “versinya” yang perlu diselamatkan.
Pada akhirnya, The Drama masih melanggengkan sistem yang ingin dikritik: menjadikan trauma perempuan kulit hitam, untuk memperdalam karakter laki-laki kulit putih. Dampaknya, perempuan kulit hitam akan terus dipotret sebagai pihak yang perlu diselamatkan, tanpa benar-benar didengarkan.





















