05/06/2026
Issues Politics & Society

Cicilan Masa Depan di Atas ‘Pampa’: Strategi Perempuan Lonca Jaga Ketahanan Pangan

Di Kulawi, Sulawesi Tengah, para ibu memilih sendiri apa yang ditanam, cara menanam, dan memanen di kebun mereka yang disebut ‘pampa’. Sambil menjaga rumah, mereka menyelamatkan desa.

  • June 5, 2026
  • 8 min read
  • 38 Views
Cicilan Masa Depan di Atas ‘Pampa’: Strategi Perempuan Lonca Jaga Ketahanan Pangan

Foto: Yael Stefany/Kemitraan

Menjelang petang, mobil yang kami tumpangi mendadak berhenti di tengah jalan menuju Desa Lonca, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Jam menunjukkan pukul 18.25 WITA. Semua penumpang diminta turun. Ban kendaraan ambles ke tanah yang masih basah setelah hujan siang.

Perjalanan menuju Lonca memang tidak selalu mudah. Meski kini kendaraan roda empat sudah bisa mencapai desa tersebut, beberapa kali kami tetap harus berhenti karena jalan berlumpur dan rusak. Di sejumlah titik masih tampak bekas longsoran yang menggerus lereng perbukitan.

Bagi warga Lonca, akses yang rapuh bukanlah cerita baru. Ia adalah realitas.

Desa yang berada di dataran tinggi sekitar 700 meter di atas permukaan laut itu sudah lama hidup berdampingan dengan jarak. Saat curah hujan tinggi, longsor kerap memutus akses keluar masuk desa. Pada 2018, ketika gempa mengguncang Palu dan sejumlah wilayah lain di Sulawesi Tengah, Lonca jadi salah satu desa yang sempat terisolasi akibat jalan yang terputus.

Foto: Sonia Kharisma Putri/Magdalene

Di tengah keterbatasan bantuan dan sulitnya akses menuju wilayah luar, warga bertahan dengan sumber pangan yang mereka miliki sendiri.

Salah satu orang yang mengingat betul masa-masa itu adalah Yarni Ijo.

Sejak 2023, ia menjabat sebagai Kepala Desa Lonca sekaligus menjadi perempuan pertama yang menduduki posisi tersebut. Namun keterlibatannya membangun desa telah dimulai jauh sebelum itu. Pengalaman menghadapi bencana membuatnya melihat satu hal yang menurutnya sangat penting: Desa harus mampu bertahan dengan kekuatannya sendiri.

“Dari pengalaman itu, saya termotivasi bagaimana kita sebagai perempuan bisa menghasilkan sendiri,” kata Yarni (7/5).

Bagi Yarni, ketahanan pangan bukan sekadar soal memastikan makanan tersedia di meja makan. Ia juga berkaitan dengan kemampuan perempuan menopang hidup keluarga dan komunitasnya. Terutama ketika situasi sulit datang.

Foto: Sonia Kharisma Putri/Magdalene

Baca juga: Di Banasu, Jalan Rusak dan Kehamilan Sama-sama Menakutkan

Pampa dan Harapan yang Pelan-pelan Ditanam

Keesokan paginya, kami berjalan menuju pampa bersama sejumlah perempuan desa. Mereka sudah siap dengan sabit dan botol minum di tas. Selain mereka, ada seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun yang ikut berjalan bersama kami. Bagi anak-anak Lonca, pergi ke pampa adalah keseharian. Mereka biasa ikut menemani atau sekadar bermain di ladang.

Sekitar tiga puluh menit berjalan kaki, kami tiba di pampa milik Desa Lonca. Di hadapan kami terbentang lahan seluas 1 hektare yang sekitar sebulan sebelumnya ditanami jagung. Jaraknya tidak jauh dari desa, tetapi medan yang menanjak bikin waktu tempuh lebih lama dibanding jika berjalan di tanah datar. Naik-turun bukit ini adalah realitas perempuan Lonca.

Sepanjang jalan, mereka asyik bersenda gurau. Sesekali memanggil anjing-anjing peliharaan yang setiap hari mengikuti ke kebun. 

Foto: Sonia Kharisma Putri/Magdalene

Pagi itu matahari cukup menyengat. Kami duduk bersama di sebuah bambaru—pondok tempat beristirahat di kebun. Di atas papan kayu, tersaji camilan berbahan dasar singkong yang dibawa dari rumah. Pampa ini berada di atas bukit, dengan tanaman yang ditanam mengikuti kontur tanah. Dari atas sini, kami bisa melihat pemandangan alam Lonca yang terhampar luas. Ada sungai di sisi utara, kebun kakao di sisi barat, dan hutan yang mengelilingi desa.

