‘Kokuho’: Kritik Patriarki atau Sekadar Romantisasi Ambisi Maskulin?
Gema bunyi hyoshigi yang membelah keheningan panggung Kabuki selalu menyimpan daya magis. Ia menghadirkan resonansi sejarah panjang seni pertunjukan Jepang yang telah berusia lebih dari empat abad. Ketika Lee Sang-il mengumumkan adaptasi Kokuho (National Treasure) dan film ini kemudian dipilih sebagai perwakilan Jepang di ajang Oscar, ekspektasi pun melambung tinggi.
Film ini menjanjikan epik visual tentang Kabuki sekaligus potret psikologis seniman di balik riasan tebal dan kostum megah. Namun hasil akhirnya menghadirkan pengalaman yang jauh lebih kompleks. Kokuho berdiri sebagai paradoks: Pencapaian sinematik yang memukau sekaligus narasi tentang ambisi maskulin.
Secara garis besar, Kokuho mengikuti perjalanan Kikuo (Ryo Yoshizawa), anak keluarga yakuza Tachibana yang setelah kematian ayahnya diasuh oleh maestro Kabuki, Hanjiro Hanai. Ia tumbuh bersama Shunsuke, putra kandung Hanjiro, dalam tradisi yang sangat hierarkis dan diwariskan secara ketat melalui garis keturunan.
Sejak awal, tujuan Kikuo jelas: menjadi aktor Kabuki terbaik hingga dinobatkan sebagai Kokuho, “Harta Karun Nasional yang Hidup.” Narasi tentang ambisi absolut seperti ini bukan hal baru dalam sejarah sinema. Dari A Star is Born (1937), The Red Shoes (1948), hingga Whiplash (2014), kisah tentang seniman yang membakar dirinya demi pencapaian tertinggi selalu memiliki daya tarik dramatis yang kuat.
Namun medan tempur Kikuo lebih terjal. Ia tidak memiliki blood privilege. Dalam tradisi Kabuki yang sarat garis keturunan, statusnya sebagai anak asuh membuatnya harus bekerja jauh melampaui batas kewajaran demi pengakuan. Ia menghancurkan dirinya sendiri dalam proses itu. Pengorbanannya tidak hanya fisik dan mental, tetapi juga relasional, termasuk hilangnya Shunsuke, figur yang secara emosional menjadi belahan jiwanya.
Ambisi Kikuo bergerak tanpa rem. Film ini membingkai perjalanannya sebagai sesuatu yang hampir sakral. Setiap keputusan ekstremnya diposisikan sebagai konsekuensi logis demi lahirnya seniman agung. Di titik inilah muncul pertanyaan: apakah film ini sedang mengkritik struktur patriarki Kabuki, atau justru tanpa sadar meromantisasi ego maskulin yang destruktif?

