Ketika laki-laki paruh baya berkencan atau menikah dengan perempuan jauh lebih muda, masyarakat sering menganggapnya wajar. Bahkan, hubungan semacam itu kadang dibaca sebagai tanda sukses: laki-laki mapan, menarik, dan masih “laku”.
Namun ketika perempuan dewasa menjalin relasi dengan laki-laki lebih muda, reaksinya bisa berbeda. Ia dianggap sedang mencari validasi, takut menua, atau diberi label “cougar”—istilah yang membawa bayangan perempuan predatoris.
Saya memikirkan ini setelah berkenalan dan kemudian berkencan dengan seorang pemuda usia 25 tahun. Sebut saja ia Farrel, yang bekerja di sebuah perusahaan sambil menyelesaikan kuliah.
Di dunia maya, relasi perempuan dewasa dengan laki-laki lebih muda juga makin sering menjadi bahan pembicaraan. Pernikahan Luna Maya dan Maxime Bouttier yang terpaut sekitar sepuluh tahun sempat viral. Berita tentang Olla Ramlan dan Tristan Mollina juga memantik komentar publik. Pada 2026, Viu merilis serial Tiba-tiba Brondong, tentang seorang dosen berusia 26 tahun yang ditaksir laki-laki 18 tahun melalui aplikasi kencan.
Fenomena ini bukan hanya muncul di Indonesia. Dalam salah satu episode siniar The New York Times, Older Women Are in Demand by Younger Men, dibahas bagaimana ketertarikan laki-laki muda pada perempuan yang lebih tua semakin terlihat di aplikasi kencan tertentu. Namun, di luar tren aplikasi, yang lebih menarik bagi saya adalah pertanyaan ini: mengapa perempuan dewasa yang berkencan dengan laki-laki lebih muda lebih mudah dicurigai, sementara laki-laki berumur dengan pasangan muda sering dianggap biasa saja?
Dalam percakapan sehari-hari, “brondong” merujuk pada laki-laki yang lebih muda dari pasangan perempuannya. Istilah ini sering dipakai dengan nada bercanda, meski kadang juga mereduksi laki-laki muda sebagai fantasi seksual semata. Karena itu, tulisan ini bukan untuk merayakan “brondong” sebagai tren baru, melainkan untuk membaca apa yang muncul ketika perempuan dewasa memilih, menginginkan, dan menjalani relasi dengan laki-laki lebih muda.
Baca Juga: Dilema Pacaran dengan Pengidap Gangguan Kesehatan Mental
Hasrat perempuan yang terlalu lama diawasi
Perempuan dewasa, terutama yang memasuki usia 40-an dan 50-an, sering dipaksa berdamai dengan anggapan bahwa hasrat mereka pelan-pelan harus menghilang. Perimenopause dan menopause lebih sering dibicarakan sebagai fase kehilangan: kehilangan kesuburan, daya tarik, dan masa muda. Jarang sekali fase ini dibaca sebagai bagian hidup yang tetap bisa memuat hasrat, rasa ingin tahu, dan kemungkinan baru.
Karena itu, ketika perempuan dewasa berkencan dengan laki-laki lebih muda, publik kerap bereaksi seolah ada sesuatu yang tidak pada tempatnya. Seolah perempuan pada usia tertentu seharusnya berhenti menginginkan dan berhenti diinginkan.
Saya tumbuh bersama budaya populer seperti Sex and the City. Lewat Samantha Jones, saya pertama kali melihat perempuan dewasa digambarkan sebagai subjek seksual, bukan hanya objek tatapan laki-laki. Tentu representasi seperti Samantha tidak sempurna. Ia datang dari kelas sosial, tubuh, dan privilese tertentu. Namun bagi banyak perempuan, karakter seperti itu tetap membuka ruang untuk membicarakan hasrat perempuan tanpa langsung dihakimi.
Ketika teman-teman perempuan tahu saya berkencan dengan Farrel, komentar mereka beragam. Ada yang menggoda, ada yang penasaran, ada yang menyebut saya sedang “menjalani mimpi banyak perempuan”. Di balik candaan itu, saya menangkap sesuatu yang lebih dalam: banyak perempuan ingin membicarakan hasratnya, tapi terbiasa membungkusnya dengan lelucon agar tetap terasa aman.
Padahal, hasrat perempuan tidak perlu selalu dijadikan bahan candaan agar bisa diterima.
Baca Juga: Tips Kencan Ekonomis Nan Romantis Ala SJW
Label yang selalu lebih tajam untuk perempuan
Dalam relasi beda usia, label yang dilekatkan pada perempuan sering lebih keras. Laki-laki lebih tua dengan pasangan muda kerap dianggap biasa. Namun perempuan yang berkencan dengan laki-laki lebih muda sering diasosiasikan dengan istilah “cougar”, seolah ia pasti sedang memangsa, memanipulasi, atau berusaha mempertahankan kemudaan.
