22/07/2026
Culture Lifestyle

Koleksi Musik secara Fisik: Aktivitas Normal yang Direnggut Platform Digital

Dulu, membeli kaset, CD, atau piringan hitam adalah kebiasaan lumrah. Kini di era streaming, kepemilikan musik justru berubah jadi privilese yang tak semua orang bisa miliki.

  • June 26, 2026
  • 5 min read
  • 567 Views
Koleksi Musik secara Fisik: Aktivitas Normal yang Direnggut Platform Digital

Heirlambang Jaluardi, 44, tak lagi bisa menghitung jumlah piringan hitam yang dimilikinya. Hobi mengoleksi musik telah memenuhi sebagian besar ruang di rumahnya. Selama lebih dari satu dekade, Hei, sapaan akrabnya, mengalami perubahan cara menikmati musik, mulai dari membeli rilisan fisik, mengoleksi berkas digital, hingga akhirnya berlangganan platform layanan streaming.

Hei mulai membeli kaset sejak duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu, membeli kaset merupakan satu-satunya cara untuk mendengarkan musik. Kebiasaan tersebut tetap ia pertahankan meski layanan streaming kini menjadi cara paling umum menikmati musik. Baginya, membeli rilisan fisik merupakan bentuk apresiasi terhadap karya musisi.

Menurut Hei, perbedaan terbesar antara format analog dan digital terletak pada rasa memiliki. Dahulu, musik tidak hanya didengarkan, tetapi juga bisa disentuh, dibaca melalui booklet, dan dinikmati lewat artwork album.

“Kalo streaming doang kayak ya gak punya apa-apa. Padahal ya kita langganan kayak Apple Music tuh berapa, Rp59.000 kalau enggak salah sebulan… tapi gue jadi enggak ngerasa punya,” katanya kepada Magdalene melalui sambungan telepon, (18/6).

Baca juga: Kenapa Ada Musisi yang Masih Merilis Album Fisik di Era Digital Sekarang Ini?

Terpental ke Digital

Pada 2008, Hei mulai beralih ke format digital setelah membeli iPod dari gaji pertamanya sebagai jurnalis. Perangkat itu ia gunakan hingga 2015. Meski tak lagi memegang bentuk fisik album, ia masih merasa memiliki musik karena menyimpan berkas lagu yang diunduh dari internet.

Situasi berubah pada 2015 ketika kebutuhan pekerjaan membuatnya mulai berlangganan layanan streaming. Menurut Hei, ia termasuk terlambat beralih.

“Karena dulu kebutuhan liputan juga. Jadi banyak band yang ngasih link demo-nya ke platform layanan streaming, waktu itu ya jadi gue langganan,” kisahnya.

Bagi Hei, kemudahan layanan streaming juga mengubah pengalaman mendengarkan musik. Ia merasa lebih sulit mengingat lagu dibanding ketika mendengarkan album secara utuh dalam format fisik. Hilangnya kebiasaan membaca lirik di booklet juga menjadi perubahan yang paling ia rasakan.

“Nah itu apa yang hilang dari digital itu kata gue sih baca-baca liriknya itu sih. Walaupun sebenarnya di digital ada lirik ya. Tapi gue masih belum biasa untuk baca lirik di DSP (digital streaming platform),” ungkapnya.

Pengalaman serupa dialami Nuran Wibisono, 39. Saat mulai beralih ke format digital, ia merasa pengalaman mendengarkan musik menjadi lebih bergantung pada koneksi internet. Berbeda dengan kaset atau CD yang dapat diputar kapan saja, akses terhadap musik digital bergantung pada layanan yang digunakan.

“Aku merasa bahwa itu tadi ada sense of belonging yang membuat aku bisa memutar ini kapan aja meskipun aku gak punya internet atau meskipun aku gak punya akun,” ujarnya kepada Magdalene, (25/6).

Menurut Nuran, kepemilikan musik di era digital juga lebih rapuh. Lagu dapat hilang dari layanan streaming ketika musisi menarik katalognya. Pengguna pun kehilangan akses jika berhenti berlangganan atau menutup akun.

