14/09/2026
Issues

Tips Mendeteksi Berita Bencana agar Tidak Terjebak Hoaks

Informasi bencana yang belum terverifikasi bisa cepat menyebar dan memicu kepanikan. Sebelum percaya atau membagikannya, cek sumber, waktu, lokasi, serta foto dan video yang digunakan.

  • September 14, 2026
  • 7 min read
  • 6 Views
Tips Mendeteksi Berita Bencana agar Tidak Terjebak Hoaks

Informasi bencana biasanya muncul ketika orang sedang membutuhkan kepastian. Masalahnya, situasi yang serba cepat juga membuat informasi yang belum terverifikasi mudah menyebar lewat WhatsApp, Instagram, TikTok, Facebook, maupun X.

Padahal, informasi kebencanaan yang benar seharusnya membantu masyarakat memahami situasi, bukan sekadar membuat orang takut. Kemampuan mengecek berita bencana sebelum membagikannya menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan.

Kenapa Kita Mudah Percaya Informasi Saat Bencana?

Rasa cemas bisa membuat pesan yang terdengar mendesak terasa lebih meyakinkan. Kalimat seperti “segera mengungsi”, “akan terjadi gempa besar”, atau “sebarkan ke semua orang” dapat membuat kita merasa harus bertindak sebelum sempat memeriksa sumbernya.

Padahal, bahasa yang tegas bukan bukti bahwa informasi tersebut benar. Informasi darurat yang resmi biasanya tetap memiliki detail yang bisa diperiksa, seperti waktu kejadian, lokasi, jenis ancaman, wilayah terdampak, status peringatan, dan imbauan kepada masyarakat.

Dalam sejumlah pembaruan gempa, misalnya, BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tetap tenang dan memperoleh informasi melalui kanal resminya. Salah satunya dalam artikel Gempa Bumi M5,5 – 122 km BaratDaya PANDEGLANG-BANTEN di situs BMKG.

Jadi, sebelum percaya pada sebuah pesan, coba tanyakan: Siapa yang mengeluarkan informasi ini dan dari mana datanya berasal?

Baca Juga: Saya Mencari Informasi Abu Vulkanik Krakatau, Malah Disuguhi Wajah Menteri

Foto dan Video Bencana Tidak Selalu Terbaru

Foto atau video lama sering digunakan kembali untuk menggambarkan kejadian yang berbeda. Visualnya bisa saja asli, tetapi keterangan mengenai waktu atau lokasinya belum tentu benar.

BNPB pernah membantah video yang disebut sebagai dokumentasi erupsi Gunung Gede. Dalam artikel BNPB Tegaskan Video Erupsi Gunungapi Gede Tidak Benar (HOAKS) di situs BNPB, lembaga tersebut menjelaskan bahwa video yang beredar sebenarnya merupakan dokumentasi erupsi Gunung Marapi di Sumatera Barat.

Karena itu, jangan hanya bertanya apakah sebuah foto atau video terlihat nyata. Periksa juga kapan gambar tersebut dibuat, di mana lokasinya, siapa sumber awalnya, dan apakah ada media atau lembaga kredibel yang menggunakannya untuk kejadian yang sama.

Detail kecil seperti papan nama jalan, bentuk bangunan, kendaraan, bahasa pada spanduk, atau kondisi geografis juga dapat membantu menguji klaim mengenai lokasi.

Cek Sumber, Waktu, dan Lokasi

Untuk informasi gempa bumi, tsunami, cuaca ekstrem, dan fenomena geofisika, kanal resmi BMKG merupakan rujukan penting. Sementara untuk perkembangan penanganan bencana, masyarakat dapat membandingkan informasi dari BNPB dan BPBD di daerah masing-masing.

Dalam Dampak Gempa Bumi M4,8, Tiga Warga Bali Meninggal Dunia di situs BNPB, masyarakat juga diingatkan agar tidak terprovokasi informasi bohong dan menggunakan sumber resmi seperti BMKG, BNPB, serta BPBD.