Di tempat itulah saya mulai memahami mengapa pampa punya arti penting bagi masyarakat Lonca.

Bagi masyarakat Kulawi, pampa adalah kebun permanen yang biasanya berada tidak jauh dari permukiman. Berbagai tanaman pangan tumbuh di sana, mulai dari ubi kayu, ubi jalar, jagung, sayur-sayuran, tanaman bumbu dapur, hingga pandan yang digunakan sebagai penyedap makanan.

Namun bagi perempuan Lonca, pampa bukan sekadar kebun. Pampa adalah ruang hidup.

Di tempat itu mereka menanam sumber pangan keluarga, berbagi pengetahuan yang diwariskan turun-temurun, sekaligus merawat hubungan sosial yang mengikat komunitas. Selama bertahun-tahun, perempuan jadi pihak yang paling banyak mengelola pampa. Mereka memastikan kebutuhan pangan keluarga terpenuhi sembari menjaga keberlanjutan sumber daya yang tersedia di sekitar desa.

Beberapa tahun terakhir, fungsi pampa berkembang lebih jauh.

Sejak 2023, Program Estungkara yang difasilitasi Karsa Institute dan Kemitraan mendampingi kelompok perempuan petani di Lonca melalui sistem menabung dan bagi hasil. Saat ini terdapat delapan belas perempuan yang tergabung dalam kelompok yang bernama Forum Tobine Mohintuwu. Dalam Bahasa Kulawi yang berarti perempuan bersatu.

Foto: Sonia Kharisma Putri/Magdalene

Memanfaatkan tanah desa, mereka mengelola pampa secara bersama-sama. Hasil panen yang diperoleh kemudian dibagi kepada anggota dan sebagian disimpan sebagai tabungan yang dapat digunakan ketika dibutuhkan. Sistem bagi hasil ini sebenarnya sederhana, Yarni mengatakan tabungan kelompok mereka tidak bisa asal diambil jika bukan untuk kebutuhan mendesak.

Yarni mencontohkan ketika musim anak masuk sekolah dan Natal. “Apalagi Natalan, di situ kebutuhan banyak sekali,” katanya. “Dulu sebelum kami bentuk, kebutuhan keluarga itu kayaknya hampir-hampir tidak terpenuhi,” tambah Yarni.

Selama tiga tahun ini, mereka telah menanam jagung, rica, dan kacang merah. Namun, jagung yang menjadi komoditas utama karena paling menguntungkan.

“Untuk sekarang jagung paling menguntungkan“ tutur Devi (25). “Paling sedikit biasanya 500kg dengan harga jual 6000/kg”.

Bagi sebagian anggota kelompok, tabungan itu memberikan rasa aman yang sebelumnya sulit mereka miliki.

“Saya merasa senang karena kita ada di situ. Bisa menyiapkan. Kita buat usaha, untuk kebutuhan keluarga,” tutur Naumi Gena (27).

Melalui praktik sederhana itu, perempuan-perempuan Lonca tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga membangun jaring pengaman ekonomi mereka sendiri. Selama tiga tahun terakhir, kelompok perempuan petani ini berhasil mengumpulkan sekitar Rp90 juta.

Yarni berharap suatu hari kelompok tersebut dapat memiliki lahan pampa sendiri, bukan lagi memanfaatkan tanah milik desa. “Ke depan, saya ingin kelompok perempuan ini punya tanah sendiri,” ujarnya.

Namun keberhasilan itu tidak membuat kehidupan perempuan jadi lebih ringan.

Selain mengelola pampa bersama, mereka juga bekerja di kebun keluarga. Rutinitas mereka dimulai jauh sebelum matahari terbit dan berakhir ketika sebagian besar anggota keluarga tidur.

Foto: Sonia Kharisma Putri/Magdalene

Baca juga: Standar Ganda Kemarahan yang Dirawat dari Rumah hingga Tempat Kerja

Beban Ganda Perempuan Lonca

Pagi hari mereka membersihkan rumah dan menyiapkan bekal untuk dibawa ke kebun. Setelah bekerja seharian bersama suami hingga sore, pekerjaan mereka belum selesai. Setibanya di rumah, para perempuan Lonca masih harus mengurus anak, memasak makan malam, mencuci, dan mengerjakan berbagai pekerjaan domestik lain.

“Sampai rumah bersih-bersih, urus anak, urus suami,” kata Naumi sambil tertawa kecil.

Dalam banyak komunitas adat, situasi semacam itu bukan hal yang asing. Perempuan sering kali memikul tanggung jawab berlapis: Menjaga sumber daya alam, mengelola pangan keluarga, sekaligus menjalankan pekerjaan domestik yang kerap dianggap sebagai kewajiban alami.

