26/07/2026
Culture Issues Opini

Lagu Bupati Purwakarta: Cermin Dangkalnya Pemahaman Gender Pejabat Kita

Lagu ciptaan Bupati Purwakarta memicu kemarahan publik karena menjadikan pengalaman biologis perempuan sebagai bahan olok-olok. Di balik liriknya, tersimpan praktik kekerasan simbolik yang memperkuat cara pandang misoginis.

  • July 3, 2026
  • 5 min read
  • 721 Views
Lagu Bupati Purwakarta: Cermin Dangkalnya Pemahaman Gender Pejabat Kita

Foto: Portal Resmi Kabupaten Purwakarta

Akhir-akhir ini menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) terasa melelahkan, dan saya bukan satu-satunya yang merasakannya. Ungkapan lelah menjadi WNI ramai dibicarakan di media sosial, bahkan berkembang menjadi lelucon dan meme. Kekecewaan publik dipicu beragam persoalan sosial politik, mulai dari isu pajak, Makan Bergizi Gratis (MBG), krisis iklim, biaya pendidikan yang terus meningkat, hingga berbagai persoalan yang kerap diselesaikan melalui pendekatan militeristik.

Di tengah perbincangan tersebut, publik kembali dibuat geleng kepala oleh lagu ciptaan Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein. Lagu berbahasa Sunda berjudul Lalaki Langit, Lalanang Bejat memicu kritik karena liriknya dinilai misoginis dan menjadikan pengalaman biologis perempuan, seperti menstruasi, kehamilan, melahirkan, hingga keguguran, sebagai punchline untuk menegaskan betapa “enaknya” menjadi laki-laki. Yang dipertontonkan bukan sekadar humor, melainkan privilese maskulin yang menempatkan pengalaman perempuan sebagai objek komedi.

Saat kasus ini viral, Saepul mengaku lagu tersebut merupakan cerita tentang dirinya sendiri.

“Itu puisi dan lagu diciptakan tahun 2020, bercerita tentang diri saya sendiri, berawal dari renungan atas perialku saya sendiri yang menurut saya saat itu saya nakal,” kata Saepul dikutip dari Antaranews.com.

Ia juga menyampaikan permintaan maaf atas lirik lagu tersebut. Namun, ketika sebuah karya lahir dari seorang pejabat publik, karya itu tidak berhenti sebagai ekspresi personal. Setelah beredar luas di ruang publik, terutama media sosial, karya tersebut hidup melalui beragam tafsir masyarakat.

Baca juga: Erika: Lagu Seksis Zaman ‘Baheula’ yang Harusnya Dikubur Saja

Berikut lirik lagu tersebut.

Nuhun Gusti tos nyiptaekeun kuring jadi lalaki.

(Terima kasih Tuhan sudah menciptakan aku jadi laki-laki)

Cacak mun jadi awewe SMP kelas tilu tos karuron tujuh kali.

(Andai saja jadi perempuan SMP kelas tiga sudah keguguran tujuh kali)

Nuhun Gusti tos nyiptaekeun kuring jadi lalaki.

(Terima kasih Tuhan sudah menciptakan aku jadi laki-laki)

Teu kudu meuli kutang itu busana leuwih gede batan susu.

(Tidak usah membeli bra yang busanya lebih besar daripada payudara)

Nuhun Gusti tos nyiptaekeun kuring jadi lalaki.

(Terima kasih Tuhan sudah menciptakan aku jadi laki-laki)

Teu kudu ngaprak-ngaprak apotek alatan telat bulan.

(Tidak usah keluyuran mencari apotek karena telat datang bulan)

Nuhun Gusti tos nyiptaekeun kuring jadi lalaki.

(Terima kasih Tuhan sudah menciptakan aku jadi laki-laki)

Teu kudu ngaluki halis jeung bulu mata sakalina ngiceup hese beunta.

(Tidak usah melukis alis dan bulu mata yang sekali berkedip susah melek)

Baca juga: Anjuran Suswono Janda Kaya Nikahi Pengangguran: Sudah Seksis, Objektifikasi Pula

Kekerasan Simbolik

Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu dalam Masculine Domination (2001) menjelaskan, kekerasan yang paling berbahaya justru tidak meninggalkan luka lebam. Ia menyebutnya sebagai symbolic violence atau kekerasan simbolik. Menurut Bourdieu, kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk pukulan. Ia juga dapat muncul melalui candaan, budaya, lagu, pepatah, maupun bahasa.

Dalam konteks ini, lirik lagu yang merendahkan perempuan kerap dianggap sekadar hiburan. Justru karena dipandang biasa, bentuk kekerasan ini menjadi efektif. Terjadi pemaksaan makna, dominasi, serta nilai tertentu yang diterima begitu saja hingga dianggap wajar dan benar.

