02/09/2026
Culture Opini Screen Raves

‘Adults Season 2’: Saat Sitkom Gen-Z Akhirnya Tahu Mau Jadi Apa

‘Adults’ akhirnya menemukan bentuknya di musim kedua: Lebih lucu, tajam, dan berhasil membuat lima karakternya terasa seperti manusia sungguhan.

  • September 2, 2026
  • 6 min read
  • 5 Views
‘Adults Season 2’: Saat Sitkom Gen-Z Akhirnya Tahu Mau Jadi Apa

Foto: Variety

Saya bisa berargumen, situational comedy (sitkom) adalah salah satu cara paling mudah untuk melihat bagaimana kita merespons perkembangan zaman. Ingin melihat bagaimana orang-orang hidup di dekade 90-an? Tonton Friends. 2000-an? How I Met Your Mother. 2010-an? New Girl. Sayangnya, lanskap televisi yang berubah membuat produk yang tadinya selalu bisa diandalkan, karena sitkom arguably menjadi salah satu andalan televisi, kini terasa semakin sulit dijual.

Hollywood sekarang lebih sibuk membuat tontonan yang didesain untuk dipuja, alias serial yang dirancang untuk memenangkan penghargaan dengan tema-tema berat, atau tayangan yang sekadar dibuat untuk mengisi keheningan, seperti Emily in Paris. Sitkom yang tadinya selalu in fashion perlahan menjadi barang yang dilupakan.

Kehadiran Adults tahun lalu sebenarnya cukup mengejutkan. Dibuat oleh Ben Kronengold dan Rebecca Shaw, Adults adalah salah satu sitkom yang mencoba menghadirkan cara Gen-Z berinteraksi, lengkap dengan kegelisahan, kekonyolan, dan dinamika pertemanan mereka.

Saya masih ingat, dalam ulasan saya untuk musim pertama, saya mengkritik bagaimana sitkom ini sebenarnya menjanjikan, tetapi kurang bumbu dalam menggambar lima karakter utamanya. Setelah tulisan tersebut, saya malah menemukan diri saya sering menonton ulang Adults.

Dari situ, saya menemukan sitkom ini punya potensi yang sangat menjanjikan. Rupanya, potensi tersebut juga disadari para pembuat Adults, karena musim keduanya terasa jauh lebih matang dan percaya diri.

Baca juga: ‘Adults’: Komedi Nongkrong Gen Z yang Jujur, Riuh, dan Kadang Canggung

Musim Kedua yang Tahu Mau Dibawa ke Mana

Musim kedua sebuah serial memang menjadi kesempatan paling efektif bagi para pembuatnya untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan sebelumnya. Biasanya, pada tahap ini, para penulis sudah lebih mengenal pemain mereka sehingga bisa menemukan cara yang lebih efektif untuk menulis dialog dan membangun karakter.

Dalam Adults, proses course-correcting tersebut bahkan dimulai lewat episode prolog berjudul “Marathon Day” yang bisa ditonton secara gratis di YouTube. Episode ini menjadi semacam pintu masuk baru sebelum musim kedua benar-benar dimulai.

Dalam episode tersebut, Kronengold dan Shaw menulis ulang karakter-karakternya dengan lebih tajam. Premisnya sebenarnya sederhana: Samir (Malik Elassal) menyembunyikan tiga temannya, Billie (Lucy Freyer), Issa (Amita Rao), dan Anton (Owen Thiele), yang tinggal di rumahnya tanpa seizin orang tuanya yang sedang plesir.

Penonton kemudian diajak mengikuti dinamika pertemanan mereka lewat kebohongan Anton yang mengaku ikut maraton. Ia melakukan berbagai cara untuk meyakinkan teman-teman kerjanya jika dirinya benar-benar ikut maraton. Dalam perjalanan mengelabui teman-teman kerja Anton, Issa bertemu dengan Paul Baker (Jack Innanen) yang cedera saat ikut maraton.

“Marathon Day” tidak hanya punya one-liner yang benar-benar lucu, tetapi juga dengan cepat memperjelas peran masing-masing karakter dalam lingkaran pertemanan tersebut. Episode ini sekaligus melakukan re-frame terhadap hubungan Anton dan Paul Baker yang menjadi cliffhanger musim pertama.

Adegan ciuman di akhir musim pertama pun terasa lebih masuk akal karena sejak pertemuan pertama, keduanya sudah memiliki sparks yang jelas. Dengan reset tersebut, Adults akhirnya memasuki musim kedua dengan pijakan yang jauh lebih kuat.

Ia sekarang tahu seperti apa dirinya.

