15/09/2026
Issues Opini

Ibu-Ibu Pro ASI, Tolong Jangan Hakimi Aku!

Di balik debat panas Pro-ASI vs Ibu Sufor di linimasa, ada kisah seorang ibu yang berhenti menyusui bukan karena malas, tapi demi bertahan hidup di tengah depresi dan BPD pascamelahirkan.

  • September 15, 2026
  • 4 min read
  • 1,293 Views
Ibu-Ibu Pro ASI, Tolong Jangan Hakimi Aku!

Debat kusir antara komunitas Pro-ASI dengan Ibu Sufor di linimasa Threads jujur triggering untukku. Ibu Sufor sering kali dilihat sebagai perempuan malas—malas pumping, malas menyusui, tidak telaten, atau hanya mau hasil instan saja. Ibu Sufor hanya dilihat sebagai budak korporasi besar produsen susu, tidak kritis, dan tidak cukup pintar untuk tahu bahwa di dalam ASI terdapat kandungan vitamin dan mineral yang tak tergantikan.

Sakit rasanya membaca itu, karena pengalamanku sebagai Ibu Sufor mungkin tak sama seperti narasi yang tersebar di Threads. Aku terpaksa.

Aku didiagnosis mengidap depresi dan borderline personality disorder (BPD) saat anak pertamaku berusia 10 bulan. Saat itu, aku juga menghadapi masa sulit karena anakku menghadapi vonis developmental delay dan harus fisioterapi seminggu sekali.

Baca Juga: Kamu Ibu, Kamu Individu Seutuhnya

Lalu dokter jiwa memberiku tiga jenis obat dan berpesan agar aku meminumnya secara teratur: supaya aku bisa tidur lebih baik, supaya pikiran-pikiran untuk menyakiti diri sendiri berkurang, dan supaya aku bisa kembali berfungsi. Ia juga berpesan kepada suamiku agar lebih berhati-hati menyimpan benda-benda tajam di rumah. Sebelum aku meninggalkan ruangan, dokterku mengatakan bahwa sebaiknya aku berhenti menyusui karena obat-obatan itu dapat masuk ke tubuh bayiku melalui ASI.

Tebak apa yang kulakukan?

Kubiarkan obat-obatan itu tergeletak di rumah. Kubiarkan diriku menghadapi rasa putus asa ini sendirian, yang penting anakku tetap mendapatkan ASI. Aku tetap memasak makanan pengganti ASI (MPASI) untuk anakku meski isi kepalaku berkecamuk dan pikiran-pikiran gelap terus berdatangan. Ada momen-momen ketika aku merasa nyaris kehilangan kendali atas diriku sendiri. Aku hanya berusaha bertahan sedikit demi sedikit, hari demi hari, sampai bisa melewati fase paling berat itu.

Tapi keadaanku justru semakin memburuk. Aku semakin tertekan. Kesadaranku terasa semakin buram. Tekanan sosial tentang seperti apa “ibu yang baik” makin besar, sementara berat badan anakku tidak naik. Pekerjaanku di kantor terbengkalai. Rasa bersalah karena merasa menjadi pekerja yang buruk ikut membesar. Sebagai istri pun aku merasa tidak berfungsi.

Aku mulai ketakutan setiap kali waktu makan anakku tiba, karena aku harus memasak dan menyuapinya. Anakku menangis, aku pun ikut menangis. Sampai akhirnya suamiku berkata bahwa keadaan ini tidak bisa dibiarkan terus. Saat itu juga, ia memaksaku minum obat dari dokter jiwa.

Detik itu juga, aku resmi berhenti menjadi Ibu ASI.

Berapa lama sejak diagnosis itu sampai akhirnya aku mau minum obat? Tiga bulan. Selama itu, suamiku melihat kondisi istrinya terus memburuk hanya karena aku bersikeras mempertahankan ASI untuk anakku. Aku percaya ASI adalah cairan surgawi yang hanya bisa diproduksi oleh seorang ibu. Suamiku terus memohon agar aku mau minum obat, dengan alasan anak kami toh sudah mulai makan. Jadi, apa masalahnya?

Buatku, itu masalah besar. Alquran saja menyebut masa menyusui selama dua tahun. Masa aku harus menyerah begitu saja?

Tapi pada akhirnya, aku memang harus menyerah. Aku harus mengakui bahwa obat-obatan itu membuatku menjadi ibu yang lebih tenang. Lebih stabil. Lebih tahu apa yang aku mau. Suamiku melarangku memasak dan melarangku berdekatan dengan benda-benda tajam. Persetan dengan MPASI buatan sendiri, kami masih bisa pesan katering. Hasilnya? Aku membaik.

Kupikir, ada benarnya kata suamiku. Katanya, anakku tidak cuma butuh ASI. Dia juga butuh ibu yang waras. Dan kurasa, dia benar.

Anakku kemudian beralih ke susu formula dengan resep dokter untuk mendukung pertumbuhannya. Iya, susu kaleng seharga 400 ribuan itu, yang sukses membuatku miskin.

Aku juga berkonsultasi dengan beberapa dokter jiwa lain. Mereka menjelaskan bahwa obat yang kukonsumsi punya rentang waktu tertentu sebelum kadarnya menurun di tubuh. Dengan pengaturan waktu tertentu, aku masih mungkin kembali pumping. Aku lalu pindah ke dokter anak yang lebih terbuka dan lebih menerima kondisiku; ia juga menjelaskan hal serupa.

Baca Juga: Ibu-ibu yang Menunggu di Depan Kelas

Aku pun kembali pumping. Aku kembali menjadi Ibu ASI, tapi tidak sepenuhnya. Dengan berbagai pengaturan waktu itu, produksiku menurun drastis. Aku kembali menjadi Ibu ASI, tetapi kali ini aku tidak lagi menolak susu formula. Aku belajar mendengarkan kebutuhan anakku, bukan hanya mendengarkan apa kata masyarakat tentang bagaimana seharusnya seorang ibu menjalani perannya.

Apakah itu berarti aku tetap belum menjadi ibu yang baik karena tidak bisa memberikan ASI sampai anakku berusia dua tahun?

Jadi, Ibu-Ibu Pro ASI, tolong jangan judge aku. Ibu Sufor ini sudah berusaha sekuat tenaga, sampai nyaris kehilangan dirinya sendiri, demi mengejar ASI.

Nadia Safira adalah PNS yang sudah beberapa kali mutasi pindah kota antarpulau, juga seorang ibu dan istri yang didiagnosis depresi, gangguan cemas, dan borderline personality disorder. 

About Author

Nadia Safira