11/07/2026
Community Update

Perempuan Masih Sulit Tembus Kursi Pimpinan Perusahaan, Mengapa?

Sensus terbaru BEI dan IBCWE menunjukkan keterwakilan perempuan di posisi kepemimpinan eksekutif perusahaan IDX200 masih stagnan di angka 15 persen dalam empat tahun terakhir.

  • June 18, 2026
  • 3 min read
  • 484 Views
Perempuan Masih Sulit Tembus Kursi Pimpinan Perusahaan, Mengapa?

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) meluncurkan temuan awal Census on Women in Executive Leadership Team (ELT) in IDX200 Companies 2022–2025 di Jakarta pada 15 Juni 2026. Riset yang menelaah laporan tahunan dan laporan keberlanjutan 200 perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI ini bertujuan memetakan keterwakilan perempuan di jajaran kepemimpinan eksekutif sekaligus mendorong kesetaraan gender menjadi bagian penting dari agenda environmental, social, and governance (ESG).

Baca juga: Kesetaraan Gender itu Ternyata Bukan Cuma Mimpi, Asal….

Temuan sensus menunjukkan representasi perempuan di level kepemimpinan tertinggi perusahaan masih bergerak lambat. Dari 1.094 anggota ELT di perusahaan IDX200 pada 2025, hanya 164 orang atau sekitar 15 persen yang merupakan perempuan. Angka tersebut nyaris tidak berubah dibandingkan 2022.

Stagnasi juga terlihat pada posisi pucuk pimpinan perusahaan. Hingga 2025, hanya 11 dari 200 perusahaan yang dipimpin CEO perempuan, jumlah yang sama seperti empat tahun lalu.

Dalam rilis resmi yang diterima Magdalene, Komisaris Utama BEI Nurhaida mengatakan sensus ini merupakan upaya memperkuat transparansi sekaligus memperkaya basis data mengenai peran perempuan di posisi eksekutif. Menurutnya, data yang lebih terbuka diperlukan untuk memantau perkembangan keterwakilan perempuan dalam pengambilan keputusan di perusahaan.

Senada, Advisory Board IBCWE Andrie Darusman menilai pelaporan data gender tidak seharusnya berhenti sebagai kewajiban administratif. Ia menyebut data tersebut perlu dimanfaatkan sebagai alat akuntabilitas yang membantu perusahaan mengidentifikasi hambatan karier perempuan serta mengukur kemajuan secara berkelanjutan.

Dalam pemaparan hasil sensus, Direktur BOI Research Services Indonesia Dian Irawati menyoroti lambatnya peningkatan jumlah CEO perempuan di perusahaan-perusahaan terbesar Indonesia. Menurutnya, kenaikan dari delapan menjadi sebelas CEO perempuan dalam empat tahun belum dapat dianggap sebagai kemajuan yang signifikan jika dibandingkan dengan total 200 emiten yang dianalisis.

Baca juga: Bagaimana Meritokrasi Bantu Ciptakan Kesetaraan di Tempat Kerja?

Pelaporan Gender Belum Cukup

Temuan sensus juga menjadi bahan diskusi dalam panel yang menghadirkan perwakilan BEI, FIHRRST, dan PT BUMA International Group Tbk. Para pembicara menilai pelaporan gender perlu berkembang dari sekadar pemenuhan regulasi menjadi instrumen yang mampu mendorong perubahan nyata di lingkungan perusahaan.

Selain menjadi indikator penting dalam penilaian ESG oleh investor, pelaporan gender dinilai dapat membantu perusahaan memetakan jalur kepemimpinan perempuan. Data tersebut juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi hambatan struktural yang dihadapi pekerja perempuan serta menyusun target yang lebih terukur.

Para pembicara turut menyoroti pentingnya sponsorship dari pimpinan perusahaan untuk membuka lebih banyak peluang bagi perempuan. Dukungan ini dinilai krusial, terutama di sektor-sektor yang masih didominasi laki-laki dan memiliki kesenjangan representasi yang tinggi.

Di akhir acara, IBCWE menegaskan data yang terkumpul menunjukkan perempuan memiliki kapasitas dan kesiapan untuk menduduki posisi kepemimpinan. Tantangan utamanya, menurut mereka, tidak lagi terletak pada individu, melainkan pada kesiapan sistem dan budaya perusahaan dalam membuka ruang kepemimpinan yang lebih setara.

About Author

Chika Ramadhea