Memilih Menahan Rindu, Cerita Mereka yang Tak Mudik karena Ekonomi Lesu
Angka Rp300 ribu muncul di layar gawai saat Stefani, 25, sedang memeriksa tiket kereta ekonomi ke kampung halamannya di Tegal, Jawa Tengah. Itu pun sudah yang paling murah. Perasaannya campur aduk. “Biasanya cuma Rp160 atau 180 ribu,” gumam Stefani.
Ia memang tidak merayakan Idulfitri. Namun, libur Lebaran saban tahun selalu menjadi kesempatan untuk bertemu dengan orang tuanya. Menyalami tetangga kanan dan kiri sudah jadi tradisi keluarga. Belum lagi, membayangkan opor ayam dan ketupat yang diterima setelah mengucapkan ‘selamat hari raya’.
Namun, libur Idulfitri 2026 takkan sama bagi Stefani. Sebabnya, ia memilih tetap tinggal di kamar indekos di Tangerang Selatan, menyelesaikan suntingan video yang belum rampung.
Keputusan untuk tidak pulang ke kampung halaman sudah ia ambil sejak awal Ramadan. Di satu sisi, ada keinginan untuk pulang, terlebih ayahnya tengah menjalani perawatan kesehatan dan masa libur cukup panjang. Namun di sisi lain, biaya perjalanan menjadi pertimbangan utama.
“Daripada Rp300 atau 500 ribu untuk ke Tegal, bolak-balik bisa Rp600 atau satu juta, mending aku tabung aja sih untuk masa depan juga,” jelasnya kepada Magdalene saat dihubungi via telepon (17/3).
Baca juga: Godaan ‘Checkout’ Saat Ramadan? Ini Alasan Psikologis di Balik Kebiasaan Belanja Impulsif
Memilih Menabung
Pertimbangan serupa juga dialami Aan, 24, yang memutuskan tidak pulang ke Padang, Sumatera Barat. Ia mengaku harus menjawab “tidak” ketika ibunya menanyakan rencana kepulangannya tahun ini.
Sebagai guru di sekolah swasta di Jakarta Timur, Aan menerima gaji Rp1.500.000 per bulan, jauh di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP). Dengan penghasilan tersebut, ia harus mengatur pengeluaran agar tetap bisa menabung sekaligus mengirim uang kepada orang tua.
Kondisinya sedikit terbantu karena ia tinggal bersama keluarga di Jakarta sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya makan dan tempat tinggal. Meski begitu, biaya perjalanan pulang yang diperkirakan mencapai Rp2 juta untuk transportasi darat tetap di luar jangkauannya.
Sejak November tahun lalu, ia sudah memperkirakan tidak akan pulang. Menurut perhitungannya, total pengeluaran bisa mencapai Rp3 juta jika ditambah kebutuhan selama di kampung halaman.
Meski begitu, keputusan ini bukan tanpa beban emosional. Dua tahun berturut-turut tidak mudik membuat rasa rindu pada keluarga semakin kuat.
“Ibu nangis waktu aku bilang enggak pulang. Ya kita sebagai anak pasti ikut nangis juga. Tapi ibu bilang ya sudah enggak apa enggak pulang, tapi bisa bantu kirim uang untuk beli kue atau apa. Walaupun sedikit, tapi lihat senyum ibu waktu itu cukup mengobati kangen sih,” tuturnya kepada Magdalene (16/3).
Untuk tetap merasakan suasana Lebaran, Aan berencana ikut temannya ke Rangkasbitung, Banten. Biaya yang dikeluarkan pun relatif kecil karena hanya menggunakan KRL.
“Ya biar tetap ngerasain Lebaran walaupun beda keluarga,” katanya.
Baca juga: Saat IWD Bertemu Ramadan, Sudah Saatnya UU PPRT Disahkan
Kekhawatiran Ekonomi
Pilihan yang diambil Stefani dan Aan tidak lepas dari kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi.
Stefani mengaku cemas setiap mengikuti perkembangan berita, mulai dari ketidakpastian harga minyak akibat konflik global hingga sulitnya mendapatkan pekerjaan. Pengalaman terkena layoff tahun lalu membuatnya semakin berhati-hati dalam mengatur keuangan.
“Dengan ekonomi yang lagi terjadi sekarang, di mana kerjaan sulit didapat. Puji Tuhan sekarang aku lagi ada kerjaan, tapi takut banget karena tahun kemarin aku tuh korban layoff. Terus belum lagi nanti kalau harga BBM naik. Pasti banyak pengeluaran tidak terduga, makanya aku memaksimalkan saving aja,” terangnya.
Kondisi ini sejalan dengan tren penurunan jumlah pemudik. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyebut, berdasarkan survei pergerakan masyarakat, jumlah pemudik Lebaran 2026 diperkirakan mencapai 143,91 juta orang atau 50,60 persen dari total penduduk Indonesia.
Angka tersebut menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 154 juta orang, serta tahun 2024 dengan 162 juta orang.
Penurunan ini menunjukkan faktor ekonomi menjadi salah satu pertimbangan utama masyarakat dalam memutuskan untuk mudik.
“Angka ini memang menurun 1,75 persen dibandingkan survei pada 2025 sekitar 146 juta. Namun demikian pada realisasi tahun 2025 justru mencapai 154 juta,” kata Dudy dalam Sidang Kabinet Paripurna, (13/3), dilansir dari setneg.go.id.
Penurunan ini terjadi karena daya beli masyarakat yang belum pulih. Peneliti CELIOS, Rani Septyarini bilang, angka inflasi pada Februari yang mencapai 4,7 persen membuat biaya mudik lebih mahal. Terlebih lagi pola konsumsi masyarakat yang berubah. Selaras dengan pengalaman Stefani, isu ekonomi membuat banyak orang menahan belanja.
“Konflik di Iran misalnya, itu akan mengganggu suplai minyak dunia dengan ditutupnya Selat Hormuz di situ, meskipun belum sangat nyata, tetapi ada efek psikologis di mana masyarakat mulai menahan belanja non-prioritas,” kata Rani melalui panggilan suara, (17/3).
Baca juga: IWD 2026: Perjuangan Aktivis Feminis dalam Tiga Babak
“Dan juga bagi yang bisa menabung, mereka akan memilih meningkatkan porsi menabung. Buat beberapa orang di situasi seperti ini mudik itu dianggap tidak lagi jadi kepentingan, bukan berarti tidak penting, tapi dalam situasi semacam ini, itu ditunda,” tambahnya.
Beberapa kebijakan bisa dilakukan untuk menanggulangi penurunan tren mudik yang turun dari tahun ke tahun. Rani menerangkan, daya beli yang rendah masih menjadi pekerjaan rumah krusial yang harus segera dibenahi. Caranya dengan memberi bantuan tunai atau subsidi transportasi yang terarah ke kalangan ekonomi tertentu.
Tak kalah penting, biaya mudik struktural harus dikurangi. Pemerintah perlu menjaga harga BBM tetap stabil dengan memastikan stok tetap ada. “Sehingga masyarakat tidak khawatir apakah bisa dapat BBM atau tidak, apakah harganya mahal atau tidak, jadi stabilisasi BBM,” tutup Rani.
Ilustrasi oleh Karina Tungari





















