Sudah beberapa kali saya menyambangi ruang praktik psikolog, dan hampir semuanya memberi saran yang sama: cobalah menulis jurnal. Journaling sering disebut sebagai alat non-farmakologis yang bisa membantu seseorang mengenali perasaan, merekam pengalaman, dan pelan-pelan menerima apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.
Kedengarannya sederhana. Tinggal duduk, buka buku, lalu menulis. Tapi buat saya, justru di situlah sulitnya.
Berkali-kali saya mencoba. Pena sudah di tangan, buku sudah terbuka, tapi ujungnya selalu sama: halaman kosong. Saya ingin menulis apa yang saya rasakan, tetapi sering kali saya sendiri tidak tahu apa yang sedang saya rasakan. Pikiran saya seperti kabut, perasaan saya seperti ruangan kosong. Dan kalau isi kepala saya kosong, kertas itu ikut-ikutan kosong juga.
Padahal di saat saya mengambil cuti kuliah semester ini, menulis jurnal terasa semakin penting. Salah satu alasan utama cuti ini adalah kesehatan mental saya. Saya tahu mestinya ada banyak hal yang perlu saya refleksikan dan banyak emosi yang seharusnya bisa saya catat. Kalau bukan untuk dipahami, setidaknya untuk diakui keberadaannya. Namun lagi-lagi, halaman itu tetap putih, seputih jeda yang mengambang dalam hari-hari saya.
Cuti juga berarti lebih banyak waktu luang. Dan, seperti banyak orang lain, sebagian waktu luang itu saya habiskan dengan berselancar di media sosial. Di sanalah saya tanpa sengaja menemukan konten tentang tea journaling. Itu bukan sesuatu yang saya cari-cari, tapi muncul begitu saja di for you page saya, lalu tinggal lebih lama dari yang saya kira.
Dari situ saya mulai penasaran. Ternyata ada orang-orang yang menulis jurnal bukan hanya tentang hidup mereka, tetapi juga tentang teh yang mereka minum: rasanya, aromanya, suasananya, bahkan perasaan yang muncul saat menyeruputnya. Bagi sebagian orang, itu mungkin terdengar remeh. Bagi saya, itu justru terasa seperti pintu kecil yang bisa dibuka ketika pintu yang lebih besar masih terlalu berat untuk didorong.
Sejak mulai melakukannya, saya merasa menemukan cara yang lebih ramah untuk mendekati kekosongan itu. Saya tidak lagi dipaksa langsung menuliskan luka, kecemasan, atau pikiran paling gelap di kepala saya. Saya cukup mulai dari secangkir teh. Dari rasa yang manis, pahit, ringan, atau hangat. Dari aroma yang menenangkan. Dari pertanyaan sederhana: teh ini rasanya seperti apa, dan saya sedang merasa apa saat meminumnya.
Baca juga: Sibuk Jadi Dewasa, Tak Ada Salahnya Lakukan Hobi Masa Kecilmu
Tea journaling bukan cuma soal rasa, tapi juga cara membaca diri
Di buku tea journaling saya, yang saya tulis bukan hanya deskripsi soal rasa dan komposisi teh. Saya juga menulis bagaimana perasaan saya saat meminumnya. Kadang saya merasa senang, kadang tenang, kadang malah kecewa karena rasanya tidak sesuai ekspektasi. Anehnya, justru lewat teh saya jadi lebih mudah jujur pada diri sendiri.
Kalau tehnya enak sekali, ada semacam rasa senang yang mengembang pelan-pelan. Kadang saya merasa lebih ringan, lebih hangat, bahkan lebih ingin menjalani hari itu sedikit lebih lama. Ada momen ketika saya menyeruput teh yang sangat saya sukai, lalu berpikir, saya masih ingin hidup cukup lama untuk mencoba teh-teh lain yang belum pernah saya cicipi. Pikiran itu terdengar kecil, mungkin juga agak lucu. Tapi bagi saya, ia berarti. Kadang alasan untuk bertahan memang tidak datang dalam bentuk yang besar dan heroik. Kadang ia hadir dalam bentuk pertanyaan yang sangat sederhana, “Besok saya mau seduh teh apa?”.
