Tren hidup sehat, termasuk olahraga, meningkat sejak pandemi COVID-19 pada 2020. Pilihan aktivitas fisik kini semakin beragam dari sisi jenis maupun manfaat, tidak lagi berkutat pada olahraga mainstream seperti lari. Salah satu aktivitas yang ikut mengalami peningkatan minat adalah latihan di gym.
Sebagian orang memilih gym karena dapat menggabungkan berbagai jenis latihan, mulai dari cardio hingga strength training. Aktivitas ini juga sering dipandang sebagai cara merawat kesehatan fisik sekaligus menjaga kondisi psikis melalui aktivitas yang menjadi stress reliever.
Namun bagi sebagian perempuan, pengalaman berlatih di gym tidak selalu berjalan nyaman.
Menjadi pegiat gym memerlukan komitmen waktu, tenaga, dan biaya yang tidak kecil. Pengeluaran tersebut meliputi biaya membership, pelatih (trainer), hingga perlengkapan dasar seperti sepatu olahraga. Banyak orang menyebut gym sebagai rumah kedua, tempat mengeksplorasi berbagai alat latihan tanpa batas waktu.
Pengalaman tersebut tidak selalu dirasakan semua perempuan, termasuk saya.
Baca juga: Dari ‘Insecurity’ ke Kapitalisasi: Bagaimana Pilates hingga ‘Gym’ Agresif Sasar Perempuan
Tubuh Perempuan dan Stigma di Ruang Olahraga
Stigma terhadap perempuan dalam dunia olahraga tidak muncul tiba-tiba. Cara pandang ini berakar dari sejarah panjang yang memposisikan tubuh perempuan sebagai tubuh yang rapuh dan perlu dilindungi dari aktivitas fisik berat.
Pada abad ke-19, dokter Amerika Edward H. Clarke dalam bukunya Sex in Education; or, A Fair Chance for Girls (1873) bahkan berargumen aktivitas fisik intens dan pendidikan tinggi dapat merusak sistem reproduksi perempuan. Pandangan tersebut sempat memengaruhi kebijakan pendidikan dan olahraga pada masa itu, yang membatasi partisipasi perempuan dalam berbagai aktivitas fisik.
Narasi semacam ini memang sudah lama dipatahkan oleh ilmu pengetahuan modern. Namun jejak cara berpikirnya masih terasa hingga sekarang.
Latihan beban atau strength training, misalnya, masih sering dipersepsikan sebagai ranah laki-laki. Perempuan yang berlatih dengan intensitas tinggi kerap dianggap melanggar batas feminitas yang dianggap “normal”.
Padahal secara fisiologis, latihan kekuatan merupakan bagian penting dari kebugaran. Latihan ini membantu meningkatkan massa otot, kepadatan tulang, dan metabolisme tubuh. Bagi perempuan, manfaat ini justru penting untuk kesehatan jangka panjang.
Meski demikian, perubahan tubuh akibat latihan sering dibaca melalui standar estetika, bukan kesehatan. Tubuh atletis perempuan diterima selama masih berada dalam batas yang dianggap feminin. Ketika otot terlihat lebih menonjol, respons sosial sering berubah menjadi kritik.
Penelitian Impact of Sports Involvement on Body Image Perception (2023) menunjukkan citra tubuh masih menjadi isu besar dalam olahraga perempuan. Atlet perempuan jauh lebih sering menghadapi tekanan sosial terkait penampilan tubuh dibandingkan atlet laki-laki.
Data dari National Collegiate Athletic Association (NCAA) juga menunjukkan perbedaan persepsi yang signifikan. Sekitar 68 persen atlet laki-laki merasa puas dengan tubuh mereka, sementara pada atlet perempuan angkanya hanya sekitar 45 persen.
Tekanan sosial ini tidak hanya memengaruhi atlet profesional. Dalam kehidupan sehari-hari, komentar seperti “Anak cewek tuh kalau badannya gede kayak monster, nanti susah lho dideketin sama cowok” masih sering muncul dalam percakapan.
Kalimat semacam ini menunjukkan tubuh perempuan masih dinilai berdasarkan standar feminitas dan penerimaan sosial. Padahal bagi banyak perempuan yang berlatih, perubahan tubuh tersebut merupakan hasil dari disiplin, kerja keras, dan upaya menjaga kesehatan.
Namun dalam ruang sosial yang masih dipengaruhi norma patriarki, tubuh perempuan yang kuat sering kali tetap dianggap terlalu berlebihan.
Baca juga: ‘Feminine Muscle’: Perempuan ‘Gym’ Boleh Berotot tapi Tetap Harus Langsing
Cara Perempuan Menghadapi Tekanan Sosial
Situasi tersebut membuat sebagian perempuan mencari cara agar tetap bisa berolahraga dengan lebih nyaman. Beberapa memilih berlatih di tempat khusus perempuan (private gym for women only). Sebagian lain datang pada jam latihan yang lebih sepi untuk menghindari kerumunan. Ada pula yang memilih membuat mini home gym di rumah.
Pilihan-pilihan tersebut muncul sebagai cara menghadapi stigma dan tabu yang masih melekat pada perempuan yang aktif berolahraga.
Tekanan juga tidak hanya muncul di ruang gym. Media sosial sering menjadi ruang penilaian terhadap tubuh perempuan. Perempuan yang aktif berolahraga kerap menerima komentar terkait pola makan, bentuk tubuh, maupun gaya hidup.
Dalam beberapa kasus, komentar tersebut berkaitan dengan standar tertentu seperti clean eating. Tekanan semacam ini dapat berkembang menjadi kekerasan berbasis gender (KBG) maupun kekerasan berbasis gender online (KBGO).
Meski begitu, sejumlah komunitas gym mulai membangun lingkungan yang lebih suportif. Dukungan dari sesama anggota latihan dapat menciptakan rasa aman bagi perempuan yang aktif berolahraga.
Lingkungan seperti ini menunjukkan olahraga seharusnya menjadi ruang yang inklusif. Aktivitas fisik merupakan bagian dari gaya hidup sehat yang dapat diakses siapa pun tanpa terikat stigma gender. Perubahan cara pandang terhadap perempuan dalam dunia olahraga menjadi langkah penting untuk menciptakan ruang latihan yang lebih aman dan setara.
Divya Sanjay adalah anak tunggal perempuan yang tertarik pada isu gender meskipun tidak menjadikannya sebagai konsentrasi bidang saat kuliah. Ia gemar mendengarkan radio dan dapat dihubungi melalui Instagram @divyasanjayb.
Artikel ini merupakan bagian dari serial liputan bertema “Merebut Kembali Ruang Aman di Dunia Olahraga” dalam rangka Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day/IWD) 2026.





















