27/07/2026
Culture Opini Screen Raves

‘Hacks’ Season 5 dan Warisan Terbesar Deborah Vance 

Musim terakhir Hacks membawa Deborah Vance mengejar warisan terbesar dalam kariernya. Namun, pada akhirnya, yang membuatnya terus hidup bukan panggung megah, melainkan materi baru dan hubungannya dengan Ava.

  • July 2, 2026
  • 5 min read
  • 395 Views
‘Hacks’ Season 5 dan Warisan Terbesar Deborah Vance 

(Mengandung spoiler)

Musim keempat Hacks berakhir dengan sesuatu yang jarang dilakukan serial ini: cliffhanger. Deborah Vance (Jean Smart) akhirnya mendapatkan apa yang selama puluhan tahun ia kejar—menjadi perempuan pertama yang sukses membawakan late-night talk show. Namun, sebuah kesalahan Ava Daniels (Hannah Einbinder) membuat Deborah harus membelanya di depan publik. Akibatnya, Deborah disingkirkan dan dilarang tampil selama kontraknya dengan stasiun televisi masih berlaku.

Bagi Deborah, larangan tampil nyaris sama dengan larangan bernapas. Ia memang menemukan celah untuk manggung di Singapura menggunakan penerjemah—secara teknis, bukan dia yang menyampaikan lelucon—tetapi kehidupannya tetap terasa mandek. Ava, yang ikut terdampar bersamanya, mencoba mengajak Deborah kembali menulis materi dan membangun karier dari awal. Deborah malah sengaja menyakitinya agar Ava pergi.

Lalu TMZ salah memberitakan kematian Deborah. Lucunya, ia tidak terlalu tersinggung karena dinyatakan meninggal. Ia marah karena berita itu menulis bahwa dialah yang “membunuh” late-night show-nya.

That will not be my legacy!” teriaknya.

Baca juga: ‘Hacks’ Musim 4: Komedi Tajam, Drama Lebih Gila

Kalimat itu menjadi kunci musim terakhir Hacks. Deborah tidak lagi sekadar mengejar pekerjaan berikutnya. Ia sedang berusaha menentukan bagaimana dunia akan mengingatnya.

Awalnya, ia membayangkan EGOT—Emmy, Grammy, Oscar, dan Tony—sebagai warisan yang cukup megah. Tak seorang pun di timnya berani mengatakan betapa konyolnya rencana itu, meskipun mereka nyaris tertawa ketika menyaksikannya merekam lagu demi mengejar Grammy.

Ava kemudian menawarkan gagasan yang lebih masuk akal sekaligus nyaris mustahil: menjual habis pertunjukan stand-up di Madison Square Garden. Bahkan bintang pop pun kesulitan melakukannya, apalagi komedian. Jika Deborah berhasil, namanya akan tercatat sebagai legenda.

Dari sini, Hacks kembali menunjukkan kekuatan utamanya: mengubah ambisi absurd menjadi rangkaian episode yang sangat lucu. Deborah dan tim membujuk pengelola Madison Square Garden, menyusun promosi dengan atraksi sulap, dan mengejar kostum yang pernah dikenakan Carol Burnett. Ada juga episode sempalan tentang Deborah berpacaran dengan bintang pop muda, mengikuti kompetisi mirip The Amazing Race bersama putrinya, hingga berpura-pura menjalin hubungan dengan Ava.

Namun Lucia Aniello, Paul W. Downs, dan Jen Statsky terlalu cerdas untuk sekadar memberi Deborah kemenangan mudah. Semua tiket memang habis dalam sepuluh menit. Masalahnya, Bob Lipka (Tony Goldwyn), pemilik stasiun televisi yang menyingkirkannya, membeli seluruh tiket agar Deborah tidak membongkar kebusukannya di panggung.

