30/10/2026
Issues Opini

Lo Jual, Gue Beli: Kemarahan Ibu Bukan Aib

Laki-laki yang membalas dianggap tegas, ibu yang menjawab dianggap emosional. Membaca konflik Sarwendah lewat hak perempuan untuk bersuara.

  • October 30, 2026
  • 3 min read
  • 15 Views
Lo Jual, Gue Beli: Kemarahan Ibu Bukan Aib

“Lo jual, gue beli.” Kalau kalimat itu keluar dari mulut laki-laki, orang kebanyakan menyebutnya tegas. Berani. Tapi saat keluar dari mulut perempuan, apalagi seorang ibu, asosiasi yang muncul biasanya lain: emosional, kekanak-kanakan, tidak pantas.

Itu yang saya lihat dari cara orang menanggapi konflik artis Sarwendah dan mantan suaminya, Ruben Onsu, belakangan ini. Di tengah sengketa hak asuh yang belum selesai, keduanya bolak-balik saling “sindir” dan “spill” di media sosial, dan menurut saya itu menarik dibedah. 

Baca juga: Ibu Makan Setelah Semua Orang Kenyang, Jangan Lagi Dianggap Romantis

Komentar yang bermunculan setiap kali Sarwendah merespons jarang membahas isi jawabannya. Yang dipersoalkan adalah kenapa ia terus menjawab dan tidak diam saja supaya tidak melebar. Sebagian bahkan mempertanyakan moralitasnya, terutama soal hubungannya dengan pasangan barunya.

Tapi sejak kapan sih seorang perempuan, terutama seorang ibu, kehilangan hak untuk menjawab?

Ibu diharapkan menelan semuanya. Dituduh, diam. Disindir, senyum. Dipancing, tahan. Begitu ia bereaksi, langsung terdengar: “Ibu kok begitu?” Seakan kemarahan seorang ibu hanya boleh muncul di kamar, setelah anak-anak tidur, tanpa ada yang melihat.

Padahal marah adalah respons manusiawi. Siapa pun yang nilai dirinya terus dikecilkan berhak bilang, “Tunggu dulu, ceritanya tidak begitu.” Apalagi bila yang diserang adalah posisinya sebagai ibu, peran yang kini ia pertahankan di pengadilan.

Ada hal lain yang menurut saya lebih dalam daripada sekadar suara perempuan yang tidak dipercaya: harga diri seorang ibu dihapus pelan-pelan. Bertahun-tahun mengasuh dan mengurus anak seakan hilang karena satu-dua unggahan yang dikomentari ratusan, ribuan, bahkan puluhan ribu orang asing. Kemarahannya dicap berlebihan, seolah ia tidak punya alasan untuk merasa terhina. Pengasuhannya dinihilkan, lalu perasaannya ikut dinihilkan.

Dalam kasus Sarwendah, saya pribadi melihat sikapnya seperti berkata, “Lo jual, gue borong.” Bukan lagi sekadar membeli, tapi memborong semua yang dijual. Berani, dan terus terang, membuat jantung saya, dan mungkin para warganet yang jadi “penonton”, ikut berdebar. Itu keberanian yang berisiko, tapi patut dihargai. Tidak mudah berdiri tegak ketika di ruang publik selalu ada orang, kenal maupun tidak, yang menunggumu terpeleset.

Setelah itu barulah kita perlu melatih nalar kritis. Jangan berhenti di “dia marah” atau “nyaut melulu bikin keruh”. Tanyakan apa yang ia tanggapi, sepanjang apa rentetan peristiwa sebelumnya, dan apa yang sedang ia pertaruhkan. Nilai perlawanan seorang ibu dari substansinya, jangan dianggap sekadar urusan ego.

Baca juga: Kita Hanya Terbiasa Mengira Pekerjaan Rumah itu Urusan Perempuan

Ada anggapan bahwa ibu yang baik adalah ibu yang diam, karena diam itu emas. Padahal diam punya harga, dan sering kali mahal. Diam bisa berarti membiarkan cerita sepihak menjadi satu-satunya versi yang beredar. Dalam situasi yang terus menyudutkan, orang yang melakukan segala cara untuk mempertahankan posisinya sering dianggap lebih bisa dipahami daripada yang pasrah. Pepatah lama bilang, all is fair in love and war, dan perkara hak asuh anak punya keduanya sekaligus.

Tentu “segala cara” tetap punya batas, dan batas itu ditentukan hukum, bukan emosi penonton. Siapa yang benar akan diputuskan pengadilan. Tugas kita lebih kecil tapi nyata: memahami sebelum menghakimi.

About Author

Poppy R. Dihardjo

Poppy R. Dihardjo atau biasa dipanggil Kapop adalah orangtua tunggal, praktisi komunikasi dan lawyer in progress yang suka sambat di medsos seputar isu perempuan.

Click to access the login or register cheese