Nestapa Penyintas Banjir Sumatera Rayakan Lebaran dari Tenda Pengungsian
Hari Lebaran biasanya jadi momen bagi Zaini, 43, untuk berkumpul dengan ayah dan keenam saudara kandungnya. Mengenakan baju baru, mereka datang ke rumah orang tua Zaini di Gampong Dayah Usen, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.
Zaini memasak rendang, caluk, dan lontong. Sementara saudara-saudaranya membawa sate dan kari kambing, untuk disantap bersama sambil bertukar kabar.
Namun, banjir bandang di Sumatera akhir November lalu membawa perubahan besar bagi keluarga mereka. Lumpur setinggi dua meter merendam rumah orang tua Zaini. Sementara lumpur setebal empat meter menyapu seisi rumah Zaini di Desa Meunasah Raya, membuatnya kehilangan seluruh harta benda.
Kondisi ini mengubah rencana Zaini untuk kembali berkumpul di hari raya seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Kami (warga di pengungsian) nggak pernah membayangkan Lebaran. Setiap hari cuma bisa duduk-duduk, tidur, makan, dan berdoa,” ungkap Zaini.
Ramadan dijalani di pengungsian dengan makanan seadanya. Sekitar 500 korban banjir di Meunasah Raya berbuka puasa dan sahur dengan bubur kanji, nasi dengan telur ceplok, atau mi instan.
Ketika bantuan datang lebih banyak, mereka memasak menu lain seperti kari ayam, ikan tongkol balado, telur goreng, bihun, sayur bening, timun, dan kurma.
Selama empat bulan terakhir, mereka tinggal di tenda-tenda besar. Zaini dan kedua anaknya—berusia 17 tahun dan 13 tahun—berada dalam satu tenda bersama 14 keluarga lain.
Saat siang hari, Zaini tidur di meunasah agar lebih sejuk. Pada malam hari, udara lebih dingin, tetapi tetap terasa gerah karena tidur berdempet dengan banyak orang.
Zaini juga terus memikirkan kondisi ke depan, mulai dari pekerjaan, pendidikan anak-anaknya, hingga tempat tinggal. Sebelum banjir, ia bekerja sebagai petani sekaligus penjahit bordir komputer dengan penghasilan sekitar tujuh hingga Rp10 juta per bulan. Kini, rumah, toko, sawah, dan mesin jahitnya tertimbun lumpur.
“Sekarang cuma nunggu dikasih orang. Udah nggak bisa kerja apa-apa,” tutur Zaini.
Baca Juga: Cerita Perempuan Relawan Bencana Aceh: Melihat Derita yang Tak Masuk Layar
Banjir Sapu Tempat Tinggal dan Pekerjaan
Ketika hujan turun deras dan air mulai masuk ke rumah, Zaini bersama kedua anaknya mengungsi ke atap. Selama tiga hari tiga malam, mereka bertahan di sana tanpa makanan ataupun pakaian, hanya mengonsumsi air hujan.
Setelah air surut, Zaini menuju meunasah untuk mencari bantuan. Namun, saat itu belum ada bantuan makanan yang tersedia. Dengan uang yang tersisa, ia membeli roti untuk menahan lapar.
Kondisi serupa dialami Abdi, 31, warga Meunasah Raya lainnya yang bekerja sebagai petani. Ia tinggal di dekat rawa, dan air naik dengan cepat. Abdi bersama istri dan anaknya—berusia lima tahun—meninggalkan rumah pada malam hari dan bertahan di atas kuburan yang berada di samping meunasah.
Keluarga Abdi tidak membawa barang apa pun, hanya pakaian yang dikenakan, yang sudah basah akibat hujan. Dalam kondisi tersebut, mereka mengonsumsi mi instan mentah yang hanyut dari toko kelontong.