Baca Juga: Review ‘Suzume’: Surat Cinta Makoto Shinkai untuk Rakyat Jepang
Romantisasi “The Burning Artist” dan Penghapusan Perempuan
Sepanjang film, karakter perempuan hadir sebagai istri, kekasih, atau figur pendukung emosional. Mereka memiliki pengaruh terhadap perjalanan Kikuo, tetapi jarang diberi ruang agensi yang utuh. Kehadiran mereka sering kali berfungsi sebagai penyangga emosional bagi ambisi laki-laki.
Sachiko Ōgaki (Shinobu Terajima), istri Hanjiro dan ibu kandung Shunsuke, menjadi contoh paling jelas. Ia berkali-kali dipaksa mengalah demi keputusan laki-laki di sekitarnya. Hanjiro mengambil Kikuo sebagai murid tanpa persetujuannya. Puncaknya, ketika Hanjiro menunjuk Kikuo sebagai penerus takhta panggung, Sachiko tidak memiliki ruang tawar.
Keputusan tersebut menghancurkan ikatan keluarga yang sejak awal sudah rapuh. Sachiko berulang kali mengingatkan risiko konflik, tetapi otoritas patriarki dalam rumah Kabuki Kamigata menempatkan kelangsungan seni di atas stabilitas keluarga.
Perempuan-perempuan lain di sekitar Kikuo mengalami pola serupa. Harue, kekasih masa kecilnya. Fujikoma, geisha yang mencintainya hingga melahirkan putrinya, Ayano. Akiko, putri investor Kabuki yang menjalin relasi dengannya saat ia terpuruk. Mereka hadir sebagai penyembuh kesepian, pemberi dukungan emosional, atau jembatan sosial. Namun ketika ambisi kembali memanggil, mereka ditinggalkan.
Khusus dalam relasinya dengan Akiko, film memperlihatkan bagaimana cinta digunakan sebagai alat tawar. Di titik terendah kariernya, Kikuo memanfaatkan koneksi Akiko untuk kembali masuk ke lingkaran Kabuki. Relasi tersebut memperlihatkan bagaimana ambisi artistik dan kalkulasi sosial berjalan berdampingan.
Situasi ini mengingatkan pada dikotomi Simone de Beauvoir dalam The Second Sex. Laki-laki kerap diposisikan sebagai subjek transenden, agen yang bergerak maju, mencipta sejarah, menembus batas. Perempuan direduksi menjadi entitas imanen, terikat pada pengelolaan tubuh, emosi, dan stabilitas domestik.
Dalam semesta Kokuho, Kikuo bergerak vertikal menuju transendensi artistik. Mobilitasnya dimungkinkan karena perempuan-perempuan di sekitarnya menjaga fondasi emosionalnya. Mereka tetap “membumi” agar ia bisa “melayang”.

Baca juga: Surat Cinta Buat Doraemon, Karakter Kartun Revolusioner
Sejarah Kabuki dan Akar Misogini yang Direplikasi
Ironi terbesar film ini terletak pada fakta bahwa Kikuo adalah seorang onnagata—aktor laki-laki yang mengkhususkan diri memerankan perempuan. Ia mendedikasikan hidupnya untuk menampilkan feminitas di panggung, tetapi perempuan nyata di sekitarnya justru tersingkir dari pusat narasi.
Secara historis, Kabuki justru lahir dari tangan perempuan. Izumo no Okuni memperkenalkan bentuk awal Kabuki pada 1603 di Kyoto. Dalam penelitian Sex, Androgyny, Prostitution and the Development of Onnagata Roles in Kabuki Theatre (2006), Sara K. Birk menjelaskan bagaimana pertunjukan Okuni bersifat inklusif dan eksploratif terhadap gender.
Katherine Mezur dalam Beautiful Boys/Outlaw Bodies: Devising Kabuki Female-Likeness (2005) juga mencatat bagaimana penampilan kelompok Okuni menantang norma gender dan kelas sosial.
Namun Keshogunan Tokugawa melihatnya sebagai ancaman terhadap tatanan Konfusianisme yang menempatkan perempuan pada posisi subordinat. Pada abad ke-17, perempuan dilarang tampil di panggung Kabuki. Sejak saat itu, laki-laki mengambil alih dan menciptakan tradisi onnagata.
Struktur ini melanggengkan idealisasi perempuan versi patriarki—feminitas yang dibentuk dan dimainkan oleh laki-laki, sementara perempuan nyata tersingkir dari panggung.

Baca Juga: 8 Drama Korea Detektif yang Seru dan Menegangkan
Perjalanan Kikuo mereplikasi pola tersebut. Ia membangun reputasi melalui peran perempuan, tetapi perempuan di kehidupannya kehilangan agensi dan suara. Sistem yang mengagungkan onnagata pada akhirnya tetap berpusat pada laki-laki.
Pada akhirnya, nilai Kokuho bergantung pada cara pembacaannya. Film ini bisa dibaca sebagai refleksi tajam tentang bagaimana patriarki bekerja secara sistemik dalam tradisi seni. Namun ia juga berisiko terjebak dalam romantisasi ambisi maskulin yang dibalut sinematografi megah.
Di antara kritik dan perayaan, Kokuho berdiri dalam ambiguitas yang sulit diabaikan.





















