Cinta Beda Desil: Dilema Pengangguran dan Pasangan yang ‘Overwork’
In this economy, hanya bermodal Nomor Induk Kependudukan (NIK), tiba-tiba kita bisa mendapat semacam ramalan soal kondisi ekonomi diri sendiri dari angka desil di situs Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
Belakangan, desil ramai dibicarakan karena dipakai untuk melihat posisi kesejahteraan keluarga sekaligus menjadi salah satu acuan pemerintah dalam menyalurkan bantuan sosial. Dilansir dari detikFinance, desil membagi masyarakat ke dalam sepuluh kelompok berdasarkan tingkat kesejahteraan. Angka yang semakin kecil menunjukkan tingkat kesejahteraanmu kian rendah.
Sederhananya, desil bukan peringkat orang kaya sampai orang miskin secara mutlak. Data ini mengelompokkan sekitar 10 persen keluarga ke dalam setiap desil berdasarkan kondisi sosial dan ekonomi, seperti pekerjaan, pendidikan, kondisi rumah, daya listrik, dan kepemilikan aset.
Jadi, Desil 10 tidak otomatis berarti seseorang tajir melintir, begitu pula Desil 3 tidak serta-merta menggambarkan seluruh kondisi hidup seseorang. Aku baru benar-benar memikirkan hal itu setelah melihat hasil desil sendiri.
Orang-orang terdekatku, termasuk pasangan, mendapat Desil 10, sementara aku mendapat Desil 3. “Oh, ternyata kita-kita ini orang have ya?” Begitulah pikirku sebelum dengan PD-nya memasukkan NIK sendiri ke DTSEN.
Hasilnya? Aku Desil 3.
Kaget sedikit, dong, tentu. Masa iya sudah bertahun-tahun kerja masih saja masuk kelompok hampir miskin? Rasanya, tuh, seperti enggak naik kelas, padahal kerja bagai kuda sama kerasnya seperti teman-teman yang lain.
Dalam klasifikasi yang dilansir detikFinance, Desil 3 masuk kelompok “hampir miskin”, yakni kelompok yang masih rawan jatuh miskin ketika terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), kenaikan harga kebutuhan pokok, atau gangguan ekonomi lainnya.
Setelah merenungi nasib, akhirnya aku paham mengapa masuk Desil 3. Aku sudah delapan bulan tidak memiliki pekerjaan full-time setelah di-PHK dan sempat menerima Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP).
Untungnya selalu ada ceperan per bulan yang mencegahku menjadi lumpen proletariat, minimal sekarang prekariat saja. Jadi, wajar kalau Desil 3.
Meskipun begitu, aku tetap heran dengan predikat Desil 10 yang diterima orang-orang terdekatku, yang notabene aku tahu bagaimana kondisi ekonomi mereka. Pasanganku, misalnya, walau gajinya cukup oke, rasanya belum sampai tajir melintir untuk bisa disebut sebagai kelompok paling sejahtera di negeri ini.
Yang ada, pasanganku jauh dari kata sejahtera dengan kondisi kerjanya yang overwork. Dari sini, angka desil mulai terasa berbeda ketika dibandingkan dengan kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Membongkar Kenapa Double Income Masih Gak Cukup “In This Economy”
Angka Desil di Kehidupan Nyata
Perbedaan tujuh desil antara aku dan pasangan ternyata bukan cuma angka di layar. Di hari-hari tanpa kerja sampingan, sebagai pengangguran Desil 3, aku menghabiskan waktu untuk satu hal utama: cari kerja.
Di depan laptop, CV selalu terbuka lengkap dengan berbagai job portal yang sudah di-refresh berkali-kali. Sehari minimal 2-3 pekerjaan dilamar, sering kali dipanggil interview, namun belum pernah sampai offering, hingga enggak sadar rekap aplikasi di Excel sudah lebih dari 100.
Hari-hari berdoa semoga tidak menjadi anggota permanen dari headline salah satu koran itu, 1 juta sarjana menganggur. Setelah belasan penolakan dan ghosting yang tak terhitung, tak ayal kepercayaan diri pun anjlok.
Menjadi pengangguran biasa saja sudah susah, apalagi pengangguran in this economy.
Di sisi lain, pasanganku bekerja keras bagai kuda dari pagi hingga tak ada matahari. Terkadang pulang ke rumah tidak selalu berarti kerjaan selesai, cuma di-pause aja buat perjalanan.
Jika aku merasakan ketidakpastian karena gak punya pekerjaan, pasanganku justru kelelahan dan stres karena pekerjaan seperti gak pernah selesai. Dua kondisi ini sama-sama tidak ideal, hanya bentuk tekanannya berbeda.
Sering kali, aku gak relate ketika menceritakan kesuntukan melamar kerja ke pasangan. Dalam bayangan paling liarku, aku lebih memilih bekerja overwork seperti dia ketimbang menganggur.
