07/07/2026
Issues Opini

Aku Lebih Bahagia Jadi Istri daripada Jadi Anak

Bapakku mendidikku untuk menjadi istri yang baik versinya. Tapi dari suamiku aku belajar bahwa rumah tangga yang sehat bukan soal siapa yang melayani siapa, melainkan siapa yang mau bekerja sama.

  • April 17, 2026
  • 5 min read
  • 994 Views
Aku Lebih Bahagia Jadi Istri daripada Jadi Anak

Suatu pagi, suami pamitan mau berangkat kerja. Aku melihat kemejanya kusut dan berinisiatif menyetrika. 

“Kayak enggak punya istri saja,” gumamku, sambil tanganku sudah sibuk menyiapkan setrika.

Dengan berat hati ia melepas kemejanya. Sambil menunggu, aku bercerita, “Dulu waktu kecil aku pernah dimarahi bapak waktu setrika seragamnya, tapi ada warna putih bekas kancing. Soalnya kalau mamah yang setrika, kancingnya dibuka dulu biar enggak nyeplak.”

Suamiku hanya berkomentar singkat: “Tenang saja, tidak akan ada yang marahin kamu lagi.”

Aku terdiam. Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membawaku kembali ke masa kecil, ke semua pertanyaan bapak yang terasa lebih seperti dakwaan: Bagaimana suamimu nanti kalau kamu enggak bisa masak? Bagaimana suamimu nanti kalau rumah selalu berantakan?

Waktu SMA, aku pernah menjawab dengan suara agak lantang bahwa aku akan cari suami yang bisa bayar asisten rumah tangga. Saat itu aku sedang tumbuh penuh cita-cita—ingin jadi wartawan, ingin kuliah di luar kota, ingin kerja di Jakarta. Yang ada di kepalaku bukan suami. Aku merasa bapakku tidak pernah peduli akan itu.

Baca juga: Dari bapak2ID Kita Belajar, Menjadi Bapak Tak Harus Kaku dan Absen di Rumah

Aku pergi meninggalkan rumah sejak lulus SMA. Kuliah di Bandung, lalu bekerja di Jakarta. Cita-citaku menjadi jurnalis tercapai, aku sempat bekerja di tiga grup media besar. Tapi setiap pulang ke rumah, pertanyaan bapak tidak pernah berubah: kapan menikah? Siapa yang akan dinikahi? Bagaimana nanti jadi istri?

Karier dan pendidikan tidak pernah ia tanyakan.

Ironisnya, justru karena merantau sendiri, aku akhirnya belajar semua yang bapak ingin aku kuasai—memasak, mencuci, beres-beres—tapi dengan motivasi yang berbeda: untuk kenyamananku sendiri, bukan untuk calon suami. Dan ternyata perbedaan motivasi itu mengubah segalanya. Aku tidak benci mengerjakan urusan rumah ketika itu pilihanku, bukan tuntutan.

Suamiku pun punya pengalaman serupa. Ia kuliah jauh dari rumah, terbiasa mengurus dirinya sendiri. Ketika kami bertemu, kami sudah punya pengalaman yang setara tentang merawat diri. Dari sana, kami membangun kesepakatan tentang bagaimana merawat rumah bersama.

Keputusan untuk menikah dengannya semakin mantap setelah aku berkunjung ke rumahnya dan tahu bagaimana ia dibesarkan. Ibunya berkarier, bapaknya memilih menjadi bapak rumah tangga. Sejak kecil, suamiku terbiasa melihat bapaknya menyapu, mengepel, mencuci baju. Itu bukan pengecualian di rumah mereka, itu hal biasa.

Dan setelah menikah, benar saja. Suamiku tidak pernah rewel soal “pelayanan.” Bajunya ia urus sendiri. Kalau tidak ada makanan di pagi hari, ia berangkat dan cari sarapan di dekat kantor tanpa drama. Justru karena diberi kebebasan, aku malah bisa memastikan rumah rapi dan masakan matang saat ia pulang. Bukan karena takut dimarahi, tapi karena aku memang mau.

