Lebaran memang sudah lewat. Ketupat sudah habis, grup keluarga kembali sepi, dan foto-foto seragam hari raya pelan-pelan tenggelam di linimasa. Namun, bagi sebagian orang, ada yang tidak ikut selesai setelah hari raya usai—rasa sesak, lelah, malu, marah, dan sedih yang tertinggal diam-diam setelah serangkaian pertemuan keluarga.
Di banyak keluarga, Lebaran bukan hanya tentang maaf-maafan dan silaturahmi, melainkan juga panggung evaluasi hidup yang dibungkus basa-basi. Pertanyaan datang seperti rutinitas tahunan: kapan menikah, kenapa belum punya anak, kok sekarang gemukan, kerjaan masih yang itu, habis cerai belum nikah lagi. Semua diucapkan sambil tersenyum, seolah ringan, seolah wajar, seolah semua orang harus tahan menerimanya.
Bagi penyintas depresi, komentar-komentar itu bukan sekadar basa-basi. Ambil contoh komentar soal berat badan—bagi orang yang mengonsumsi antidepresan, kenaikan berat badan sering kali adalah efek samping yang tidak bisa dihindari, bukan tanda kurang gerak atau kebanyakan makan. Ucapan seperti “Kok pangling, makin subur ya sekarang?” mungkin terdengar sepele bagi yang mengucapkannya. Namun bagi penyintas depresi, itu bisa menjadi konfirmasi atas rasa tidak berdaya terhadap tubuh sendiri. Yang bertambah bukan hanya angka di timbangan, tetapi juga beban mental karena merasa tidak memenuhi standar ideal keluarga besar.
Hal yang sama berlaku untuk pertanyaan soal pernikahan, perceraian, atau pilihan hidup lainnya. Dalam budaya kita, batasan pribadi sering dianggap sebagai sikap kebarat-baratan atau arogansi. Menolak menjawab bisa membuat seseorang dicap baperan atau tidak sopan. Padahal, bagi penyintas depresi, menjaga energi untuk tetap hadir secara fisik di tengah keramaian saja sudah merupakan pencapaian besar. Maka ketika seseorang dipaksa menjelaskan hal-hal yang sensitif di hadapan seluruh keluarga besar, itu bukan lagi basa-basi. Itu adalah bentuk perundungan terselubung yang nyata—dan yang lebih menyakitkan, sering dilakukan oleh orang-orang yang mengaku paling peduli.
Baca juga: Tak Ada Hari Libur bagi Perempuan, Bahkan Saat Liburan
Ketika hari raya menjadi pemicu
Ada beberapa alasan psikologis mengapa momen yang seharusnya damai justru bisa memicu depresi. Pertama, kelelahan sosial. Berinteraksi dengan banyak orang dalam waktu singkat sangat menguras energi mental, apalagi bagi mereka yang sedang berjuang dengan masalah kesehatan mental atau menjalani pengobatan. Keramaian yang bagi sebagian orang terasa menyenangkan, bagi sebagian lainnya terasa seperti maraton tanpa garis finis.
Kedua, perbandingan yang tak ada habisnya. Melihat sepupu yang dianggap lebih sukses secara materi, karier, atau status pernikahan bisa memicu suara-suara negatif dalam diri. Ini bukan soal iri atau kurang bersyukur, melainkan tekanan batin yang muncul ketika hidup terus-menerus diukur dengan standar orang lain—dan pengukuran itu terjadi di depan umum, di ruang tamu yang sama, di meja makan yang sama.
Ada pula yang disebut disonansi emosional: tekanan untuk terlihat bahagia karena ini hari raya, sementara di dalam hati justru merasa kosong, hampa, atau kewalahan. Kontradiksi antara apa yang dirasakan dan apa yang harus ditampilkan ini sangat melelahkan, dan harus dijalani sepanjang hari penuh.
Lalu, bagaimana melindungi kesehatan mental tanpa harus memutus tali persaudaraan? Pertama, tentukan batas waktu. Kita tidak harus tinggal dari pagi sampai malam. Beri diri sendiri izin untuk pulang lebih awal ketika kapasitas mental sudah mencapai batasnya—dan tidak perlu merasa bersalah karenanya.
Siapkan juga jawaban “template” untuk pertanyaan yang menyudutkan—singkat, sopan, tapi tegas. Misalnya, “Doakan saja yang terbaik ya, Tante,” lalu segera alihkan topik. Tidak perlu menjelaskan, tidak perlu membuka diskusi lebih jauh. Kalau memungkinkan, carilah safe person: satu orang di antara keluarga yang memahami kondisi kita. Kehadiran satu orang yang membuat kita merasa aman bisa menjadi jangkar di tengah keramaian yang menguras.
Baca juga: Ada Budaya Performatif dalam Industri Lebaran yang Jerat Kelas Menengah
Mengembalikan marwah silaturahmi
Pada akhirnya, kita perlu bertanya: apa yang sebenarnya kita cari dari ritual tahunan Lebaran ini? Silaturahmi berakar pada gagasan menyambung kasih sayang—dan karena itu, semestinya ia menjadi jembatan yang menguatkan, bukan ruang penghakiman yang memicu kecemasan.
Masalahnya, budaya basa-basi dalam keluarga sering kebablasan. Kita tumbuh dalam lingkungan yang menganggap pertanyaan pribadi sebagai bentuk perhatian, tanpa menyadari bahwa bagi orang yang sedang bergulat dengan depresi, pertanyaan semacam itu bisa menjadi pemicu. Saat kita bertanya “kapan nikah” atau mengomentari bentuk tubuh, kita sedang memaksakan ukuran kebahagiaan versi kita kepada orang lain.
Memanusiakan manusia di hari raya berarti memberi ruang bagi setiap orang untuk hadir apa adanya. Tidak semua orang datang ke meja Lebaran dengan hidup yang sedang baik-baik saja. Ada yang baru kehilangan pekerjaan, masih trauma akibat perceraian, atau sedang menjalani perjuangan panjang melawan depresi. Menjaga lisan adalah bentuk adab yang paling mendasar—jika kita mengaku menjunjung nilai kekeluargaan, maka sudah saatnya kita menyaring ucapan agar tidak menjadi luka bagi saudara sendiri.
Bagi kamu yang merasa depresi justru kambuh setelah momen Lebaran, ingatlah bahwa menjaga batas bukanlah kesalahan, apalagi dosa. Kamu berhak melindungi kedamaian batinmu, bahkan di tengah riuh rendah keluarga besar.
Mungkin sudah saatnya kita mengubah cara bersilaturahmi. Alih-alih bertanya “Kapan?” atau “Kenapa?”, coba tanyakan: “Bagaimana kabarmu hari ini? Apa yang sedang kamu senangi belakangan ini?” Sebab silaturahmi yang bermakna bukan yang penuh interogasi, melainkan yang memberi rasa aman—cukup mendengarkan tanpa menghakimi, cukup merangkul tanpa menuntut terlalu banyak. Lebaran seharusnya menjadi momen ketika orang merasa aman untuk pulang ke rumah, bukan cemas karena harus mempertanggungjawabkan hidupnya kepada orang-orang yang seharusnya paling menyayanginya.





















