30/10/2026
Issues Opini Relationship

Asal Bukan Istri Saya: Membaca #StopTheWedding Lewat Pemikiran Saparinah Sadli

Tren #StopTheWedding bukan ajakan mencurigai laki-laki. Lewat pemikiran Saparinah Sadli, ia menjadi ruang untuk mempertanyakan aturan tak tertulis dalam pernikahan.

  • October 30, 2026
  • 5 min read
  • 11 Views
Asal Bukan Istri Saya: Membaca #StopTheWedding Lewat Pemikiran Saparinah Sadli

Di media sosial, pernikahan belakangan tidak hanya dirayakan lewat foto lamaran, gaun putih, atau video pasangan yang saling mengikat janji. Ada pula tren #StopTheWedding yang mengajak orang membayangkan alasan untuk mempertimbangkan kembali keputusan menikah. 

Diiringi lagu milik Ashe, pengguna media sosial membagikan berbagai tanda bahaya dalam hubungan: pasangan yang posesif, pandangan yang merendahkan perempuan, sampai bayangan tentang pekerjaan domestik dan karier setelah menikah. Di balik formatnya yang ringan, tren ini membuka pertanyaan yang lebih mendasar: apakah perempuan dan laki-laki memiliki ruang yang setara dalam sebuah hubungan?

Pertanyaan itu membawa saya pada pemikiran Saparinah Sadli dalam buku Elan Saparinah karya Fenty Effendy. Bagi Saparinah, feminisme bukan perjuangan menempatkan perempuan di atas laki-laki. Ia memaknai esensi gerakan feminis sebagai upaya agar perempuan dan laki-laki tidak mengalami diskriminasi di berbagai bidang kehidupan. Kita memang berbeda, tetapi perbedaan itu bukan alasan untuk memperlakukan seseorang secara tidak setara.

Pemikiran ini penting ketika membaca #StopTheWedding, sebab persoalan dalam tren tersebut tidak selalu terletak pada keputusan menikah atau tidak. Persoalannya bisa berada pada aturan tak tertulis yang menyertai pernikahan: siapa yang dianggap bertanggung jawab atas rumah, siapa yang diharapkan menyesuaikan karier, siapa yang lebih sering mengalah, dan siapa yang tetap bebas mengejar ambisinya.

Saparinah pernah bercerita tentang percakapannya dengan seorang laki-laki berpengaruh. Laki-laki itu mengaku mendukung kesetaraan perempuan dan laki-laki, bahkan setuju perempuan bisa menjadi apa saja, dari pilot, ahli teknik, hingga direktur. Namun dukungan itu ada batasnya. Di akhir percakapan, ia berkata, “Asal bukan istri saya.”

Anekdot dalam Elan Saparinah ini memperlihatkan kontradiksi yang menarik: seseorang bisa mendukung kesetaraan sebagai gagasan, tapi belum tentu siap menerimanya ketika menyentuh kehidupan pribadinya. Perempuan boleh berambisi, selama ambisi itu tidak mengusik peran yang telanjur dilekatkan padanya sebagai istri.

Diskriminasi tidak selalu hadir sebagai larangan tegas. Ia bisa bertahan lewat harapan yang tampak wajar, bahkan dibungkus kasih sayang. Perempuan boleh berkarier, selama tidak mengganggu rumah tangga. Boleh berpendidikan tinggi, selama tidak dianggap melampaui pasangannya. Boleh berpendapat, selama tidak dinilai terlalu keras atau sulit diatur. Ketika syarat-syarat semacam ini diterima tanpa dipertanyakan, kesetaraan hanya berlaku selama tidak mengusik kenyamanan yang sudah ada.

Baca juga: When Marriage Is Simply Not For You

Urusan perempuan adalah urusan bersama

Saparinah juga mengingatkan bahwa persoalan perempuan tidak semestinya dipisahkan dari persoalan laki-laki. Dalam buku itu, pandangannya muncul lewat kritik terhadap cara berpikir yang memilah urusan perempuan dan urusan laki-laki, yang justru merugikan kehidupan bersama. Artinya, pembagian peran gender bukan urusan perempuan semata. Ketika pekerjaan rumah dibebankan terutama kepada istri, persoalannya bukan hanya apakah perempuan mampu mengerjakannya. Kita juga perlu bertanya mengapa pekerjaan itu dianggap tanggung jawab utamanya, sementara keterlibatan suami kerap diperlakukan sebagai bantuan.

