07/07/2026
Issues Politics & Society

Akal-akalan AS dan Israel: Klaim Sesat Perang Iran yang Jauh dari Kenyataan

Amerika dan Israel selalu membingkai perang perlu dilakukan demi kebaikan dunia. Padahal, klaim-klaim ini tak lebih sebagai hasil delulu para pemimpinnya.

  • March 11, 2026
  • 7 min read
  • 716 Views
Akal-akalan AS dan Israel: Klaim Sesat Perang Iran yang Jauh dari Kenyataan

Selang beberapa jam setelah misil Amerika Serikat (AS) dan Israel menghantam Iran pada (28/2), Presiden Donald Trump menyatakan serangan tersebut dilakukan demi kebaikan. Ia mengklaim langkah itu bertujuan melindungi AS dan sekutunya dari pemerintah Iran yang dinilai berbahaya.

Trump bilang, di bawah pemerintahannya, Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Menurutnya, rezim di Teheran merupakan ancaman besar bagi stabilitas kawasan.

Ia juga menilai perjanjian nuklir yang sedang berjalan tidak lagi menghasilkan kemajuan berarti bagi kepentingan AS. Selain itu, Trump menyebut serangan tersebut juga berkaitan dengan upaya membebaskan warga Iran dari pemerintahan yang ia sebut otoriter.

Trump menyinggung represi pemerintah Iran terhadap demonstran dan mengatakan kebebasan bagi rakyat Iran akan segera datang.

“Kepada masyarakat Iran yang terhormat, saya menyatakan, kebebasan akan berada di tangan kalian beberapa jam lagi. Tetap tinggal di rumah, karena bom akan berjatuhan, sangat berbahaya. Saat kami selesai meruntuhkan pemerintah negara kalian, itu adalah saatnya kalian mengambil alih,” ujarnya, dilansir dari CBS News.

Baca juga: Apa Dampaknya Perang AS-Iran Buat Warga Lemah Ekonomi Indonesia? 

Realitas

Tak hanya Trump, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menyambut kematian Ayatollah Ali Khamenei dengan nada kemenangan. Ia menyebut pemimpin tertinggi Iran itu sebagai bagian dari rezim yang “menyebarkan teror di dunia selama lebih dari tiga dekade.”

Namun bagi Netanyahu, kematian Khamenei belum cukup. Ia mengaku masih memiliki ratusan target yang akan diserang dalam beberapa hari ke depan.

Tujuannya, kata Netanyahu, untuk membuka jalan bagi warga Iran menggulingkan pemerintahan yang ia sebut tirani.

“… membuat kondisi untuk warga Iran membebaskan diri dari cengkraman tirani. Jadi warga Iran, jangan membuang-buang kesempatan ini. Ini adalah kesempatan yang jarang terjadi, jangan hanya duduk diam karena momentum akan datang kepada kalian,” kata Netanyahu, dilansir dari PBS.

Meski rezim Iran terguncang setelah kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, harapan akan lahirnya situasi yang lebih damai justru jauh dari kenyataan.

Serangan misil yang seharusnya menargetkan objek pemerintahan justru menghantam sebuah sekolah khusus perempuan. Serangan itu menewaskan 165 murid dan pekerja sekolah. Alih-alih memicu gelombang protes untuk merebut kekuasaan, masyarakat Iran justru diliputi duka. Pemakaman massal digelar di alun-alun kota Minab untuk mengenang para korban.

Menurut laporan Al Jazeera, ribuan warga dan aparat sipil menghadiri upacara tersebut.

Di atas panggung, seorang ibu mengangkat foto anaknya sambil berkata, “ini adalah dokumen perbuatan kriminal Amerika.”

Hingga (7/3), serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran dilaporkan menyebabkan 1.322 kematian.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, turut mengunggah foto lubang-lubang kubur baru di platform X. Unggahan itu ia kaitkan dengan klaim AS yang menyebut serangan dilakukan demi menyelamatkan rakyat Iran.

“Ini adalah realitas ‘penyelamatan’ yang dijanjikan oleh Trump. Dari Gaza ke Minab, orang tak bersalah dibunuh tanpa ampun,” tulis Araghchi.

Baca juga: Amber Glenn dan Tabu Menstruasi yang Hambat Atlet Perempuan 

Klaim Sesat 

Klaim yang melenceng dari pengejawantahan di lapangan bukan yang pertama kali bagi AS dan Israel. Perang Irak yang diinisiasi AS dan sekutunya untuk menumbangkan rezim Saddam Hussein pada 2003, memiliki pola yang serupa. Presiden AS kala itu, George W Bush menuduh Irak menyimpan senjata pemusnah massal yang bisa mengganggu stabilitas dunia.  