Polemik lagu Bupati Purwakarta dapat dibaca melalui kerangka tersebut. Pengalaman biologis perempuan, seperti menstruasi, kehamilan, melahirkan, hingga keguguran, tidak dihadirkan sebagai pengalaman yang layak dipahami. Sebaliknya, pengalaman itu dijadikan pembanding untuk melegitimasi betapa “beruntungnya” menjadi laki-laki.

Dalam lirik lagu ini, tubuh perempuan mengalami pergeseran fungsi. Tubuh tidak lagi diposisikan sebagai subjek yang memiliki pengalaman, melainkan menjadi objek humor untuk menghibur sekaligus menguatkan identitas maskulin.

Hal yang lebih problematis terletak pada posisi pencipta lagunya. Ketika narasi misoginis disampaikan kepala daerah atau pejabat publik, narasi tersebut tidak lagi menjadi ekspresi seni personal. Ia membawa otoritas simbolik sebagai figur publik. Dalam kerangka pemikiran Bourdieu, otoritas ini memberi legitimasi terhadap cara pandang tertentu. Candaan yang mungkin dianggap biasa memperoleh bobot baru karena datang dari seseorang yang memiliki kuasa sosial dan politik.

Baca juga: 5 Lagu Indonesia yang Biner dan Heteronormatif

Tubuh Perempuan sebagai Objek Humor

Mengapa pengalaman tubuh perempuan, seperti menstruasi, kehamilan, atau melahirkan, begitu sering dijadikan bahan lelucon? Sebaliknya, pengalaman biologis laki-laki jarang diperlakukan dengan cara serupa.

Jawabannya tidak terletak pada tubuh perempuan, melainkan pada relasi kuasa. Sejak lama, tubuh perempuan tidak hanya dipandang sebagai tubuh biologis, tetapi juga sebagai ruang sosial yang seolah terbuka untuk dikomentari, diatur, bahkan ditertawakan. Masyarakat merasa memiliki hak menilai standar kecantikan, cara berdandan, cara berpakaian, hingga pilihan perempuan untuk memiliki anak atau tidak.

Kesenjangan tersebut membuat pengalaman perempuan lebih mudah direduksi menjadi komedi. Menstruasi, yang semestinya dipahami sebagai pengalaman biologis kompleks, justru dilekatkan dengan stigma kelemahan. Kehamilan maupun keguguran, yang semestinya menghadirkan empati atas beratnya pengalaman perempuan, malah dipakai untuk memancing tawa. Akibatnya, tubuh perempuan kembali diposisikan sebagai objek, bukan subjek yang memiliki pengalaman hidup.

Pemikiran ini mengingatkan saya pada Judith Butler dalam Gender Trouble (1990). Butler berpendapat gender bukan sesuatu yang muncul secara alamiah, melainkan terus diproduksi melalui bahasa, tindakan, dan praktik budaya yang diulang tanpa henti. Lagu, film, maupun praktik budaya sehari-hari tidak sekadar mencerminkan cara masyarakat memandang perempuan, tetapi juga membentuk cara pandang tersebut.

Karena itu, tokoh publik memang berhak berkesenian. Namun, ketika sebuah lagu lahir dari seorang pejabat publik, karya tersebut tidak lagi hadir sebagai karya yang netral. Ia membawa otoritas, memproduksi makna, dan perlahan membentuk cara masyarakat memandang dunia. Yang dipertaruhkan bukan sekadar selera humor, melainkan nilai-nilai yang ikut dinormalisasi melalui humor tersebut.

Ketika lagu digunakan untuk menertawakan pengalaman biologis perempuan, yang dipertaruhkan bukan hanya sensitivitas gender, tetapi juga kualitas imajinasi sosial yang sedang dibangun para pemimpin. Di tengah masyarakat yang masih bergulat dengan ketimpangan gender, publik membutuhkan narasi yang membuat setiap orang merasa dihargai, bukan humor yang lahir dari pengalaman tubuh perempuan.

Uswah Sahal adalah seorang perempuan yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian sastra, budaya, gender, dan isu lingkungan.

“Penulis menggunakan alat bantu Akal Imitasi (AI), seperti ChatGPT, secara terbatas untuk penyuntingan bahasa dan perapian struktur tulisan. Seluruh isi, analisis, dan argumen merupakan hasil riset, observasi, dan pemikiran penulis.”

About Author

Uswah Sahal

Uswah Sahal Adalah Perempuan yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian sastra, budaya, gender dan isu lingkungan