Menerima sebuah diagnosis gangguan mental bukanlah proses yang instan. Setidaknya, itu yang saya pelajari dalam satu tahun terakhir. Sebuah periode yang penuh kebingungan, ketakutan, dan penolakan yang justru paling keras datang dari dalam diri saya sendiri.
Perjalanan itu bermula dari sebuah kejadian yang tidak pernah saya bayangkan akan mengubah hidup saya: saya dibegal di jalan. Peristiwa itu meninggalkan bekas yang jauh lebih dalam dari sekadar luka fisik. Tidak lama setelahnya, saya mulai mendengar suara-suara yang seolah mengelilingi kepala saya, yang terasa nyata, seolah ada seseorang yang berbicara langsung kepada saya. Saat itu, saya tidak punya kerangka pemahaman untuk menjelaskan apa yang terjadi. Yang saya tahu hanyalah bahwa sesuatu terasa sangat salah.
Baca juga: Review ‘Daily Dose of Sunshine’: Perbincangan Penting dan Jujur tentang Kesehatan Mental
Keluarga saya merespons dengan cara yang mereka pahami: membawa saya untuk diruqiah. Saya tidak menyalahkan mereka. Dalam banyak konteks budaya kita, gangguan seperti ini sering dikaitkan dengan hal-hal spiritual, dan kami semua hanya berusaha mencari jalan keluar dari sesuatu yang tidak kami mengerti. Tapi setelah beberapa waktu, saya menyadari bahwa apa yang saya alami tidak sepenuhnya bisa dijelaskan dari sana.
Episode kedua datang dari tempat yang berbeda. Di lingkungan kerja baru, sebuah kesalahpahaman berujung pada sindiran-sindiran yang terus saya rasakan. Entah itu benar-benar terjadi atau diperbesar oleh persepsi saya sendiri. Yang jelas, saya mulai merasa tertekan dan diawasi. Saya mencurigai bahwa laptop dan ponsel saya disadap, dan tenggelam dalam ketakutan yang tidak bisa saya jelaskan secara logis.
Di sinilah saya akhirnya memutuskan untuk memeriksakan diri ke poli jiwa. Itu bukan keputusan yang mudah. Ada rasa takut akan stigma, rasa malu, dan keraguan, apakah saya benar-benar “seburuk” itu sampai harus ke psikiater? Namun saya tahu, saya tidak bisa terus hidup dalam kondisi seperti itu.
Awalnya, saya didiagnosis dengan skizofrenia. Mendengar kata itu saja sudah cukup membuat dunia saya terasa runtuh. Setelah observasi lebih lanjut, dokter menyimpulkan bahwa kondisi saya lebih tepat dikategorikan sebagai gangguan afektif bipolar. Di satu sisi, saya merasa sedikit lega mendapat penjelasan yang lebih jelas. Di sisi lain, saya dihadapkan pada kenyataan baru yang tidak kalah berat.
Dokter berpesan, jangan menghindar, dan jangan menyangkal penyakitmu. Kalimat itu sederhana, tapi saat itu saya melakukan kebalikannya. Saya menolak dengan keras dan sungguh-sungguh. Saya tidak mau membayangkan bahwa saya harus bergantung pada obat setiap hari, mungkin seumur hidup. Bagi saya, itu terasa seperti kehilangan kendali atas hidup sendiri.
Ada ketakutan tentang masa depan, tentang bagaimana orang lain akan memandang saya, tentang apakah saya masih bisa menjalani hidup yang “normal.” Penolakan itu tidak datang dari orang lain. Ia datang dari dalam diri saya sendiri, dan itu yang paling melelahkan.
Namun waktu perlahan mengajarkan sesuatu yang tidak bisa dipelajari dalam satu malam. Bahwa menerima bukan berarti menyerah atau tanda kelemahan, melainkan sebuah bentuk keberanian.
Baca juga: “Sepertinya Saya Bipolar”: Bahaya Diagnosis Mandiri Gangguan Mental
Saya mulai belajar untuk melihat kondisi ini bukan sebagai hukuman, tetapi sebagai bagian dari diri saya yang perlu saya pahami dan rawat. Saya mengikuti anjuran dokter untuk rutin minum obat dan menjaga pola hidup yang lebih stabil. Prosesnya tidak selalu mudah/ Ada hari-hari di mana saya merasa lelah, ada saat-saat di mana saya ingin berhenti. Tapi sedikit demi sedikit, saya mulai merasakan perubahan.
Yang paling terasa adalah ketenangan. Ketika saya berhenti menyangkal dan mulai menerima, hati saya menjadi lebih ringan. Saya tidak lagi berperang dengan diri sendiri setiap hari.
Saya juga mulai berdamai dengan stigma. Dulu, saya sangat takut dianggap “tidak normal” atau dijauhi. Tapi seiring waktu, saya menyadari bahwa pemahaman orang tentang kesehatan mental memang belum merata, dan yang bisa saya kendalikan hanyalah bagaimana saya memandang diri saya sendiri.
Belajar menerima diagnosis adalah proses yang sangat personal. Tidak ada garis waktu yang pasti, tidak ada cara yang benar atau salah. Satu hal yang saya yakini sekarang adalah, penolakan dari diri sendiri bisa menjadi hambatan terbesar. Dan ketika kita akhirnya bisa melewatinya, ada ruang yang terbuka—ruang untuk sembuh, untuk tumbuh, dan untuk hidup dengan lebih damai.





