Baca juga: Ayah Rumah Tangga: Bukan “Kurang Jantan”, Tapi Wajah Baru Maskulinitas Indonesia

Dua rumah, dua cara memandang perempuan

Baru setelah menikah aku benar-benar menyadari betapa beratnya beban yang selama ini Mamah pikul sendirian.

Mamah bekerja mencari uang, sekaligus mengerjakan hampir semua urusan domestik. Bapak mentransfer gaji tanpa mau tahu cukup atau tidak. Ia teriak-teriak kalau rumah tidak terurus, tapi tidak pernah turun tangan. Semakin lama, semakin banyak orang di rumah—dua adik laki-laki dan tiga cucu, sementara yang mengurus tetap hanya dua perempuan: Mamah dan adik perempuanku. Padahal ada empat laki-laki dewasa di rumah itu yang seharusnya bisa diajak bekerja sama.

Semakin bertambah usia, Mamah berubah menjadi seseorang yang sering kelelahan dan mengeluh. Aku tidak menyalahkannya. Aku menyalahkan sistemnya.

Di rumah mertuaku, gambarannya berbeda. Ada tiga anak yang semuanya lulus pendidikan tinggi dan semua mendapat perhatian yang setara. Anak perempuan satu-satunya tidak dibebani urusan domestik lebih dari saudaranya yang laki-laki. Ketika aku bercerita soal ini, Mamah menyimpulkan bahwa keluarga suamiku bisa seperti itu karena kondisi ekonomi mereka lebih baik. Padahal dari pengamatanku, rumah kami mirip-mirip bentuknya, penghasilan orang tua kami pun serupa. Yang berbeda adalah cara mereka memandang siapa yang bertanggung jawab atas apa, dan kesediaan untuk berbagi beban itu secara adil.

Setahun setelah menikah, aku memutuskan resign dan pindah ke Bandung. Menjadi ibu rumah tangga adalah keputusan yang aku buat dengan sadar, dan tidak aku sesali. Suamiku selalu mendorong aku untuk terus menulis, ikut sayembara, atau mendaftar residensi. Aku sudah menyelesaikan satu novel. Kalau suatu hari aku ingin bekerja di luar rumah lagi, urusan domestik akan kami cari jalan keluarnya bersama.

Baca juga: Dapur Terbuka, Rumah yang Lebih Setara?

Perbedaan terbesar antara rumah masa kecilku dan rumah yang kami bangun bukan pada fasilitas atau materi. Ini soal bagaimana kerja-kerja yang membuat sebuah rumah berfungsi— memasak, membersihkan, mengasuh, dan mencari nafkah—dipandang sebagai tanggung jawab bersama, bukan beban satu pihak.

Ada ungkapan lama: mendidik anak dimulai dari mencari jodoh. Aku baru betul-betul mengerti maksudnya sekarang. Bukan karena pasangan adalah segalanya, tapi karena nilai-nilai yang ia bawa dari keluarganya akan ikut membentuk keluarga yang kalian bangun bersama. Suamiku dididik oleh orang tua yang paham betul tentang kerja bersama, dan kini ia bisa menjadi pasangan yang juga bisa bekerja bersamaku.

Aku tidak tahu apakah cerita ini akan terdengar relevan bagi semua orang. Tapi aku tahu satu hal: aku tidak menemukan ketenangan karena menikah. Aku menemukan ketenangan karena menikah dengan seseorang yang tidak menganggap urusanku sebagai urusan yang lebih rendah dari urusannya.

Tulisan ini bagian dari serial Hari Kartini yang mengangkat tema pentingnya lingkungan yang memungkinkan perempuan bertumbuh. Baca tulisan lainnya di sini untuk melihat beragam perspektif kontributor.

Ilustrasi oleh Karina Tungari

This article was produced by Magdalene.co as part of the #WaveForEquality campaign, supported by Investing in Women (IW), an Australian Government initiative. The views expressed in this article do not necessarily represent the views of IW or the Australian Government.

Series lainnya bisa dibaca di sini.

About Author

Tenni Purwanti

13 tahun di industri media di Jakarta dan kini sedang berbahagia menjadi ibu rumah tangga di Bandung sambil sesekali menulis fiksi dan esai. Bisa disapa di Instagram @rosezephirine