Di Balik Sosok Ibu dalam ‘Teach You a Lesson’, Ke Mana Peran Ayah?
Serial Korea Selatan Teach You a Lesson menampilkan berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan sekolah. Dalam 10 episodenya, serial ini mengangkat kasus yang berbeda-beda, mulai dari perundungan, penyalahgunaan kekuasaan, tekanan akademik, diskriminasi berdasarkan status sosial, hingga perilaku remaja yang berujung pada tindak kriminal. Meski setiap episode berdiri dengan konfliknya sendiri, semuanya terhubung melalui tokoh-tokoh utama yang berusaha melindungi guru dan murid dari berbagai bentuk ketidakadilan di dunia pendidikan.
Salah satu kekuatan serial ini adalah keberaniannya mengangkat persoalan yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Banyak isu yang ditampilkan tidak hanya relevan di Korea Selatan, tetapi juga mudah dikenali di Indonesia: tekanan orang tua terhadap prestasi anak, pengaruh perjudian daring terhadap remaja, hingga dilema hukum ketika pelaku kekerasan masih berusia di bawah umur.
Sekilas, konflik-konflik itu tampak sebagai persoalan sekolah. Namun bagi guru yang berhadapan langsung dengan murid setiap hari, satu kasus pelanggaran disiplin atau perundungan sering kali tidak berdiri sendiri. Di belakangnya ada persoalan keluarga, tekanan sosial, dan kegagalan orang dewasa memahami kebutuhan anak.
Dari episode ke episode, ada satu pola yang terus terlihat. Di balik berbagai persoalan yang dialami anak-anak dalam serial ini, figur orang tua yang paling sering muncul adalah ibu.
Ada ibu yang sangat ambisius terhadap masa depan anaknya hingga mengabaikan kebutuhan emosional mereka. Ada ibu yang merasa sedang melindungi anak, tetapi justru membenarkan perilaku yang salah. Ada pula ibu yang berjuang sekuat tenaga menjaga anaknya dari lingkungan yang membahayakan. Karakter-karakter ibu ini hadir dengan latar belakang dan motivasi yang berbeda. Namun mereka memiliki satu kesamaan: merekalah yang paling sering diminta bertanggung jawab atas kehidupan anak.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Drakor tentang Persahabatan yang Wajib Ditonton
Ketika ibu selalu diminta bertanggung jawab
Pertanyaannya kemudian muncul: ke mana peran ayah?
Pertanyaan ini mungkin terdengar klise. Namun dalam Teach You a Lesson, ketidakhadiran ayah terasa begitu biasa hingga nyaris tidak dipertanyakan. Bahkan ketika konflik anak berkaitan dengan keluarga, pendidikan, atau perilaku sosial, figur ayah sering kali berada di pinggir cerita, atau tidak hadir sama sekali.
Awalnya, hal ini bisa dianggap sebagai pilihan naratif penulis drama. Namun pola tersebut terasa akrab karena juga sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Di banyak keluarga, pengasuhan masih dipandang sebagai wilayah perempuan. Ketika seorang anak berprestasi, keberhasilan itu dianggap sebagai hasil kerja keras seluruh keluarga. Namun ketika anak mengalami masalah, pertanyaan yang muncul sering kali mengarah kepada ibu.
“Ibunya ke mana?”
“Apa ibunya tidak memperhatikan?”
“Mengapa ibunya tidak mengawasi anaknya?”
Pertanyaan serupa jauh lebih jarang diarahkan kepada ayah.
Padahal berbagai kajian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah memiliki pengaruh penting terhadap tumbuh kembang anak. Psikolog perkembangan Michael E. Lamb, yang banyak meneliti hubungan ayah dan anak, menjelaskan bahwa keterlibatan ayah berkontribusi pada perkembangan sosial, emosional, dan kognitif anak. Anak yang memiliki hubungan dekat dengan ayah cenderung memiliki kepercayaan diri yang lebih baik, kemampuan mengelola emosi yang lebih kuat, dan risiko perilaku bermasalah yang lebih rendah.
American Psychological Association juga mencatat bahwa keterlibatan ayah berkaitan dengan pencapaian akademik yang lebih baik, kesehatan mental yang lebih positif, serta kemampuan sosial yang lebih kuat pada anak. Dengan kata lain, peran ayah tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga. Anak juga membutuhkan kehadiran emosional, dukungan psikologis, dan keterlibatan aktif ayah dalam kehidupan sehari-hari.