Membaca Saparinah juga berarti memahami bahwa feminisme tidak harus dijalankan dengan satu cara. Fenty Effendy menggambarkan bagaimana Saparinah menghindari istilah “feminis” sampai akhir 1990-an, agar orang tidak lebih dulu menolak isu perempuan hanya karena labelnya. Itu bukan berarti ia meninggalkan gagasannya. Ia justru memikirkan bagaimana kesetaraan bisa dipahami di tengah masyarakat yang masih curiga pada istilah itu.

Saparinah pun tidak memutlakkan satu strategi. Menurutnya, caranya bisa bermacam-macam: berkolaborasi, tidak berkolaborasi, atau memilih bentuk kerja sama sendiri. Yang utama adalah tujuannya, yakni memajukan perempuan. Pandangan ini menunjukkan bahwa feminisme tidak harus dipahami sebagai penolakan terhadap laki-laki atau penutupan ruang dialog. Namun keterbukaan terhadap kerja sama juga tidak berarti semua hal boleh dikompromikan.

Di sinilah kolaborasi perlu dibedakan dari tuntutan agar perempuan terus menyesuaikan diri. Kerja sama baru bermakna jika kedua pihak bersedia mengevaluasi kebiasaan dan pembagian tanggung jawab yang selama ini merugikan salah satunya. Kalau perempuan selalu diminta bersabar, memahami, dan mengalah, sementara laki-laki tidak dituntut berubah dengan takaran yang sepadan, yang berlangsung bukan kesetaraan, melainkan penyesuaian sepihak.

Karena itu, #StopTheWedding menarik dibaca bukan sebagai seruan untuk mencurigai setiap laki-laki atau menganggap semua pernikahan sebagai ruang penindasan. Tren ini bisa menjadi kesempatan membicarakan hal-hal yang terlambat dibahas: pandangan tentang kerja domestik, dukungan terhadap karier pasangan, pengambilan keputusan, dan cara menyelesaikan konflik. Tentu, potongan video tidak cukup untuk menilai keseluruhan hubungan seseorang. Tetapi percakapan yang muncul darinya bisa membantu kita mengenali asumsi yang selama ini dianggap normal.

Baca juga: Saparinah Sadli: A Century of Curiosity, Courage and Conviction

Pemikiran Saparinah mengajak kita bergerak melampaui pertentangan sederhana antara perempuan dan laki-laki. Tujuannya bukan mencari siapa yang disalahkan berdasarkan gendernya, melainkan mengubah relasi yang membuat diskriminasi terus berlangsung. Itu juga berarti laki-laki tidak cukup hanya menyatakan dukungan; mereka perlu memeriksa bagaimana nilai itu dijalankan di rumah, dalam hubungan, dan dalam keputusan sehari-hari.

Sebelum mengucapkan “I do”, barangkali pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya apakah kita sudah menemukan pasangan yang tepat. Kita juga perlu bertanya: apakah kita sedang membangun hubungan yang memberi ruang bagi dua orang untuk tumbuh, atau memasuki pernikahan dengan pembagian peran yang sejak awal meminta salah satunya mengecilkan diri?

Seperti yang bisa kita pelajari dari Saparinah Sadli, kesetaraan tidak berarti perempuan dan laki-laki harus menjadi sama. Kesetaraan berarti perbedaan tidak dijadikan alasan untuk membatasi hak, kesempatan, dan kemungkinan hidup seseorang. Dan jika sebuah hubungan hanya bisa bertahan ketika satu pihak terus mengalah, mungkin yang perlu dihentikan bukan semata pernikahannya, melainkan anggapan bahwa ketidaksetaraan adalah harga yang wajar untuk mempertahankannya.

Ilustrasi oleh Karina Tungari

About Author

Nicola Ananda

Click to access the login or register cheese