15/09/2026
Issues Opini

Kemewahan Bernama Tenang: ‘Mindfulness’ di Tengah Berita Buruk yang Terus Mendera

Siapa sebenarnya yang punya kemewahan untuk ‘mindfulness’, dan siapa yang hanya punya pilihan untuk terus bertahan?

  • September 15, 2026
  • 6 min read
  • 404 Views
Kemewahan Bernama Tenang: ‘Mindfulness’ di Tengah Berita Buruk yang Terus Mendera

Kita sedang hidup di masa ketika berita buruk datang tanpa henti. Maka kita dianjurkan untuk menarik napas, berhenti sejenak, mengelola kecemasan, dan tetap tenang. Tetapi ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan: siapa yang punya kemewahan untuk tenang? Bagi sebagian orang, bad news adalah sesuatu yang muncul di layar. Namun bagi sebagian lainnya, ia adalah kondisi hidup sehari-hari yang harus dilalui dengan penuh perjuangan.

Mindfulness sebenarnya punya sejarah yang jauh lebih panjang daripada industri wellness yang kita kenal sekarang. Berakar dalam tradisi Buddhis, praktik ini mengalami sekularisasi di Barat dan perlahan masuk ke rumah sakit, psikologi, sekolah, hingga tempat kerja. Chachignon, Le Barbenchon, dan Dany — sejumlah peneliti yang mengkaji perjalanan mindfulness dari tradisi spiritual menjadi praktik klinis dan komersial — menunjukkan bahwa dalam prosesnya, mindfulness juga berubah mengikuti cara masyarakat modern memahami kesehatan dan kesejahteraan.

Pada saat yang sama, ia semakin terkait dengan logika neoliberal: individu didorong untuk mengelola stres, memperbaiki diri, menjadi lebih produktif, dan bertanggung jawab atas kesejahteraannya sendiri. Mindfulness pun tidak lagi hadir sekadar sebagai praktik meditasi atau terapi, melainkan juga sebagai bagian dari industri self-care, self-help, kebahagiaan, dan wellness. Dari sinilah muncul pertanyaan penting: apa yang terjadi ketika persoalan yang sebenarnya bersifat sosial dan struktural justru diterjemahkan menjadi persoalan yang harus dikelola sendiri oleh individu?

Di titik inilah persoalannya menjadi menarik. Kalau mindfulness membantu kita mengelola stres, apakah berarti semua persoalan selesai begitu kita berhasil mengelola diri sendiri? Tidak selalu. Shivani Radhakrishnan, filsuf feminis yang tulisannya terbit di jurnal Hypatia (2026), mengingatkan bahwa kritik terhadap self-care sebagai produk neoliberal juga perlu hati-hati. Bagi orang-orang yang sepanjang hidupnya justru dituntut untuk merawat orang lain, merawat diri sendiri bisa menjadi bentuk penolakan: sebuah cara untuk mengatakan, “aku juga berhak dirawat.”

Hal ini terlihat jelas dalam tradisi Black feminist self-care — cara pandang tentang perawatan diri yang lahir dari pengalaman perempuan kulit hitam di Amerika, yang memaknai merawat diri bukan sebagai gaya hidup atau hadiah untuk diri sendiri, melainkan sebagai cara bertahan hidup di tengah sistem yang menindas.

Lena Zuckerwise, akademisi yang tulisannya terbit di jurnal kajian feminis Signs (2024), membedakan tradisi ini dari budaya white wellnessself-care ala arus utama yang lebih dikenal lewat produk skincare, retret yoga, atau aplikasi meditasi — yang cenderung bergeser menjadi urusan konsumsi, gaya hidup, dan tanggung jawab individual untuk merasa sehat dan bahagia. Bagi perempuan kulit hitam, merawat diri punya sejarah politik yang berbeda; ia bisa menjadi cara untuk bertahan dan melawan ketika tubuh dan hidup mereka terus berhadapan dengan rasisme.

Bahkan jauh sebelum self-care menjadi bahasa industri wellness, Audre Lorde — penyair, penulis, sekaligus aktivis feminis kulit hitam Amerika yang karya-karyanya menjadi rujukan penting Black feminist self-care — sudah memaknainya secara politis. Dalam A Burst of Light, Lorde menulis, “Merawat diriku bukanlah bentuk memanjakan diri. Ia adalah upaya mempertahankan diri, dan itu merupakan bentuk perjuangan politik.”

Bagi Lorde, merawat diri bukan kemewahan untuk menjauh sejenak dari dunia, melainkan cara mempertahankan hidup ketika dunia tidak selalu dirancang untuk mempertahankan hidup kita. Self-care, dalam pengertian ini, bukan tentang membuat diri kita selalu baik-baik saja. Kadang, ia justru tentang menjaga diri agar tetap punya tenaga untuk menghadapi apa yang membuat kita lelah.