Selain sumber, perhatikan waktu dan lokasi kejadian. Berita yang diterbitkan hari ini belum tentu membahas kejadian hari ini. Begitu pula video yang baru diunggah belum tentu merekam peristiwa terbaru.

Data kebencanaan juga bisa berubah. Angka korban, wilayah terdampak, maupun parameter gempa dapat diperbarui setelah proses verifikasi. Perbedaan antara dua laporan tidak otomatis berarti salah satunya hoaks.

Baca Juga: Lima Jurnalis Hilang Saat Meliput Anak Krakatau, Bagaimana Sebenarnya Pedoman Peliputan Bencana?

Kenali Tanda Berita Bencana yang Meragukan

Judulnya Terlalu Sensasional

Judul dengan huruf kapital berlebihan, banyak tanda seru, atau ajakan seperti “wajib tahu” dan “sebarkan sekarang” patut membuat kita berhenti sejenak.

Ini bukan berarti setiap judul sensasional pasti hoaks. Namun, gaya tersebut bisa digunakan untuk mendorong pembaca bereaksi secara emosional sebelum memeriksa isi dan sumber berita.

Ada Klaim, tapi Tidak Ada Data

Waspadai informasi yang menggunakan frasa seperti “informasi yang beredar”, “kata orang dalam”, atau “katanya” tanpa menjelaskan sumber aslinya.

Klaim mengenai jumlah korban, kekuatan gempa, wilayah terdampak, atau status peringatan seharusnya memiliki dasar yang bisa diperiksa. Sebaliknya, data awal yang kemudian diperbarui bukan berarti otomatis merupakan hoaks.

Mengatasnamakan Lembaga atau Pejabat

Nama dan logo BMKG, BNPB, BPBD, pemerintah daerah, maupun pejabat dapat dicantumkan dalam konten palsu untuk membuatnya terlihat meyakinkan.

Jangan berhenti pada tampilan logo. Cari pernyataan yang dimaksud di kanal resmi lembaga tersebut. Kalau klaimnya besar tetapi tidak ditemukan dalam sumber resmi, sebaiknya jangan langsung mempercayainya.

Mengklaim Gempa Bisa Diprediksi Secara Pasti

Pesan yang menyebut gempa tertentu akan terjadi pada tanggal, jam, lokasi, dan magnitudo tertentu perlu dicurigai.

Dalam artikel Respon BMKG Terhadap Isu Gempabumi M 8,8 dan Tsunami di Pantai Selatan Jawa di situs BMKG, menjelaskan bahwa belum ada teknologi yang mampu memprediksi gempa secara tepat dan akurat mengenai kapan, di mana, dan berapa kekuatannya.

Ini berbeda dengan informasi mengenai potensi bahaya, aktivitas seismik, atau kajian risiko. Jadi, jangan menyamakan peringatan atau informasi risiko dengan prediksi pasti.

Sumbernya Hanya “Katanya”

Kalau sebuah pesan meminta kita percaya karena “teman di instansi”, “orang dalam”, atau “kenalan yang tinggal di lokasi” mengatakan sesuatu, jangan berhenti di sana.

Cari sumber primer atau pernyataan resmi yang dapat diperiksa. Kalau sumber awalnya tidak jelas, status informasi tersebut setidaknya masih belum terverifikasi.

Tidak Ada Tanggal atau Konteks

Konten lama dapat kembali viral ketika terjadi bencana serupa. Karena itu, periksa tanggal publikasi dan tanggal kejadian.

Konten lama tidak selalu berarti tidak berguna. Artikel edukasi tentang kesiapsiagaan, misalnya, tetap bisa relevan. Yang bermasalah adalah ketika konten lama disajikan seolah-olah menggambarkan kondisi yang sedang berlangsung.

Meminta “Sebarkan ke Semua Orang”

Kalimat seperti “jangan berhenti di kamu” atau “kalau kamu sayang keluarga, sebarkan” dapat membuat orang merasa bersalah jika tidak meneruskannya.

