Bagi banyak orang, berolahraga adalah soal disiplin, kesehatan, dan gaya hidup. Meskipun banyak literatur menganjurkan olahraga untuk menjaga kesehatan dan stamina, bagi kelompok perempuan dengan tubuh curvy atau berisi, ada tantangan lain yang sering luput dari perhatian, yakni menemukan pakaian olahraga yang benar-benar nyaman, sesuai ukuran, dan pas dengan kondisi kantong.
Jessica, 41, pekerja profesional yang aktif berolahraga, mengatakan pengalaman berbelanja pakaian olahraga sering kali membuatnya frustrasi. Sebagai pekerja kantoran yang sering duduk menghadap laptop selama delapan hingga sepuluh jam sehari, ia rutin melakukan yoga. Namun mencari pakaian yang pas untuk aktivitas tersebut bukan perkara mudah.
“Kalau pakai ukuran standar, tidak cukup. Tapi kalau ambil big size malah kebesaran,” kata Jessica (bukan nama sebenarnya), ditemui di Jakarta, (2/3).
Masalah itu membuatnya harus mencari alternatif toko untuk membeli pakaian sesuai kebutuhan. Salah satunya adalah toko yang menjual produk sisa ekspor yang tidak lolos standar produksi. Biasanya, produk pakaian tersebut berasal dari Amerika Serikat. Meski ukurannya cenderung lebih besar dari standar nasional, bagi Jessica ukurannya malah terlalu besar.
“Ukuran kecil untuk mereka, masih lebih besar dari tubuhku,” tutur perempuan yang tinggal di daerah Bendungan Hilir, Jakarta Pusat itu.
Baca juga: Amber Glenn dan Tabu Menstruasi yang Hambat Atlet Perempuan
Strategi Bertahan di Tengah Pilihan Terbatas
Karena pilihan pakaian olahraga perempuan dengan ukuran cenderung besar sangat terbatas, Jessica sering menyiasatinya dengan membeli produk untuk laki-laki, terutama kaos olahraga.
“Kalau kaos biasanya saya cari ukuran cowok Indonesia. Soalnya pundak saya pendek, kalau ukuran luar negeri malah terlalu lebar,” kata perempuan dengan berat badan sekitar 89–91 kilogram dan tinggi 151 sentimeter itu.
Namun, persoalan yang paling sulit adalah mencari sport bra dan legging, dua item penting terutama untuk yoga. Jessica mengatakan ukuran yang tertera pada produk lokal sering kali tidak sesuai dengan ukuran sebenarnya.
“Misalnya aku cari bra ukuran 44, tapi ternyata yang datang seperti ukuran 40. Jadi sempit sekali,” katanya.
Harapan menemukan ukuran yang tepat lewat platform e-commerce pun sering kali berakhir mengecewakan. Jessica mengaku beberapa kali membeli pakaian olahraga secara daring, tetapi ukuran yang datang tidak sesuai dengan deskripsi karena terlalu kecil. Karena tidak tersedia ukuran yang lebih besar, Jessica memilih memberikan pakaian tersebut kepada teman daripada mengembalikannya.
Bagi siapa pun yang suka olahraga pasti tahu, sport bra dan legging merupakan item yang paling sensitif terhadap kesalahan ukuran. Keduanya harus mengikuti bentuk tubuh secara presisi agar nyaman saat bergerak. Ketidaksesuaian ukuran pada pakaian olahraga dapat menurunkan kenyamanan dan bahkan berpotensi mengurangi partisipasi perempuan dalam aktivitas fisik.
Menurut Jessica, jika ingin ukuran yang benar-benar sesuai dengan standar internasional, harganya biasanya jauh lebih mahal.
“Kalau brand luar negeri biasanya harganya bisa sampai Rp400 ribu sampai Rp500 ribu untuk satu sport bra,” ungkap Jessica.
Padahal, menurutnya harga yang lebih masuk akal dan sesuai kantong untuk kebanyakan konsumen seperti dirinya berada di kisaran Rp100 ribu hingga Rp300 ribu.
Baca juga: Breaking Barriers For Women in Football
Merawat Pakaian Seperti Barang Berharga
Karena sulit menemukan pengganti yang cocok, Leila, 35, pekerja lepas di Jakarta, berusaha merawat pakaian olahraganya dengan sangat hati-hati. Beberapa bahkan sudah dipakai bertahun-tahun.
“Sport bra saya usianya sudah lebih dari tiga tahun, masih sering saya pakai. Saya cuci sendiri supaya tidak cepat longgar,” ujarnya.
Sama seperti Jessica, Leila juga sering kesulitan mencari pakaian olahraga yang sesuai dengan kebutuhannya. Jika ingin membeli pakaian olahraga yang benar-benar nyaman, ia harus merogoh kocek lebih dalam. Leila pernah membeli sports bra seharga Rp500.000. Baju tersebut ia gunakan untuk berolahraga, seperti jogging keliling GBK tiga kali dalam sepekan.
“Mau tidak mau cuci-kering-pakai, pokoknya setiap habis dipakai langsung cuci, tunggu kering, besok pakai lagi,” tuturnya.
Menurut Leila, pengalaman ini terasa ironis mengingat banyak perempuan Indonesia sebenarnya memiliki bentuk tubuh curvy atau berisi.
“Kalau dilihat, orang Indonesia kebanyakan badannya curvy. Tapi mencari baju olahraga yang cocok tetap susah,” katanya.
Baca juga: Popularitas Sepak Bola Perempuan Naik, tapi Penghapusan Stigma dan Kekerasan Jalan di Tempat
Industri Activewear dan Keragaman Tubuh
Isu ini juga menjadi perhatian dalam kajian body diversity dalam industri fashion. Penelitian berjudul “Dress for Fit: An Exploration of Female Activewear Consumption” (2017) mengungkapkan atribut produk seperti desain fungsional, warna, kesesuaian ukuran, harga, serta citra model memengaruhi berbagai manfaat pakaian olahraga.
Manfaat tersebut antara lain meningkatkan suasana hati, memfasilitasi aktivitas olahraga, mendorong gaya hidup sehat dan aktif, serta membangun citra tubuh yang bugar secara fisik.
Temuan ini menunjukkan pentingnya industri activewear memperhatikan keragaman tubuh konsumen, terutama dalam kategori pakaian olahraga perempuan.
Bagi Jessica, Leila, dan banyak perempuan lain dengan tubuh curvy atau berisi, harapannya sebenarnya sederhana: lebih banyak produk yang nyaman, ukurannya pas, dan harganya tetap terjangkau.
“Kalau menemukan pakaian seperti itu, olahraga jadi terasa lebih semangat dan percaya diri,” pungkas Leila.
Denty Piawai Nastitie adalah jurnalis dan penulis lepas yang menaruh perhatian pada isu perempuan, gender, dan media.
Artikel ini merupakan bagian dari serial liputan bertema “Merebut Kembali Ruang Aman di Dunia Olahraga” dalam rangka Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day/IWD) 2026.




