“Aku menyimpan semua lagu kesukaanku. Ketika suatu hari nanti aku ternyata mau menutup akun akan hilang. Jadi semudah itu, karya yang kita sukai hilang,” terangnya.

“Ketika kamu memutuskan untuk tidak berlangganan, semua kenyamanan itu akan hilang juga, jadi kamu harus mendengarkan iklan.”

Baca juga: Suatu Hari di Toko Barang Antik

Kemewahan yang Pernah Normal

Membeli musik dalam format fisik pernah menjadi kebiasaan yang lumrah. Kini, aktivitas tersebut membutuhkan biaya tambahan untuk membeli rilisan, perangkat pemutar, hingga ruang penyimpanan.

Soni Triantono, 34, mulai terbiasa mendengarkan CD di mobil sejak 2010. Album Gun N’ Roses menjadi salah satu yang paling sering ia putar di mobil milik ibunya. Meski menganggap CD bukan kebutuhan utama, ia tetap membeli rilisan fisik untuk mendapatkan pengalaman mendengarkan yang berbeda.

“Aku ingin tahu bagaimana pengalaman orang-orang pada era-nya mengonsumsi karya yang tadi aku anggap esensial dan berdampak, kayak album Nevermind-nya Nirvana. Jadi kayak apa sih yang mereka bisa baca di fisik albumnya, bisa mereka sentuh di fisik albumnya,” tuturnya melalui sambungan telepon, (25/6).

Bagi Soni, mendengarkan album secara berurutan tanpa memilih lagu juga menjadi pengalaman yang ingin ia rasakan kembali.

“Nah budaya itu juga yang ingin aku rasakan lah kira-kira gitu ya,” lanjutnya.

Namun, ia mengakui mengoleksi musik fisik membutuhkan privilese. Selain harus membeli rilisan, kolektor juga perlu memiliki perangkat pemutar yang harganya tidak murah.

“Aku setuju sih kalo dibilang memang. Ya, di sini sesederhana bahwa kalo kamu beli rilis-rilisan fisik pasti kamu harus punya pemutarnya dan pemutarnya tuh rata-rata juga gak murah gitu kan.”

Karena itu, Soni memiliki pertimbangan khusus sebelum membeli album. Ia mengoleksi karya teman-temannya, serta album yang menurutnya memiliki nilai penting dan berpotensi bertahan lama.

“Jadi misalnya, album terakhir yang aku beli, CD ya, itu Perunggu yang Dalam Dinamika deh. Nah, itu aku belinya juga nggak begitu mereka rilis. Aku kasih jarak beberapa bulan untuk mengukur apakah album ini tuh nantinya akan punya value menjadi timeless,” katanya.

Baca juga: ‘Tumbuh dan Menjadi’: Yang Dirayakan Bukan Cuma ‘Comeback’ Banda Neira tapi juga Kemanusiaan Kita

Sementara itu, Hei dan Nuran menilai mengoleksi piringan hitam tidak hanya membutuhkan biaya untuk membeli turntable, tetapi juga ruang penyimpanan yang memadai. Rak penyimpanan milik Hei bahkan sudah tak lagi cukup menampung koleksinya sehingga piringan hitam kini memenuhi berbagai sudut rumah.

“Kalau misalnya gue masih anak indekos yang setiap tahun atau dua tahun sekali pindah indekos gitu. Nggak mungkin, nggak mungkin gue lakukan ngoleksi vinyl,” ujarnya.

Bagi Nuran, ruang menjadi salah satu faktor yang menentukan apakah seseorang dapat mengoleksi musik fisik.

“Kalau misalkan orang yang ngontrak atau ngekos, mungkin akan berpikir dua kali untuk koleksi musik fisik dengan segala perangkatnya itu. Karena mereka nggak punya privilege berupa ruang,” tegasnya.

About Author

Andrei Wilmar

Andrei Wilmar bermimpi buat jadi wartawan desk metropolitan.