Meski demikian, para perempuan Lonca tetap menemukan ruang kebersamaan mereka di pampa.

Di sela-sela pekerjaan, mereka saling bertukar cerita, berbagi kabar, dan bercanda satu sama lain. Bagi sebagian perempuan, kebun bukan hanya tempat bekerja, tetapi juga ruang sosial yang memberi mereka rasa memiliki terhadap komunitas.

“Malah kalau tidak pergi kebun, sakit kepala. Saya senang melihat ini ya, pemandangan. Kumpul sama teman-teman,” kata Yeni, 57 tahun.

Foto: Sonia Kharisma Putri/Magdalene

Baca juga: Perempuan Suku Anak Dalam dalam Kepungan Sawit: Tanggung Beban Ganda sampai Pelecehan

Perempuan Pemimpin dan Tantangan Khas Patriarki

Perjuangan perempuan Lonca tidak hanya berlangsung di kebun. Ia juga hadir di ruang-ruang pengambilan keputusan desa.

Ketika pertama kali mencalonkan diri sebagai kepala desa, Yarni mengaku sempat menghadapi keraguan dari sebagian warga. Ada yang mempertanyakan kemampuan perempuan untuk memimpin. Bahkan ada yang menyatakan bahwa perempuan tidak layak duduk bersama lembaga adat dalam proses pengambilan keputusan.

“Perempuan tidak bisa duduk bersama dengan lembaga adat untuk mengambil keputusan,” begitu salah satu penolakan yang masih diingat Yarni.

Meski Yarni sejak lama aktif di kegiatan desa dan memimpin kelompok program untuk pemberdayaan perempuan, tak serta merta membuat jalannya mudah. Ia juga sempat ditentang keluarga besar. Apalagi, saat itu, kandidat lawannya masih saudara. 

Namun keraguan itu tidak membuatnya mundur. Sebaliknya, pengalaman itu justru memperkuat keyakinannya bahwa perempuan juga mampu memimpin dan membawa perubahan. Keluarga intinya memberi dukungan penuh, beberapa warga juga secara langsung mendatangi Yarni dan memberi dukungan. Kepercayaan orang terdekat dan warga itulah yang membuatnya semakin kuat.

Selama menjalankan kepemimpinan, Yarni berusaha untuk selalu mendengar pendapat masyarakat dan tidak serta merta mengambil keputusan tanpa persetujuan mereka.

“Saya selalu kasih tawaran saat musyawarah desa, jadi tidak langsung buat (program) meskipun saya pemimpin,” katanya.

Foto: Sonia Kharisma Putri/Magdalene

Di bawah kepemimpinannya, Lonca terus mengembangkan berbagai inisiatif yang melibatkan perempuan dan generasi muda. Melalui dukungan dana desa, kelompok pemuda mendapat bibit tanaman tahunan seperti kakao dan durian untuk dikembangkan di lahan masing-masing. Menurut Yarni, bantuan tersebut bukan sekadar pembagian bibit, melainkan investasi jangka panjang untuk masa depan desa.

“Saya bilang kepada mereka, jangan hanya berdiam diri, kita harus kerja keras. Karena kalian suatu saat nanti akan berkeluarga,” ujarnya.

Saat ini anggota karang taruna Lonca sekitar 100 orang, dengan sekitar 80 anggota aktif. Pada 2025, Lonca memperoleh penghargaan Desa Ramah Perempuan dan Anak. Bagi Yarni, penghargaan itu bukan tujuan akhir, melainkan bagian dari upaya panjang membangun desa yang lebih inklusif.

Menjelang siang, perempuan-perempuan yang sejak pagi berkumpul di bambaru mulai kembali ke aktivitas masing-masing. Mereka mulai membersihkan rumput bersama-sama sembari memastikan tanaman jagung tumbuh dengan baik. Setelah kegiatan bersih-bersih selesai, sebagian perempuan ada yang pergi melanjutkan aktivitas di kebun sendiri. Sebagian lain memilih langsung pulang, karena ada pekerjaan rumah yang menunggu.

Di lereng-lereng hijau yang mengelilingi Lonca, pampa terus menjadi bagian penting dari kehidupan mereka. Di tempat itu, perempuan-perempuan desa menanam pangan, menyimpan hasil panen, membangun tabungan bersama, dan menjaga ketahanan hidup komunitasnya.

Dari ruang yang selama ini sering dianggap biasa, mereka perlahan memperluas perannya—bukan hanya sebagai penjaga dapur keluarga, tapi juga sebagai penggerak perubahan di desa sendiri.

About Author

Sonia Kharisma Putri

Sonia suka hal-hal yang cantik dan punya mimpi hidup berkecukupan tanpa harus merantau lagi. Sekarang lebih suka minum americano daripada kopi susu keluarga.