Kekalahan itu menghancurkan. Tetapi Hacks mengubahnya menjadi kemenangan yang lebih besar. Deborah menggelar pertunjukan gratis di Central Park dan menarik salah satu kerumunan terbesar dalam sejarah. Ia tetap menjadi legenda, hanya bukan melalui jalur yang telah direncanakannya.

Baca juga: ‘Hacks Season 3’: Kembalinya Duo Komedian Beda Generasi

Akhir yang tidak mudah ditebak

Seperti yang pernah saya tulis tentang musim-musim sebelumnya, Hacks pada dasarnya adalah kisah cinta. Bukan romantis, tetapi strukturnya menyerupai kisah enemy-to-lovers. Deborah membutuhkan materi baru setelah kehilangan panggung tetapnya di Las Vegas. Ava membutuhkan pekerjaan setelah “dibatalkan” akibat cuitan problematik. Mereka awalnya enggan bekerja sama, lalu perlahan menyadari bahwa mereka memahami satu sama lain dengan cara yang tidak dapat dilakukan orang lain.

Musim terakhir terus memberi petunjuk tentang akhir Deborah. Kematian dan kata “legacy” berulang kali muncul. Ava menganggap obsesi Deborah untuk menjadi legenda hanya bagian dari perfeksionismenya. Penonton mulai menduga ada hal lain yang sedang disiapkan.

Dugaan itu terkonfirmasi pada episode terakhir. Deborah meminta Ava menemaninya ke Eropa sebelum pergi ke Zurich untuk menjalani assisted suicide. Kankernya kembali. Ava memohon agar ia mengubah keputusan, tetapi Deborah tidak ingin kembali hidup dalam rasa sakit.

Perjalanan mereka di Paris menjadi episode Hacks yang paling melankolis. Mereka mengunjungi museum, pasar barang bekas, klub malam, dan restoran. Mereka tertawa seperti biasa, tetapi kali ini setiap lelucon terasa memiliki batas waktu. Penonton disiapkan untuk berpisah dengan Deborah.

Namun, Hacks sekali lagi menolak akhir yang mudah ditebak.

Deborah menyadari bahwa hidup dan komedinya berubah setelah bertemu Ava. Optimisme Gen Z Ava, obsesinya pada bahasa yang politis, dan pandangannya tentang seks mungkin sering membuat Deborah kesal. Namun, Ava juga membuatnya lebih tajam, lebih relevan, dan lebih manusiawi.

Baca juga: ‘Hacks’: Komedi Kualitas Premium

Pada menit-menit terakhir, Deborah mengakui bahwa waktunya mungkin tidak banyak. Tetapi ia masih memiliki materi baru. Itulah akhir yang sempurna. Bagi Deborah, hidup bukan hanya tentang berapa lama ia bisa bertahan, melainkan apakah ia masih memiliki sesuatu untuk dikatakan. Warisan terbesarnya bukan EGOT, Madison Square Garden, atau rekor jumlah penonton. Warisannya adalah komedi yang terus berkembang dan hubungan dengan Ava yang membuatnya mau terus menulis.

Membuat komedi yang bagus saja sudah sulit. Menjaga kualitasnya tetap konsisten hingga musim terakhir terasa seperti keajaiban. Hacks tidak hanya menghadirkan salah satu finale paling memuaskan, tetapi juga membuat kita ingin kembali ke awal dan menyaksikan bagaimana dua perempuan dengan ego, luka, dan cara pandang yang berbeda perlahan menjadi bagian terpenting dalam hidup satu sama lain. itu perlahan menjadi bagian terpenting dalam hidup satu sama lain.

Dan saya yakin, saya bukan satu-satunya yang langsung memutar kembali episode pertama ketika end credits terakhir bergulir.

Seluruh episode ditonton untuk keperluan ulasan ini.

Hacks dapat disaksikan di HBO Max.

About Author

Candra Aditya

Candra Aditya adalah penulis, pembuat film, dan bapaknya Rico. Novelnya ‘When Everything Feels Like Romcoms’ dapat dibeli di toko-toko buku.