Ini berarti kita tentu boleh belajar mengelola diri. Tetapi bagaimana kalau yang membuat kita lelah bukan hanya pikiran kita sendiri, melainkan kehidupan yang memang sedang tidak baik-baik saja?

Baca Juga: Lelah Dikepung Berita Buruk? Tenang, Kamu Enggak Sendiri

Ketika Berita Buruk Bukan Sekadar Notifikasi

Di Kalimantan, misalnya, kebakaran hutan membuat banyak orang bahkan tidak punya kemewahan untuk sekadar “menjauh dari berita buruk”. Asap, kehilangan, dan kecemasan masuk ke ruang-ruang hidup mereka. Berita buruk bukan lagi sesuatu yang datang dari layar. Ia masuk ke rumah, mengganggu kesehatan, dan mengusik ruang untuk bernapas.

Di Papua, berita tentang kematian dan kekerasan juga bukan sekadar bad news yang bisa kita tutup dengan menggulir layar ke atas. Ada keluarga yang kehilangan. Ada masyarakat adat yang harus menghadapi kehilangan ruang hidup ketika hutan mereka terus terdesak oleh deforestasi dan proyek-proyek pembangunan. Ada orang-orang yang setiap hari hidup dalam ketidakpastian dan ketakutan. Dalam kondisi seperti ini, pertanyaan tentang self-care menjadi jauh lebih rumit. Siapa yang menanggung beban untuk menjaga kehidupan tetap berjalan? Siapa yang punya waktu dan ruang untuk merawat dirinya sendiri?

Beberapa waktu lalu, seorang ibu di Sentani, Papua, ditetapkan sebagai tersangka setelah anak perempuannya meninggal akibat kekerasan yang dilakukannya. Peristiwa itu bermula ketika bayi di rumah menangis dan kemudian terjadi perselisihan antara ibu dan anak. Sang ibu, yang juga bekerja dan memiliki bayi yang masih sangat kecil, memukul anaknya dengan balok hingga meninggal.

Kekerasan terhadap anak tentu tidak bisa dibenarkan oleh alasan apa pun. Tetapi kasus ini juga membuat kita bertanya tentang beban yang sering tidak terlihat dalam kerja perawatan: siapa yang menopang orang yang setiap hari harus menopang kehidupan orang lain?

Baca Juga: ‘Political Burnout’ atau Lelah Dikepung Berita Buruk, Kita Bisa Apa? 

Siapa yang Menopang Mereka yang Menopang?

Di Intan Jaya, ruang hidup perempuan sipil juga tidak pernah benar-benar aman. Hutan dan kebun bukan sekadar tempat bekerja. Bagi perempuan di sana, keduanya adalah tempat mencari makanan, obat, dan penghidupan keluarga. Namun ketika ruang-ruang sipil berubah menjadi bagian dari wilayah konflik, aktivitas sehari-hari pun membawa risiko.

Pada Juli 2026, Melkiana Duwitau, seorang perempuan yang sedang mengandung tujuh bulan, meninggal tertembak ketika berada di rumahnya sendiri. Komnas Perempuan menyebut perempuan sipil menghadapi risiko yang lebih tinggi dalam situasi konflik, sekaligus tetap menanggung beban pengasuhan, kehilangan, dan keterbatasan akses terhadap layanan dasar.

Baca Juga: Memulai Hidup ‘Mindful’ di Tengah Kesibukan Dunia, Bagaimana Caranya?

Dalam situasi seperti itu, apa arti “ambil waktu untuk diri sendiri”? Ketika pergi ke kebun, mencari makanan, atau sekadar berada di rumah pun tidak selalu terasa aman, persoalannya bukan lagi apakah seseorang tahu cara mengelola kecemasan. Persoalannya adalah apakah ia memiliki ruang yang cukup aman untuk hidup.

Sungguh, kemewahan mindfulness itu untuk siapa?

Di tengah situasi seperti ini, self-care, bahkan mindfulness, semestinya menjadi ruang reflektif untuk terus bertanya: siapa yang bisa merawat dirinya, dan siapa yang tidak punya pilihan selain terus bertahan? Dan jika ruang untuk merawat diri pun terasa terlalu mewah, mungkin yang perlu kita pulihkan bukan hanya kemampuan individu untuk mengelola kecemasan, tetapi juga kekuatan sosial untuk kembali merebut ruang-ruang kritik.

Sebab kesejahteraan, kesehatan mental, rasa aman, dan kenyamanan hidup bukan semata-mata tanggung jawab individu. Ia adalah tanggung jawab negara dan tanggung jawab kita bersama.

Selina Aurora adalah pengajar dan penulis dari Manokwari, Papua Barat. Ia menulis tentang perempuan, teologi, pendidikan, dan persoalan sosial dari perspektif yang dekat dengan pengalaman hidup di Papua.

About Author

Selina Aurora