Padahal, selama relasi berlangsung setara, sadar, dan sama-sama diinginkan oleh orang dewasa, perbedaan usia tidak otomatis berarti eksploitasi.
Tentu saja, relasi beda usia tetap perlu dibaca dengan kritis. Ada perbedaan pengalaman hidup, ekonomi, dan posisi sosial yang bisa memengaruhi dinamika kuasa. Namun kritik itu seharusnya berlaku untuk semua relasi, bukan hanya ketika pihak yang lebih tua adalah perempuan.
Dalam pengalaman saya, yang menarik dari berkencan dengan laki-laki lebih muda bukan semata usianya, melainkan cara ia memandang saya. Farrel tidak tampak terintimidasi oleh usia, pengalaman, atau capaian saya. Ia bisa memuji tanpa terdengar merendahkan. Ia bisa menawarkan bantuan tanpa merasa sedang kehilangan maskulinitas. Ia tidak memperlakukan kedewasaan saya sebagai ancaman.
Saya tidak ingin menggeneralisasi bahwa semua laki-laki Gen Z lebih progresif, atau semua laki-laki seumuran saya lebih patriarkal. Namun saya melihat ada perubahan pada sebagian laki-laki muda dalam memaknai relasi. Mereka lebih terbuka pada pembagian kerja domestik, lebih nyaman dengan perempuan mandiri, dan tidak selalu merasa perlu menjadi pusat otoritas.
Ada kalimat-kalimat sederhana yang ternyata bisa terasa asing ketika kita terlalu lama hidup dalam budaya yang meminta perempuan terus memberi, merawat, dan memahami. “Kamu hebat.” “Aku bangga sama kamu.” “Biar aku yang cuci piring.” “Kamu istirahat saja.”
Bagi sebagian orang, kalimat seperti itu mungkin biasa. Namun bagi banyak perempuan yang terbiasa menjalankan beban ganda, perhatian kecil bisa terasa seperti pengakuan. Bukan karena perempuan harus dipuja, melainkan karena kerja, pikiran, tubuh, dan waktunya sering dianggap tersedia begitu saja.
Dalam banyak relasi heteroseksual, perempuan masih diharapkan menjadi pendukung utama laki-laki: merawat emosinya, menjaga rumah, mengatur keluarga, mendukung kariernya, sambil tetap tidak boleh terlihat terlalu dominan. Maka ketika perempuan bertemu pasangan yang tidak merasa terancam oleh keberhasilannya, relasi bisa terasa lebih lega.
Karena saya lebih tua, wajar jika karier dan penghasilan saya lebih stabil. Dalam banyak relasi, kondisi seperti ini sering dibicarakan dengan curiga ketika perempuannya yang lebih mapan. Istilah “sugar mommy” muncul dengan cepat, seolah perempuan yang berbagi sumber daya pasti sedang dimanfaatkan atau sedang membeli cinta.
Padahal, perempuan juga bisa menjadi pencari nafkah. Perempuan juga bisa berbagi, membayar, mentraktir, atau menopang relasi tanpa kehilangan martabat. Yang penting bukan siapa yang lebih banyak memberi, tetapi apakah ada kesadaran, penghargaan, dan batas yang sehat di dalamnya.
Hal serupa berlaku pada tubuh. Saya menolak gagasan bahwa perempuan harus tetap terlihat muda agar layak dicintai. Berolahraga, makan sehat, berdandan, facial, botox, atau tidak melakukan semua itu sama sekali, seharusnya menjadi pilihan personal, bukan kewajiban agar perempuan tetap dianggap bernilai.
Saya pernah bertanya kepada Farrel, mengapa ia mau berpacaran dengan saya yang sudah berusia 48 tahun. Ia menjawab santai, seolah usia saya bukan persoalan besar.
Saya sempat bertanya-tanya, apakah saya sedang mencari validasi? Mungkin. Pada titik tertentu, kita semua ingin merasa diinginkan. Namun dari hubungan ini, saya belajar bahwa yang paling penting bukanlah kenyataan bahwa laki-laki yang lebih muda masih bisa menganggap saya menarik, melainkan bahwa saya masih bisa melihat diri sendiri sebagai perempuan yang utuh: punya hasrat, ingin dicintai, dan berhak memilih relasi yang membuat saya merasa dihargai.
Saya tidak tahu ke mana hubungan ini akan berjalan. Untuk saat ini, saya dan Farrel menjalani hubungan secara eksklusif dan menikmatinya dengan sadar. Mungkin berkencan dengan laki-laki lebih muda bukan jawaban untuk semua orang. Namun bagi saya, pengalaman ini membuka ruang untuk berdamai dengan usia, tubuh, dan keinginan sendiri, tanpa merasa harus mengecilkan diri atau meminta maaf karenanya.
Firliana Purwanti adalah penulis buku The ‘O’ Project dan novel Kamarina Rindu Cinta.





















