15/09/2026
Environment Issues Opini

Karhutla dan Pelajaran dari Politik Cinta Berta Cáceres

Karhutla bukan cuma soal hutan yang terbakar, tetapi juga ruang hidup dan kuasa yang menentukan nasibnya. Dari perjuangan Berta Cáceres, kita bisa melihat karhutla sebagai persoalan lingkungan sekaligus keadilan.

  • September 15, 2026
  • 5 min read
  • 623 Views
Karhutla dan Pelajaran dari Politik Cinta Berta Cáceres

Akhir-akhir ini, kita kembali dihadapkan pada persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Asap, kerusakan lingkungan, dan terganggunya kehidupan masyarakat menjadi bagian dari persoalan yang muncul ketika kebakaran terjadi. Namun, untuk memahami karhutla secara lebih utuh, ada pertanyaan lain yang perlu diajukan: mengapa sebuah lanskap menjadi begitu rentan terbakar?

Pertanyaan ini membawa kita pada Berta Cáceres, aktivis masyarakat adat Lenca dari Honduras yang dibunuh pada 2016. Ia dikenal karena perjuangannya mempertahankan Sungai Gualcarque dari proyek Bendungan Agua Zarca. Berta bukan sekadar aktivis lingkungan, tetapi perempuan adat yang menjadikan perjuangan ekologis sebagai perjuangan melawan ketidakadilan yang berlapis: kolonialisme, perampasan wilayah, kapitalisme ekstraktif, dan patriarki.

Bagi Berta, mempertahankan sungai berarti mempertahankan kehidupan komunitas Lenca. Perjuangannya juga menunjukkan persoalan yang lebih besar. Perempuan adat sering berada di garis depan ketika negara dan korporasi menentukan masa depan suatu wilayah tanpa sungguh-sungguh mendengarkan masyarakat yang hidup di dalamnya.

Di situlah relevansinya untuk Indonesia. Perempuan, hutan, dan relasi kuasa saling berkaitan. Perspektif feminis membantu melihat kerusakan lingkungan sebagai persoalan yang tidak berdiri sendiri.

Siapa yang memiliki kekuasaan untuk menentukan penggunaan tanah? Siapa yang mendapatkan keuntungan dari eksploitasi sumber daya? Siapa yang kehilangan ruang hidup ketika hutan dibuka?  Siapa yang kemudian harus merawat keluarga serta komunitas ketika lingkungan rusak? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita keluar dari cara pandang yang melihat hutan hanya sebagai objek ekonomi.

Berta Cáceres menunjukkan perjuangan ekologis juga merupakan perjuangan tentang siapa yang berhak menentukan kehidupan. Ia tidak memisahkan perjuangan masyarakat adat dari perjuangan perempuan. Tubuh, tanah, sungai, dan komunitas tidak berdiri dalam ruang yang terpisah.

Ketika wilayah dirampas, yang terancam bukan hanya ekosistem. Kehidupan sosial dan budaya masyarakat yang bergantung pada wilayah tersebut juga ikut terancam. Karena itu, perjuangan Berta penting dibaca sebagai perjuangan feminis.

Bukan semata karena ia seorang perempuan, tetapi karena ia menantang struktur kekuasaan yang membuat kelompok tertentu, terutama perempuan adat dan komunitasnya, lebih mudah disingkirkan dari proses pengambilan keputusan.

Baca Juga: Karhutla 2026 Berpotensi Tinggalkan Kerugian hingga Rp123,1 Triliun

Dari Berta ke Kalimantan

Cara pandang ini relevan ketika kita membaca karhutla di Kalimantan. Ketika hutan terbakar, dampaknya tidak berhenti pada hilangnya tutupan vegetasi. Ada masyarakat yang hidup dengan asap, aktivitas ekonomi dan pendidikan yang terganggu, serta sumber penghidupan yang bergantung pada ekosistem.

Masyarakat adat dan komunitas lokal bukan sekadar “pihak terdampak”. Mereka memiliki pengetahuan dan pengalaman mengenai wilayah yang selama ini mereka rawat. Karena itu, partisipasi mereka tidak cukup hanya dengan hadir dalam konsultasi.