Adults adalah sitkom yang cukup self-referential dan meta, persis seperti cara Gen-Z mengonsumsi informasi. Banyak dialog, informasi, dan jokes di dalamnya berangkat dari sesuatu yang sudah diketahui bersama, lalu dipelintir menjadi bahan lelucon.

Musim kedua bahkan secara literally dibuka dengan Issa yang melakukan breaking the fourth wall sambil berkata, “It’s season 2, Paul Baker.” Ketika Raven-Symoné muncul untuk pertama kalinya sebagai bintang tamu, suara laugh track justru membuat salah satu karakter menatap sekeliling dengan kebingungan.

Ada pula karakter cis-hetero yang menunjukkan kaus bertuliskan “Directed by Greta Gerwig” untuk menunjukkan jika dirinya woke. Humor-humor semacam inilah yang akhirnya membuat Adults punya kepribadian yang lebih jelas.

Baca juga: ‘Hacks’ Musim 4: Komedi Tajam, Drama Lebih Gila

Akhirnya, Mereka Terasa Seperti Manusia

Bicara soal identitas, salah satu kritik terbesar saya terhadap Adults di musim pertamanya adalah karakter-karakternya tidak memiliki karakterisasi yang cukup kuat untuk menjelaskan siapa mereka sebagai manusia. Saya menulis jika mereka terasa setengah matang.

Para penulis Adults tampaknya menyadari persoalan tersebut. Di musim kedua, mereka mengembangkan karakter-karakternya dengan mengajak penonton melihat kehidupan mereka di luar rumah Samir.

Ada episode yang memperlihatkan Anton di tempat kerjanya dan bagaimana ia berinteraksi dengan keluarganya. Ada episode yang menunjukkan Paul Baker tidak seperti kelihatannya, termasuk saat diketahui jika ia ternyata punya teman-teman masbro. Ada episode ketika Issa berakting seperti orang yang tidak tahu bagaimana cara flirting.

Samir juga diperlihatkan kebingungan ketika mencoba menjadi the perfect boyfriend. Sementara itu, Billie harus berhadapan dengan persoalan mencari pekerjaan. Semua perluasan cerita ini membuat kelima karakter tersebut tidak lagi sekadar berfungsi sebagai bagian dari satu kelompok pertemanan.

Melebarkan semesta karakter ternyata efektif membuat saya melihat mereka dengan mata yang berbeda. Mereka memang akhirnya tetap tidak bisa didefinisikan hanya dengan satu kata seperti karakter-karakter dalam Friends, tetapi setidaknya sekarang lima karakter utama Adults terasa dan terlihat seperti manusia beneran.

Mereka punya pekerjaan, keluarga, hubungan romantis, kegagalan, kebingungan, serta persoalan masing-masing. Kehidupan mereka tidak berhenti ketika kamera meninggalkan rumah Samir.

Terakhir, hal yang juga dimanfaatkan dengan begitu baik oleh Adults di musim kedua adalah performa para pemainnya. Sebenarnya, chemistry para pemain sudah oke sejak musim pertama, salah satu hal yang membuat Adults tetap terasa optimal meski karakterisasinya belum sepenuhnya matang.

Namun, di musim kedua, saya benar-benar merasa lima orang ini peduli dan sayang satu sama lain. Mereka tahu bagaimana saling merespons, bercanda, marah, atau bahkan flirting dengan lebih luwes.

Pada akhirnya, perkembangan karakter dan performa para pemain membuat Adults berubah menjadi sitkom yang menyenangkan. Bukan cuma karena leluconnya semakin bekerja, tetapi karena sekarang kita punya alasan untuk peduli pada orang-orang yang sedang kita tonton.

Dan mungkin di situlah kekuatan terbesar musim kedua Adults. Ia tidak lagi sekadar menjadi sitkom tentang lima anak muda yang tinggal bersama dan melakukan hal-hal konyol. Ia mulai memahami bagaimana membuat kelima karakter tersebut terasa seperti orang-orang yang benar-benar sedang mencoba menjalani hidup.

Kalau konsistensi ini bisa dipertahankan, Adults punya peluang menjadi salah satu sitkom yang akan diingat ketika kita membicarakan representasi Gen-Z di televisi.

Catatan: Seluruh episode telah ditonton untuk menulis ulasan ini.

Adults dapat disaksikan di Disney+ Hotstar.

About Author

Candra Aditya

Candra Aditya adalah penulis, pembuat film, dan bapaknya Rico. Novelnya ‘When Everything Feels Like Romcoms’ dapat dibeli di toko-toko buku.