Foto: IMDB
Aku tumbuh tanpa sosok laki-laki dewasa yang benar-benar dekat. Yang kurasakan bukan hanya ketiadaan fisik, melainkan juga kekosongan emosional yang sunyi dan tak bernama. Aku sering bertanya-tanya, bagaimana seharusnya laki-laki mendengarkan, merespons, atau sekadar hadir tanpa menghakimi? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah benar-benar terjawab, setidaknya tidak oleh siapa pun yang nyata.
Kekosongan ini tidak selalu terasa seperti kehilangan yang nyata. Lebih seperti ruang hening yang perlahan terisi oleh cerita, tontonan, dan imajinasi yang kususun sendiri. Dan tanpa aku sadari, ruang itu mulai diisi oleh karakter-karakter di layar—sosok-sosok yang memberiku gambaran tentang bagaimana laki-laki bisa hadir secara emosional, meski gambaran itu tidak pernah sepenuhnya utuh.
Sebagai laki-laki, pengalaman ini terasa janggal. Aku berada di kelompok yang sama—”laki-laki”—namun justru merasa kehilangan kompas untuk menjadi laki-laki yang benar-benar hadir secara emosional bagi orang lain. Pemahamanku lebih banyak dibentuk oleh representasi daripada oleh contoh nyata. Dan dari sana, pertanyaan yang lebih besar muncul: apakah aku sedang mencari teladan, atau sedang berusaha menemukan bentuk diriku sendiri yang tidak pernah diajarkan?
Film menjadi salah satu medium penting dalam membentuk imajinasi tentang laki-laki yang hadir secara emosional.
Baca juga: ‘Sakatupo’: Respons Trauma Moko dan Kenapa Kita Berharap Ia Meledak Marah?
Seperti dijelaskan sosiolog Jerman, Siegfried Kracauer, dalam Theory of Film: The Redemption of Physical Reality (1997), film tampak transparan dalam menggambarkan kehidupan, tapi sebenarnya juga membentuk dan mengungkapkan kondisi sosial tertentu. Senada dengan itu, profesor ilmu budaya dari Australia, Graeme Turner, dalam “Film as Social Practice” (2012) menjelaskan bahwa film mereproduksi realitas melalui kode, kebiasaan, dan ideologi budaya, bukan memantulkannya secara apa adanya. Apa yang kita lihat di layar adalah hasil pilihan: apa yang ditampilkan, apa yang disembunyikan, dan bagaimana semuanya dirangkai agar terasa wajar.
Tokoh seperti Moko dalam 1 Kakak 7 Ponakan (2025) menghadirkan gambaran laki-laki yang hangat, bertanggung jawab, dan stabil secara emosional. Sebagai laki-laki, aku melihatnya sekaligus sebagai sosok aspiratif dan problematis. Terasa sangat dekat, tapi juga seperti standar yang sulit dijangkau karena dibentuk oleh kebutuhan cerita, bukan oleh kerumitan manusia yang nyata.
Bagi banyak orang, bukan hanya aku, sosok seperti Moko bukan sekadar hiburan. Ia mengisi ruang yang tidak selalu tersedia di kehidupan sehari-hari: ruang untuk melihat bagaimana laki-laki bisa hadir, mendengar, dan peduli. Bahwa kebutuhan itu nyata, terlepas dari siapa yang merasakannya, adalah hal yang perlu diakui, bukan dijelaskan sebagai gejala.
Baca juga: Menunggu Uni Pulang
Maskulinitas yang diajarkan layar, tapi tidak pernah diajarkan di rumah
Fenomena ini semakin jelas dalam budaya populer, terutama melalui K-pop dan media digital.
Idol laki-laki kini bukan hanya tampil sebagai performer, tapi juga sebagai figur yang terlatih menghadirkan emosi—tahu bagaimana berbicara, merespons, dan menunjukkan perhatian dengan cara yang terasa personal. Fenomena green flag guy di media sosial juga mempertegas gambaran ini: laki-laki ideal adalah sosok yang responsif, suportif, dan mampu menyediakan keamanan emosional.
Ada yang menarik di sini. Penggemar, yang mayoritas perempuan, sering dianggap “berlebihan” ketika menginvestasikan emosi pada idol atau karakter fiksi. Tapi kalau kita jujur, apa yang mereka cari bukan sesuatu yang aneh: mereka mencari sosok laki-laki yang mau mendengar, yang hadir tanpa menghakimi, yang tidak membuat mereka merasa terlalu banyak. Sosok yang dalam kehidupan nyata sering kali absen, bukan karena laki-laki tidak mampu, tapi karena mereka memang tidak pernah diajarkan bagaimana melakukannya.
Aku mencari sosok “abang” sebagai teladan: bagaimana seharusnya aku menjadi laki-laki yang hadir. Penggemar perempuan itu mencarinya sebagai kebutuhan yang tidak terpenuhi: inilah yang tidak kudapatkan dari laki-laki nyata di hidupku. Dua pencarian yang berbeda arah, tapi berakar dari lubang yang sama — sistem yang membentuk laki-laki tanpa membekali mereka bahasa emosional, lalu membiarkan semua orang di sekitar mereka menanggung akibatnya.
Konsep parasocial interaction dari Donald Horton dan Richard Wohl membantu menjelaskan bagaimana kedekatan emosional dengan figur di layar bisa terasa begitu nyata. Tapi yang lebih penting dari mekanismenya adalah apa yang ia singkap. Bahwa kebutuhan akan kehadiran emosional itu nyata, valid, dan tidak sepenuhnya terwadahi dalam kehidupan sosial sehari-hari, Kebutuhan itu bukan kelemahan. Ia justru menunjukkan bahwa manusia, baik laki-laki maupun bukan, mencari referensi untuk memahami diri dan hubungannya dengan orang lain, dari mana pun referensi itu datang.
Baca juga: Bangkitnya Laki-laki ‘Green Flag’ dalam Media Kita: Pertanda Apa Ini?
Mungkin itulah yang membuat representasi terasa begitu menempel. Bukan karena kita tidak bisa membedakan fiksi dan kenyataan, tapi karena fiksi kadang lebih berani menunjukkan hal-hal yang kenyataan enggan bicarakan, termasuk laki-laki yang menangis, meminta maaf, dan hadir tanpa syarat.
Pada akhirnya, ini bukan soal siapa yang “terlalu larut” dalam representasi. Ini soal bagaimana maskulinitas kerap dibangun tanpa memberi ruang bagi ekspresi emosional yang sehat, dan bagaimana layar, dengan segala ketidaksempurnaannya, justru sering mengisi celah itu lebih dulu dari lingkungan terdekat.
Sosok “abang” yang selama ini terasa jauh mungkin tidak pernah benar-benar hilang. Mungkin ia adalah sesuatu yang masih terus dipelajari olehku, dan oleh banyak laki-laki lain yang tumbuh tanpa pernah diajarkan bagaimana hadir secara emosional. Yang berbeda hanya dari mana masing-masing dari kita belajar, dan seberapa jujur kita mengakuinya.
Dimas Ramadhiansyah adalah peneliti yang terlalu penasaran dengan perilaku penggemar. Suka membongkar film, bukan untuk merusaknya, tapi untuk melihat apa yang sebenarnya sedang disembunyikannya.





