Melansir BBC, senjata pemusnah massal yang dikatakan Bush tak pernah ditemukan bahkan setelah perang berakhir. AS menarik mundur pasukannya pada 2011 dan meninggalkan Irak dalam kondisi perang saudara antara Syiah dan Sunni.  

Begitu juga dengan Israel. Bombardir yang dilakukan pada Gaza didasari pada serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023. Netanyahu selalu bilang, ini adalah cara Israel melindungi diri. Sayangnya, ‘perlindungan diri’ yang dilakukan Israel tak masuk akal jika melihat puing-puing sekolah dan rumah sakit di Gaza.  

Makanya, retorika Trump dan Netanyahu tidak lagi membuat Pakar Gender, HAM dalam Hubungan Internasional, Ani Soetjipto terkejut. Dua negara ini punya rekam jejak mengumumkan wacana yang melenceng dari kenyataan di lapangan.  

“Israel dan AS kalau mau agresi itu narasinya pasti menegakkan HAM, demokrasi, melawan teroris, atau melawan rezim diktator yang kejam,” kata Ani ketika dihubungi Magdalene pada (4/3).  

“Tujuan aslinya pasti bukan itu. Selalu ada tujuan politik, memperluas pengaruh atau tujuan ekonomi juga penguasaan sumber daya alam mineral,” lanjutnya.  

Baca juga: Narasi Basi ‘Balap Liar’ Usai Bunuh Warga, Kenapa Polisi Ulangi Pola yang Sama? 

Tujuan asli  

Tak serupa perang Irak yang bertujuan mendapatkan sumber daya, Israel dan AS kali ini ingin melemahkan dukungan ke Palestina. Meski begitu, inkonsistensi Trump setiap membuat alasan perang, dapat dibaca sebagai kebingungan.  

Ani menilai, perang ini adalah milik Israel. Iran, sebagai negara yang konsisten membela Palestina, berupaya dibuat tidak stabil. Pengganti Khamenei diekspektasikan tak selantang itu dalam perjuangan memerdekan Palestina.  

“Jadi perang ini bukan perang agama, Islam-Kristen, Sunni-Syiah, bukan soal demokrasi dan nondemokrasi, tapi soal settler kolonialisme Israel yang didukung AS untuk memperluas kekuasaan di seluruh wilayah timur tengah,” jelasnya.  

Peran utama AS dalam perang ini hanya membantu, kata Ani. Ini dibaca dari Trump yang tidak konsisten dalam memberi pernyataan: Pergantian rezim, nuklir, hingga terakhir kepercayaan bahwa Iran akan mengambil alih Timur Tengah sebelum AS dan Israel menyerang.  

Sinyal Trump pun tak jelas terkait berakhirnya perang ini. Melansir CBS, Trump berkata perang dengan Iran sudah usai, (9/3). Namun, melansir NPR, di hari yang sama ia mengeklaim sudah menang banyak, tetapi masih belum cukup.  

“Kita akan terus maju, tidak pernah lebih yakin dari sebelumnya, untuk merebut kemenangan yang absolut untuk mengakhiri bahaya ini selamanya,” kata Trump.  

Ani tak yakin AS akan bertahan lama dalam perang Iran. Apalagi di tengah tekanan dari DPR dan masyarakat yang keras. Beberapa negara bagian AS menggelar demonstrasi, mendesak pemerintah mengakhiri perang. Aljazeera melaporkan, peserta aksi di New York tidak merasa keputusan Trump membuat Timur Tengah dan AS lebih aman.  

Survei yang dilakukan Reuters mencatat, hanya 27 persen warga AS yang menyetujui perang Iran. Angka tidak setuju berada di 43 persen, sementara sisanya menjawab tidak yakin. Sementara di DPR dan senat, tentangan memang belum terasa karena didominasi oleh Partai Republikan.  

Namun, Ani berkata, konsekuensi yang akan dihadapi Trump terkait perang Iran bergantung pada pemilu legislatif yang akan diselenggarakan November nanti. “Kalau seandainya suara demokrat bisa mayoritas di senat dan DPR, akan lebih mudah buat mengenakan sanksi ke Trump.”  

About Author

Andrei Wilmar

Andrei Wilmar bermimpi buat jadi wartawan desk metropolitan.