Jika saya punya uang yang cukup, saya ingin melakukan operasi pengangkatan rahim.
Saya senang terlahir sebagai perempuan, tapi menstruasi sungguh membuat saya berangan memiliki alat reproduksi laki-laki. Setiap bulan, saya didera sakit perut yang berlebih, mood swing yang membuat saya sedih tanpa alasan, dan darah yang mengalir terlalu deras. Pada tiga hari pertama saya harus menggunakan pembalut 42 sentimeter agar darah tidak tembus ke pakaian. Begitu pun terkadang masih saja bocor. Belum lagi saya menderita anemia akut yang membuat tubuh lemas dan terkadang hampir pingsan setiap tamu bulanan ini datang.
Saya tidak berencana untuk punya anak. Menikah pun tak ingin. Namun, seperti mencemooh, haid selalu datang secara teratur, seakan rahim saya ingin membuktikan pada saya betapa suburnya ia. Saya ingin berteriak balik, setiap hari kamu cuma menyiapkan diri untuk hal yang tidak akan terjadi. Saya tidak akan beranak, saya tidak akan dibuahi.
Namun, sebanyaknya saya mengeluh, saya juga tahu bahwa saya bukanlah orang yang paling menderita dalam hal ini. Meski setiap bulan merasa sengsara, saya selalu ditemani ibu yang sedia menyiapkan jamu hangat untuk meredakan nyeri, bapak yang tidak malu untuk membelikan pembalut, dan kasur yang nyaman serta kamar mandi dengan air yang bersih.
Baca juga: Dear Pandawara, Sampah Pembalut Bukan Karena Perempuan Jorok
Refleksi dari tubuh pribadi ke tubuh dunia
Setiap kali menstruasi, saya kerap berharap bisa terlahir sebagai laki-laki. Tapi ada hal lain yang juga terlintas: perempuan di Gaza yang tidak memiliki akses air bersih, apalagi produk menstruasi yang memadai.
Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa, ada sekitar 700.000 perempuan usia menstruasi di Gaza yang hidup tanpa akses terhadap kebersihan, kesehatan, dan kehormatan. Minimnya pembalut membuat mereka terpaksa menggunakan kain, bahkan merobek sebagian tenda untuk dijadikan alas. Tidak higienis dan berisiko infeksi, tapi tak ada pilihan lain.
Dan bukan hanya soal menstruasi. Setiap kali saya makan, bekerja, atau belajar, saya teringat masyarakat Palestina. Kenapa saya bisa menjalani hidup ini, sementara mereka tidak? Saya tidak punya “nilai plus” yang membuat saya lebih layak. Satu-satunya perbedaan adalah: saya lahir di keluarga kelas menengah di Indonesia, mereka di Palestina.
Pikiran ini sering menyeruak ketika saya melihat unggahan-unggahan motivasi di media sosial. Kalimat seperti, “the universe is on your side,” atau, “everything will work out in the end,” terasa tidak adil. Mungkin saya terlalu serius menanggapi, tapi “keberpihakan semesta” adalah kemewahan yang tidak dimiliki semua orang.
Baca juga: ‘Everything is Political’ termasuk Menstruasi Perempuan
Saya jengah membacanya. Bisakah kalimat-kalimat itu diucapkan di hadapan perempuan Palestina, ketika rumah mereka diledakkan bahkan di tengah gencatan senjata? Bagaimana “tenang, semua akan baik-baik saja” bisa diucapkan, ketika dunia justru semakin mencekik? Ketika jurang antara penguasa dan rakyat kecil terus melebar?
Saya tidak menyalahkan niat baik di balik kutipan-kutipan itu. Tapi bagi saya, kalimat-kalimat ringan tersebut justru memperlihatkan kesenjangan antara orang yang bisa “bangkit dengan motivasi”, dan orang yang hidupnya dikendalikan oleh kekuatan yang terlalu besar. Antara yang tantangan hidupnya bersifat sekunder, dengan yang kebutuhan primernya pun belum terpenuhi.
Tak perlu jauh-jauh ke Palestina. Ketimpangan yang sama bisa kita lihat pada saudari sebangsa yang terdampak banjir di Sumatra. Dua bulan pascabencana, masih banyak wilayah yang terisolasi—empat desa di Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara, serta 24 desa di Aceh Tengah. Akses air, pakaian layak, dan layanan kesehatan reproduksi masih terbatas. Belum lagi risiko kekerasan berbasis gender yang kian tinggi dalam situasi darurat.
Dua situasi di negara berbeda ini punya benang merah: eksploitasi sumber daya untuk keuntungan segelintir pihak. Dan yang paling dirugikan selalu perempuan.
Seakan belum cukup menyakitkan, baru-baru ini Presiden Indonesia menandatangani Piagam Board of Peace, sebuah inisiatif dari Donald Trump untuk “rekonstruksi Gaza” tanpa melibatkan warga aslinya. Sebuah rencana yang justru melanggengkan kolonialisme Israel. Ketika warga Indonesia sendiri belum sepenuhnya pulih dari bencana, perwakilan negara malah ikut mendukung proyek genosida.
Saya menonton video Bisan Owda, jurnalis perempuan Palestina, yang menanggapi soal Board of Peace:“You need to be depressed, my friend. Is this even a world where you can dream? Where you can live? Of course not.”
Baca juga: Mengapa Menstruasi Masih Ditutupi dan Ditanggung Sendirian?
Saya memahami rasa putus asa itu. Kita sedang bergerak menuju dunia yang semakin tak adil, sebuah linimasa yang dingin dan timpang. Kemampuan untuk menjalani hari seperti biasa—tersenyum, tertawa, bahkan mengeluh—adalah sebuah privilese.
Saya tidak ingin mengajak siapa pun untuk tenggelam dalam keputusasaan. Tapi saya berharap lebih banyak orang tergerak untuk menilik ketimpangan dalam keseharian. Dari barang-barang yang kita beli, berapa banyak yang dihasilkan oleh buruh dengan upah tak layak? Dari kebutuhan yang kita nikmati, berapa banyak orang yang tak punya akses yang sama?
Sebab kesadaran adalah titik awal perubahan. Dan hari-hari ini, kesadaran jauh lebih penting daripada sekadar rasa nyaman. Mungkin saya bisa menang penghargaan sebagai orang yang paling membenci menstruasi. Tapi penghormatan sejati seharusnya diberikan pada para perempuan yang terus bertahan di tengah keterbatasan, yang bukan datang karena alam, tapi karena ketimpangan yang disengaja.
Rasya Nasution adalah lulusan Sastra Inggris UI yang memiliki ketertarikan kuat pada isu gender dan seksualitas. Seorang pembaca akut dan pencinta matcha sejati.
Ilustrasi oleh Karina Tungari




