Tantangan ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Data OECD menunjukkan bahwa perempuan Korea Selatan masih menghabiskan lebih banyak waktu untuk pekerjaan domestik dan pengasuhan dibandingkan laki-laki. Meskipun partisipasi perempuan dalam dunia kerja terus meningkat, pembagian tanggung jawab pengasuhan di dalam keluarga belum sepenuhnya setara.
Indonesia menghadapi persoalan serupa. Berbagai laporan UNICEF Indonesia dan kajian Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menunjukkan bahwa pengasuhan masih kerap dipandang sebagai tanggung jawab utama ibu. Akibatnya, banyak perempuan memikul beban ganda sebagai pekerja sekaligus pengasuh utama anak.
Baca juga: ‘Tsundere’ dalam Drama Korea dan Lagu Agnez Mo
Dari ruang kelas, ketidakhadiran itu terlihat
Sebagai guru, pola ini juga terlihat di sekolah. Dalam kasus pelanggaran disiplin, konflik antarsiswa, atau penurunan prestasi akademik, sekolah sering kali perlu mengundang orang tua untuk berdiskusi. Meskipun surat panggilan biasanya ditujukan kepada kedua orang tua, yang lebih sering hadir adalah ibu.
Tentu tidak ada yang salah dengan kehadiran ibu. Banyak ibu yang sangat kooperatif, bahkan ketika harus menerima kenyataan bahwa anaknya melakukan kesalahan atau terlibat dalam perilaku bermasalah. Mereka mendengarkan penjelasan sekolah, mencari solusi, dan mendampingi proses perbaikan anak.
Namun dalam beberapa kasus, kehadiran ayah dan ibu secara bersama membuat proses komunikasi jauh lebih efektif. Guru tidak perlu menyampaikan informasi melalui perantara salah satu pihak. Kedua orang tua dapat mendengar penjelasan yang sama, memahami situasi anak dari sumber yang sama, lalu mendiskusikan langkah yang perlu diambil bersama.
Ayah dan ibu juga sering membawa perspektif berbeda tentang anak. Ada ayah yang lebih menekankan konsekuensi dan tanggung jawab. Ada ibu yang lebih memahami perubahan perilaku sehari-hari, kondisi emosional, atau dinamika pergaulan anak di rumah. Ketika kedua perspektif itu hadir dalam satu ruang, diskusi menjadi lebih utuh dan solusi lebih mudah diterapkan.
Masalahnya, masih ada ayah yang merasa tidak perlu hadir karena urusan sekolah dianggap sebagai tanggung jawab ibu. Di titik inilah pembagian peran yang selama ini dianggap wajar ikut membentuk cara orang tua memandang keterlibatan mereka sendiri dalam pendidikan anak.
Pengalaman seperti ini membuat Teach You a Lesson terasa lebih dekat. Mungkin serial ini tidak secara khusus ingin membahas absennya ayah dalam pengasuhan. Namun tanpa disadari, ia memperlihatkan sesuatu yang juga terjadi di dunia nyata: kita terlalu terbiasa melihat ibu sebagai penanggung jawab utama kehidupan anak.
Akibatnya, ketika ibu hadir, itu dianggap kewajiban. Ketika ayah hadir, itu dianggap sesuatu yang istimewa.
Padahal, semestinya kehadiran keduanya sama-sama wajar.
Sekolah bukan hanya tempat anak mengejar nilai akademik. Sekolah adalah ruang tempat mereka belajar mengenal diri, membangun relasi sosial, menghadapi konflik, dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih matang. Dalam proses itu, anak membutuhkan dukungan dari kedua orang tuanya.
Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi sekadar “di mana peran ayah?” Pertanyaan itu sudah terlalu sering diulang tanpa menghasilkan perubahan berarti. Yang lebih penting adalah: mengapa kita begitu mudah menerima ketidakhadiran ayah dalam pengasuhan sebagai sesuatu yang wajar?
Selama pengasuhan masih dipandang sebagai tugas utama ibu, beban akan terus bertumpu pada satu pihak. Dan selama ayah masih diposisikan hanya sebagai pencari nafkah, anak-anak akan kehilangan salah satu sumber dukungan emosional yang mereka butuhkan untuk tumbuh dengan sehat.
Teach You a Lesson menawarkan banyak pelajaran tentang dunia pendidikan. Namun salah satu pelajaran yang paling membekas justru datang dari sesuatu yang tidak banyak dibicarakan: tentang orang tua yang hadir, dan tentang orang tua yang ketidakhadirannya terlalu sering dimaklumi.
Ira Karunia, 31 tahun, adalah guru aktif yang senang berbagi gagasan melalui tulisan dan bercita-cita mendorong pendidikan yang lebih baik melalui literasi.




