Setelah banjir, Abdi beberapa kali menengok kondisi rumahnya. Ia mendapati sejumlah perabotan hilang, peralatan elektronik tertanam dalam lumpur, serta dinding rumah yang banyak hanyut. Sawah dan kebun tempatnya bekerja juga tidak tersisa.
“Suasana Ramadan tahun ini berbeda sekali. Udah nggak bisa kumpul bareng keluarga, sambil makan sayur kuah pliek. Saya kangen makan itu,” cerita Abdi.
Tahun ini, Abdi tidak dapat mengunjungi orang tuanya di Aceh Tamiang saat Lebaran karena kondisi rumah dan akses jalan yang rusak.
Hingga kini, Abdi masih tinggal di tenda pengungsian. Sehari-hari, ia mengobrol dengan sesama warga atau membantu tenaga ketika ada relawan mengadakan buka bersama.
“Soalnya kalau mau bantu dengan uang atau bahan pangan, kami sudah nggak punya apa-apa,” ucapnya.
Saat ditanya rencana Lebaran, Abdi mengatakan akan memasak bersama warga pengungsian. Mereka berencana menjalankan tradisi meugang, yaitu menyembelih sapi atau kerbau sebelum Lebaran.
Tradisi tersebut juga dilakukan sebelum Ramadan, ketika pengungsi menerima bantuan sapi dari Presiden Prabowo Subianto melalui Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian. Namun, belum dapat dipastikan apakah bantuan serupa akan kembali diberikan untuk Lebaran.
Baca Juga: Banjir di Sumatera Utara: Ketika ‘Apa Kabar?’ Datang Terlambat
Bantuan dan Kebutuhan Pemulihan
Selama empat bulan terakhir, warga di Meunasah Raya bertahan dengan bantuan dari masyarakat. Zaini dan Abdi menyebut kondisi ekonomi mereka terhimpit karena tidak dapat bekerja dan hanya menunggu bantuan.
Selain persoalan ekonomi, banjir juga meninggalkan trauma. Hal ini dirasakan Husnul, 34, warga Kabupaten Bireuen, Aceh, yang merasa cemas ketika hujan deras kembali turun pada awal Ramadan.
Saat menjalankan salat tarawih, ia teringat pada ibunya yang berusia 90 tahun serta keponakannya yang berusia 10 tahun. Pada banjir sebelumnya, proses evakuasi dilakukan dengan melewati air setinggi dada sebelum akhirnya mengungsi di masjid, lalu tinggal di rumah kerabat selama satu bulan.
Setelah kembali, Husnul membersihkan rumah bersama kakaknya. Ia menemukan sejumlah kerusakan pada bangunan dan peralatan rumah tangga, serta kehilangan tiga karung gabah yang menjadi cadangan makanan.
Husnul bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), sehingga masih memiliki penghasilan. Namun, ia tetap merasakan dampak kenaikan harga kebutuhan pokok, terutama pada bulan pertama pascabanjir. Harga beras 10 kilogram naik sekitar Rp10 ribu hingga Rp20 ribu, sementara harga telur meningkat hampir dua kali lipat.
Biaya transportasi juga bertambah karena warga harus menggunakan getek seharga Rp20 ribu untuk menyeberang, setelah Jembatan Awe Geutah putus akibat banjir.
Baca Juga: Katun Bolong sampai Gamis Rompi Lepas: Kenapa Kita FOMO Tren Baju Lebaran
Kondisi tersebut membuat Husnul belum tentu dapat merayakan Lebaran bersama keluarga besar, karena sebagian anggota keluarganya juga terdampak banjir.
Ia berharap jembatan segera dibangun kembali agar akses warga pulih. Selain itu, perbaikan lahan dinilai penting agar masyarakat dapat kembali bekerja.
Sementara itu, Zaini dan Abdi menyampaikan kebutuhan serupa: pekerjaan, agar dapat kembali membangun kehidupan setelah bencana.
Ilustrasi oleh Karina Tungari





