Pasanganku yang tidak pernah benar-benar menganggur juga sulit memahami kelelahan mempertahankan pace melamar kerja tiap harinya, dengan harapan “semoga berjodoh” di tiap klik apply atau submit. Di sisi lain, dia juga sering menahan diri untuk menceritakan kelelahan kerja.
Selain karena bercerita itu sendiri butuh energi, pasangan juga gak merasa relate. Apalagi bila terlintas ide resign di kepalanya, sangat jarang ide itu disampaikan ke aku karena kerja justru yang sedang aku dambakan.
Rasa-rasanya kami sedang mengalami class conflict di unit terkecil. Satu orang ingin punya pekerjaan, sementara yang lain justru ingin punya waktu untuk berhenti bekerja.
Di titik ini, persoalannya bukan lagi sekadar siapa yang mendapat Desil 3 atau Desil 10. Angka itu memperlihatkan bagaimana seseorang bisa merasa miskin karena kehilangan pekerjaan, sementara orang lain yang secara data lebih sejahtera justru merasa hidupnya habis untuk pekerjaan.
Baca Juga: ‘Split Bill’ yang Sehat dengan Pasangan, Mungkin atau Tidak?
Kelas Menengah yang Sama-Sama Rentan
Ketidakpahaman yang timbul dalam hubungan kami mungkin dapat menjadi gambaran kecil dari ketimpangan desil. Namun, jika ditelisik lebih jauh, kondisi kami juga mencerminkan kerentanan kelas menengah.
Mari kita bandingkan desil dengan klasifikasi pengeluaran per kapita. Kelompok kelas menengah Indonesia dengan pengeluaran antara Rp2.132.061-Rp10.335.720 per kapita berjumlah 47 juta orang.
Di pihak lain, jumlah kelas atas Indonesia, dengan pengeluaran lebih dari Rp10.335.720 per kapita, hanya sebesar 2 juta orang. Maka, jika logika desil adalah mengelompokkan 290 juta masyarakat Indonesia menjadi 10 kategori, dua kategori teratas yang dianggap sejahtera tidak otomatis berarti kaya secara absolut.
Tidak heran kalau pasangan dan teman-temanku mendapat Desil 9 atau 10. Angka tersebut lebih tepat dibaca sebagai posisi relatif seseorang dibandingkan keluarga lain, bukan jaminan hidup nyaman sampai tua.
Dengan kata lain, masyarakat “kelas atas” versi desil Indonesia tidak serta-merta merupakan kelas atas jika dilihat secara absolut. Kelas menengah sendiri tetap rentan mengalami perubahan posisi ketika kehilangan pekerjaan atau pendapatan.
Aku adalah contohnya. Dalam kasusku, jika desil dihitung pada 2025, besar kemungkinan aku juga termasuk Desil 9-10.
Hanya karena satu keputusan PHK, aku kemudian merosot jauh menjadi “populasi yang berhak menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH)”. Bantuan JKP yang kuterima selama enam bulan berturut-turut, sayangnya, tidak bisa membawaku keluar dari pengangguran di tengah lesunya pasar tenaga kerja di Indonesia.
Di sisi yang kontras, pasanganku harus tabah menjalani pekerjaan yang overwork. Selain masih mendapatkan penghasilan yang layak, dia juga diam-diam harus bertarung dengan jutaan reserve army of labour yang siap menggantikan posisinya di pekerjaan yang kurang ideal itu.
Bahkan mungkin, dia diam-diam juga bertarung denganku.
Sebab, di balik perbedaan Desil 3 dan Desil 10, ada dua orang yang sama-sama sedang berusaha bertahan. Aku berjuang mendapatkan pekerjaan, sementara dia berjuang agar pekerjaan tidak mengambil seluruh hidupnya.
Di sini, perbedaan pengalaman antara aku dan pasangan juga memperlihatkan satu persoalan yang lebih besar: Pekerjaan bukan cuma soal punya atau tidak punya penghasilan. Bagi yang kehilangan pekerjaan, kerja menjadi sesuatu yang dicari mati-matian, sementara bagi yang sudah bekerja, beban kerja yang berlebihan bisa membuat pekerjaan terasa seperti sesuatu yang ingin ditinggalkan.
Mungkin ini yang sering luput ketika kita membaca angka kesejahteraan hanya sebagai urutan dari satu sampai sepuluh. Di atas kertas, kami berada di kelas yang berbeda, tetapi dalam kehidupan sehari-hari, kami sama-sama sedang berhadapan dengan dunia kerja yang membuat hidup terasa serba tidak aman.
RD. Bernastito merupakan pekerja di industri market research, walaupun sementara masih menjadi anggota 1 juta sarjana menganggur. Aslinya lulusan Ilmu Politik dan tertarik pada isu-isu sosial politik, kerja dan kapitalisme, juga gender.





