Saya juga sering menulis konteks di sekeliling secangkir teh itu. Apakah saya sedang belajar? Sedang menonton film? Sedang demam? Sedang kelelahan? Ada teh yang rasanya biasa saja, tetapi terasa istimewa karena menemani saya di waktu yang tepat. Ada juga teh yang saya apresiasi lebih dalam justru karena ia membuat tubuh saya terasa sedikit lebih enakan saat sedang sakit.
Sebaliknya, ada teh yang mengecewakan. Rasanya hambar, aromanya terlalu kuat, atau meninggalkan kesan yang bikin dongkol. Dan ternyata, menuliskan kekecewaan kecil itu juga membantu. Saya bisa menumpahkan rasa kesal tanpa harus menunggu ada “alasan besar” untuk menulis. Dari situ saya sadar bahwa tea journaling bukan hanya catatan tentang minuman, melainkan juga catatan tentang naik-turunnya suasana hati saya sendiri: senang, puas, kecewa, jengkel, tenang. Semua itu saya rangkum bersama rasa yang saya kecap.
Baca juga: ‘Soft Living’: Hidup Pelan Tanpa Rasa Bersalah. Emang Bisa?
Dari secangkir teh ke keinginan untuk hidup lebih penuh
Lama-lama, tea journaling membuat saya lebih peka. Saya jadi belajar memperhatikan tiap teguk dengan lebih sungguh-sungguh: wanginya, kepahitannya, rasa manis yang tertinggal, atau sensasi hangatnya di tubuh. Kadang saya sampai berkumur dulu supaya lidah saya lebih siap membaca rasa. Ada sesuatu yang meditatif dalam kebiasaan itu. Secangkir teh, hangat atau dingin, memberi saya ruang kecil untuk berhenti sejenak dan hadir penuh di momen itu.
Biasanya, teh juga menemani kegiatan lain: membaca, menulis, belajar, atau sekadar duduk diam. Ia tidak menyelesaikan semua masalah saya, tentu saja. Tea journaling juga bukan pengganti konsultasi dengan psikolog, dan saya tetap menganggap bantuan profesional itu penting. Tapi ia memberi saya satu hal yang sebelumnya sulit saya temukan, yaitu jalan masuk. Jika journaling biasa terasa terlalu sunyi dan terlalu sulit, tea journaling memberi saya pegangan yang lebih konkret.
Jika ada yang tidak cocok dengan kafein, sebetulnya masih ada tisane yang bisa dicoba. Tisane adalah seduhan herbal dari daun, akar, buah, bunga, atau biji, dan tidak berasal dari tanaman teh Camellia sinensis. Saya sendiri beberapa kali mencoba tisane—dari bir pletok, kunyit asam, nanas, sampai mint—dan semuanya memberi rasa tenang dengan caranya masing-masing. Meski kalau boleh jujur, saya tetap punya titik lemah pada teh biasa.
Ada satu hal lain yang saya sukai dari ritual ini. Ketika membuat tea journaling, saya sering menempelkan bungkus teh, tag kantong teh, atau potongan kemasannya ke binder. Awalnya itu sekadar bagian dari estetika. Tapi lama-lama saya merasa kebiasaan kecil itu juga membuat saya lebih sadar pada apa yang saya konsumsi dan apa yang saya buang. Mungkin tidak besar, tapi setidaknya ada upaya kecil untuk tidak membiarkan semuanya langsung berakhir jadi sampah begitu saja.
Pada akhirnya, tea journaling memberi saya cara yang lebih lembut untuk mendekati diri sendiri. Ia tidak memaksa saya langsung fasih membaca isi kepala, tapi mengajak saya duduk, menyeduh sesuatu, lalu bertanya pelan-pelan: hari ini rasanya bagaimana?
Dan untuk saat ini, itu sudah sangat berarti.
Besok saya mau seduh teh apa, ya?





