Pertanyaannya bukan hanya apakah masyarakat sudah diajak bicara. Yang lebih penting, apakah suara mereka benar-benar memiliki daya untuk memengaruhi keputusan? Inilah salah satu pelajaran penting dari Berta: demokrasi ekologis tidak cukup hanya dengan membuka ruang konsultasi. Ia membutuhkan distribusi kekuasaan yang lebih adil.

Berta mengajak kita lebih mindful dalam memahami persoalan, bukan menutup diri dari kompleksitasnya. Ia juga mengajak kita melihat akar masalah karhutla dan tidak berhenti pada api yang terlihat. Karhutla tidak hanya berkaitan dengan bencana alam, tetapi juga persoalan struktural yang diciptakan manusia dan berkaitan dengan lemahnya demokrasi ekologis.

Ada satu warisan Berta yang juga penting dibicarakan hari ini: cinta sebagai sikap politik. Bagi Berta, Sungai Gualcarque bukan sekadar sumber daya alam. Sungai adalah bagian dari kehidupan masyarakat Lenca.

Karena itu, mencintai wilayah berarti berani mempertahankannya ketika kekuasaan hendak mengubahnya menjadi sekadar komoditas. Di sini, cinta menjadi radikal.

Kita melawan bukan karena membenci pembangunan, tetapi karena ada kehidupan yang dianggap terlalu berharga untuk dikorbankan. Perspektif feminis membantu kita memahami cinta semacam ini sebagai politik kepedulian. Merawat kehidupan bukan pekerjaan domestik yang tidak terlihat.

Ia dapat menjadi dasar untuk mempertanyakan kebijakan, menolak perampasan wilayah, dan menuntut negara bertanggung jawab. Maka ketika hutan Kalimantan terbakar, pertanyaannya bukan hanya siapa yang menyalakan api.

Ada pertanyaan lain yang juga penting: kehidupan siapa yang sedang kita pertaruhkan? Siapa yang selama ini memiliki kuasa menentukan nasib hutan? Dan apa yang cukup kita cintai untuk kita pertahankan?

Baca Juga: Bagaimana Nasib Orangutan di Tengah Karhutla Kalimantan?

Hukum Harus Hadir Sebelum Api Muncul

Berta mati dibunuh akibat lemahnya penegakan hukum lingkungan. Pada titik ini, ada hal yang jelas harus dipastikan, yakni hukum tidak boleh hanya hadir setelah kerusakan terjadi. Hukum harus bekerja sejak keputusan mengenai ruang dibuat.

Tata ruang perlu memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan serta kerentanan ekologis. Persetujuan lingkungan dan AMDAL juga perlu sungguh-sungguh mempertimbangkan risiko.

Hal itu perlu disertai pengawasan terhadap pemegang izin, kewajiban pencegahan kebakaran, perlindungan gambut, pemulihan ekologis, serta partisipasi masyarakat yang bermakna. Hukum juga perlu memastikan masyarakat adat dan komunitas lokal bukan hanya objek perlindungan.

Mereka harus menjadi subjek yang memiliki suara dalam menentukan masa depan teritorinya. Solusi pengaturan tata ruang serta budaya konservasi masyarakat harus diakui dan menjadi prioritas.

Sebab jika hukum hanya sibuk mencari siapa yang salah setelah hutan terbakar, kita mungkin sedang menyelesaikan perkara. Namun, belum tentu ketidakadilan yang membuat kebakaran terus berulang ikut diselesaikan.

Berta Cáceres mengajarkan bahwa mempertahankan lingkungan bukan sekadar pekerjaan teknis. Ia adalah perjuangan mengenai kehidupan, martabat, dan relasi kuasa. Sosok Berta tetap relevan untuk membaca persoalan ekologis hari ini.

Karena ketika hutan terbakar, kita tidak hanya kehilangan pohon. Ada masa depan perempuan dan anak-anak yang bergantung pada udara bersih serta hutan yang perlahan musnah.

About Author

Sekar Banjaran Aji Surowijoyo

Sekar adalah advokat lingkungan yang percaya bahwa litigasi iklim sangat penting dalam membela masa depan umat manusia. Dia menyukai pembahasan tentang ekologi politik feminis, membaca dan mengunjungi pohon tua.