Rugikan Kelompok Rentan, Perempuan Aktivis Kecam Serangan AS-Israel ke Iran
Foto oleh Atta Kenare / AFP
Dua aktivis perempuan, Mutiara Ika Pratiwi dan Astried Permata, mengecam agresi militer Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran. Serangan tersebut dinilai berpotensi memperparah krisis kemanusiaan serta meningkatkan jumlah korban, terutama di kalangan perempuan dan anak-anak.
Ika Pratiwi mengatakan dalam lima hari serangan terakhir jumlah korban tewas di Iran terus meningkat. “Berdasarkan data otoritas lokal, ada 1045 orang dilaporkan meninggal dunia akibat pemboman intensif yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel,” ucap Ika Pratiwi dalam keterangan resmi yang diterima Magdalene (5/3).
Ika, yang juga menjabat Ketua Perempuan Mahardhika Nasional, menilai serangan tersebut tidak hanya memicu krisis politik tetapi juga memperdalam krisis kemanusiaan di Iran. Ia memperingatkan dampaknya dapat meluas ke berbagai negara di kawasan Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Arab Saudi, Yordania, Irak, Kuwait, dan Lebanon.
Menurut Ika, perang hampir selalu membawa dampak paling besar bagi kelompok rentan, terutama perempuan dan anak-anak.
“Hak-hak perempuan telah direnggut oleh bom Amerika Serikat-Israel, perempuan kehilangan hak hidup, anak, pasangan, orang tua, keluarga dan orang-orang yang dicintai. Perang imperialis adalah wajah patriarki di mana penguasaan senjata dan militerisasi telah menghancurkan tubuh dan hidup perempuan. Hanya rakyat Iranlah yang berhak untuk melawan rezim Iran,” ungkapnya.
Ia juga menilai narasi yang disampaikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait serangan terhadap Iran tidak dapat dibenarkan. Serangan tersebut, menurutnya, tidak dilakukan demi kebebasan rakyat Iran. Selama ini perempuan Iran justru berada di garis depan gerakan melawan rezim yang dianggap anti demokrasi dan mengekang hak-hak perempuan.
“Ini bukan tentang kebebasan dan kehidupan, tetapi tentang kolonialisasi terhadap sebuah bangsa. Sama seperti yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Palestina, Ukraina, Vene, Kuba, Irak, dan Afganistan. Ini merupakan upaya untuk menguasai sumber daya alam, khususnya minyak,” katanya.
Ika menegaskan setiap bangsa memiliki hak menentukan nasib sendiri tanpa intervensi negara lain. Karena itu ia mendorong pemerintah Indonesia mengambil sikap tegas dalam membela hak asasi manusia serta kedaulatan bangsa.
Salah satu langkah yang diusulkan ialah menarik diri dari keanggotaan Board of Peace (BoP) yang dibentuk Amerika Serikat.
Baca Juga: Apa Dampaknya Perang AS-Iran Buat Warga Lemah Ekonomi Indonesia?
Perempuan dan Anak Kian Rentan
Sementara itu, Communication Officer Jakarta Feminist Astried Permata menilai serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran mencerminkan dominasi maskulinitas beracun dalam politik internasional.
Menurut Astried, pendekatan militer yang dipilih Donald Trump menunjukkan kecenderungan kepemimpinan yang lebih mengutamakan kekuatan militer dibanding diplomasi. Ia menilai gaya kepemimpinan tersebut memperlihatkan penekanan pada kekuatan bersenjata dalam merespons konflik internasional.
“Trump mengejawantahkan maskulinitas melalui pendekatan militeristik dibandingkan diplomasi. Klaimnya melindungi bangsa dan menjaga martabat Amerika Serikat dari ancaman Iran. Termasuk klaim membebaskan rakyat Iran dari penderitaan,” katanya kepada Magdalene (6/3).
Astried menilai tindakan militer tersebut bukan hal baru dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Ia menyebut sebelumnya Amerika Serikat juga mendukung invasi Israel ke Palestina serta melakukan berbagai intervensi di kawasan Timur Tengah.
Menurutnya, perang sering memaksa masyarakat sipil meninggalkan rumah dan mencari tempat aman, atau mengungsi. Situasi pengungsian kerap menjadi ruang yang rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan berbasis gender.
“Di pengungsian, perempuan rentan terhadap kekerasan berbasis gender, sanitasi yang buruk, serta masalah kesehatan seksual dan reproduksi. Jadi dampak perang tidak hanya kematian, tetapi juga krisis sosial dan kesehatan,” ujarnya.
Baca Juga: Konflik Iran-Israel: Akankah Dunia Masuk Perang Dunia III?
Astried menilai serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran merupakan bentuk pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia karena mengorbankan kehidupan serta kesejahteraan masyarakat sipil.
“Kami bersolidaritas dengan perempuan-perempuan di Iran dan di Timur Tengah, secara umum serta rakyat Iran yang sedang melawan imperialisme Amerika Serikat dan Israel. Yang melawan segala bentuk kekerasan dan pendekatan yang maskulin,” ujarnya.
Di sisi lain, Astried juga mengkritik kebijakan pemerintahan Trump yang dinilai lebih memprioritaskan anggaran militer dibanding sektor kesejahteraan masyarakat.
Menurut Astried, dana besar untuk perang seharusnya dapat dialokasikan bagi kebutuhan yang lebih mendesak seperti kesehatan dan pendidikan, terutama bagi perempuan.
Selain itu, ia menyoroti penutupan lembaga bantuan internasional United States Agency for International Development (USAID) oleh pemerintahan Trump, yang dinilai berdampak pada pengalihan anggaran ke sektor militer.
“Ini kekhasan gaya pemerintahan yang maskulin, tidak sensitif terhadap gender, dan lebih memprioritaskan perang dengan alasan ketegasan dan pembelaan terhadap Amerika,” kata Astrid.
Baca Juga: Kematian Mahsa Amini: Perempuan Iran Makin Solid Tuntut Perubahan Transformatif
Astried juga mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan langkah tegas terhadap konflik tersebut. Menurutnya, respons internasional diperlukan agar invasi semacam ini tidak menjadi preseden bagi negara lain.
“Jika dibiarkan, tindakan ini bisa dicontoh negara-negara lain. Karena itu, harus ada konsekuensi serius dalam merespon invasi ke Iran,” katanya.
Ia turut mengkritik langkah Presiden Prabowo Subianto yang bergabung dalam BoP. Menurut Astried, kebijakan tersebut bertentangan dengan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas dari intervensi negara lain.





















