05/06/2026
Issues

5 Artikel Pilihan: Lagu ‘Mas Bahlil Ganteng’, Teror Pocong, hingga Review Album Baru dari Idgitaf

Redaksi Magdalene merangkum lima berita pilihan untuk pekan ini mulai dari fenomena lagu ‘Mas Bahlil Ganteng’, hingga teror pocong yang masih marak di beberapa daerah.

  • June 5, 2026
  • 3 min read
  • 32 Views
5 Artikel Pilihan: Lagu ‘Mas Bahlil Ganteng’, Teror Pocong, hingga Review Album Baru dari Idgitaf

1.  Ada Bahaya di Balik Latah Kita Pakai Lagu Mas Bahlil Ganteng (MBG) di Medsos

Beberapa minggu ke belakang, lagu tersebut santer terdengar di telinga saya. Lagu MBG atau Mas Bahlil Ganteng lewat di linimasa media sosial pribadi, bahkan di gawai-gawai orang asing yang saya temui di ruang publik. Saking seringnya lagu tersebut terdengar, tanpa saya sadari alam bawah sadar saya sudah hafal liriknya. 

Dari penelusuran, lagu tersebut awalnya dipopulerkan oleh pengguna bernama “vokaliz_netizen”, kreator konten di TikTok yang membuat lagu menggunakan akal imitasi (AI). Pengguna mengunggah konten lagu MBG pertama kali pada 29 April 2026.

Baca artikel selengkapnya di sini

2.  Review Album ‘Berusaha di Bawah Hujan’: Cinta yang Dewasa Bukan Cuma soal Romansa

Beberapa bulan sebelum album kedua Idgitaf, Berusaha di Bawah Hujan (BDBH), dirilis, proyek ini sudah ramai diperbincangkan di media sosial. Berbagai rangkaian promosi bertema hujan membuat rasa penasaran saya terus bertambah. Ketika tanggal rilis akhirnya diumumkan akhir Mei lalu, saya langsung menekan tombol reminder dan pre-save di berbagai layanan musik digital.

Setelah menunggu lebih dari dua tahun sejak album pertamanya, Mengudara (2022), ekspektasi saya terhadap karya terbaru Gita cukup tinggi. Jika Mengudara berisi sembilan lagu dengan nuansa reflektif yang kuat, Berusaha di Bawah Hujan hadir dengan 12 lagu dan warna yang terasa berbeda. Kali ini, Gita secara terbuka berbicara tentang cinta dengan balutan musik country pop yang hangat dan ringan. 

Baca artikel selengkapnya di sini.  

3. Teror Pocong, Jam Malam, dan Cara Ketakutan Kendalikan Kita

Beberapa waktu terakhir, teror pocong jadi buah bibir di berbagai daerah. Sosok yang selama ini lebih akrab ditemui dalam film horor dan cerita malam mendadak hadir dalam pesan berantai, unggahan media sosial, hingga percakapan warga. Dampaknya tidak berhenti pada rasa takut, tetapi juga memengaruhi perilaku sehari-hari masyarakat.

Saya pertama kali mengetahui kabar tersebut dari pesan di grup kos. Pemilik kos membagikan foto penampakan pocong di tengah perkampungan warga Mulyorejo, Surabaya. Pesan berantai itu menyebar dengan cepat dan menimbulkan kepanikan di kalangan warga.

Simak artikelnya di sini

4.Ode untuk Bu Her

Ketika suaminya meninggal, saya berusia sekitar 13 atau 14 tahun. Bu Her bisa pingsan belasan kali dalam sehari tiap kali ada orang datang mengucapkan belasungkawa. Ia tidak kuat menahan sedih karena kehilangan belahan jiwanya.

Bagi saya, pemandangan itu terasa ganjil.

Sepanjang hidup, saya tidak pernah mengenal Bu Her sebagai perempuan yang romantis. Ia selalu tampak kuat, tegas, dan nyaris tidak pernah menunjukkan kerentanannya di depan orang lain. Namun untuk pertama kalinya, saya melihat perempuan itu benar-benar rapuh.

Baca artikel lengkapnya di sini

5. Dear Kawan-kawan Kwir, Waktu Kita Berbeda dan Itu Tidak Apa-Apa

Pada suatu masa saat remaja, kamu sedang duduk di bangku sekolah menengah. Kamu melihat dunia di sekitarmu berputar, semua orang punya cerita: Si A lagi PDKT, si B baru putus, atau si C yang sudah punya gebetan baru lagi. 

Kamu duduk di pinggir semua drama itu. Dari bisingnya ingar-bingar sekitarmu, duniamu justru di situ saja. Rasanya seperti cuma jadi karakter latar, bahkan di kehidupan sendiri. 

Sepintas lalu bayangan dicintai dan mencintai melintasi benak. Namun, dunia tak pernah mengajarkanmu bagaimana bentuk cinta karena dalam definisinya, cinta hanya untuk mereka sepasang laki dan perempuan.

Baca artikel selengkapnya di sini

About Author

Magdalene