Dalam kondisi darurat, kepedulian tetap perlu disertai kehati-hatian. Jika informasinya memang penting, bagikan tautan atau pernyataan resmi, bukan pesan berantai yang sudah kehilangan konteks.

Baca Juga: Indonesia Tak Lagi Bebas Siklon Pemicu Bencana, Seberapa Siap Negara?

Apa yang Harus Dilakukan Saat Menemukan Hoaks?

Langkah pertama adalah berhenti menyebarkannya. Setelah itu, cari sumber asli dan bandingkan dengan informasi dari lembaga yang berwenang.

BNPB dalam artikel Hoaks: Permintaan Petugas Penanganan COVID–19 Butuh Kaos Layak Pakai dan Bersih juga mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak meneruskan informasi dan melakukan pengecekan ulang terhadap konten yang beredar.

Bagikan Klarifikasinya, Bukan Hoaksnya

Kalau sebuah informasi sudah terbukti keliru, tidak perlu mengunggah ulang seluruh isi hoaks untuk membantahnya. Cukup jelaskan klaimnya secara singkat dan arahkan pembaca ke sumber yang benar.

Bandingkan Beberapa Sumber

Jangan mengandalkan satu unggahan media sosial. Untuk informasi bencana, bandingkan dengan BMKG, BNPB, BPBD, pemerintah daerah, atau media kredibel yang memiliki informasi langsung dari sumber terkait.

Koreksi Tanpa Mempermalukan

Orang yang membagikan informasi keliru belum tentu berniat menyesatkan. Bisa jadi mereka mengira sedang membantu orang lain.

Daripada menulis “kok kamu percaya?”, lebih baik katakan, “Aku cek di kanal resmi dan informasi ini belum ada konfirmasinya.” Fokus pada informasi yang perlu dikoreksi, bukan menyerang orang yang membagikannya.

Jika konten berpotensi membahayakan, simpan bukti seperti tautan, waktu unggahan, atau tangkapan layar untuk keperluan pelaporan. Jangan mengunggah ulang bukti tersebut secara luas.

Tidak Semua Informasi yang Salah Adalah Hoaks

Hoaks, misinformasi, dan informasi yang belum lengkap tidak selalu berarti hal yang sama.

Hoaks merujuk pada informasi palsu yang dibuat atau disebarkan seolah-olah benar. Misinformasi bisa berupa informasi keliru yang dibagikan oleh orang yang mengira informasi tersebut benar. Sementara itu, laporan awal bencana dapat berubah karena data di lapangan memang belum lengkap.

Karena itu, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa setiap perbedaan data adalah kebohongan. Pertanyaan yang lebih berguna adalah: apa informasi terbaru yang sudah terverifikasi?

Jangan Membuat Kepanikan Baru Saat Membantah Hoaks

Membantah informasi palsu dengan bahasa yang sama-sama dramatis justru bisa membuatnya semakin menarik perhatian.

Klarifikasi sebaiknya sederhana: jelaskan klaimnya, apa yang sudah diverifikasi, lalu berikan sumber yang benar. Tidak perlu mengulang seluruh isi hoaks atau membuat judul yang lebih menakutkan.

Tujuannya bukan memenangkan perdebatan di media sosial, melainkan memastikan orang mendapatkan informasi yang bisa dipercaya dan ditindaklanjuti.

Jika Ragu, Tahan Dulu Sebelum Share

Tidak semua informasi harus segera dibagikan. Kalau setelah mengecek sumber kita masih belum yakin sebuah klaim benar atau salah, menahannya adalah pilihan yang masuk akal.

Dalam situasi bencana, menjadi cepat memang penting. Tetapi menjadi tepat jauh lebih berguna. Satu atau dua menit untuk memeriksa sumber bisa mencegah informasi yang keliru menyebar ke lebih banyak orang.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

About Author

Kevin Seftian

Kevin merupakan SEO Specialist di Magdalene, yang sekarang bercita-cita ingin menjadi dog walker.