04/06/2026
Culture Opini Screen Raves

‘The Bride’ (2026): Ketika Monster Jadi Suara dan Wajah Perlawanan Femisida

Fiksi ilmiah lama dipuja sebagai wilayah imajinasi laki-laki—penuh petualangan, kekerasan, dan pahlawan maskulin. Lewat ‘The Bride’, Maggie Gyllenhaal merebut kembali akar genre ini: mengubah kisah monster menjadi jeritan perlawanan perempuan.

  • March 25, 2026
  • 6 min read
  • 1001 Views
‘The Bride’ (2026): Ketika Monster Jadi Suara dan Wajah Perlawanan Femisida

Foto: IMDB

Fiksi ilmiah adalah genre yang identik dengan laki-laki. Ambil contoh karya populer seperti Star Wars, 2001: A Space Odyssey, dan Dune. Karakter utamanya hampir selalu laki-laki. Perempuan paling sering hadir sebagai love interest yang minim presensinya. 

Ceritanya juga mengandung banyak kekerasan atau petualangan mencekam yang kerap dikaitkan dengan maskulinitas. Penulis dan penggemar karya-karya tersebut pun mayoritas laki-laki. Padahal, fiksi ilmiah telat lama dicatat lahir lewat karya seorang perempuan, Marry Shelley, berjudul Frankenstein. Karya yang ditulis pada 1816 itu disebut dalam banyak catatan sebagai karya orisinal fiksi ilmiah pertama dalam peradaban manusia.

Kisah Frankenstein dinamai berdasarkan tokoh utamanya, seorang ilmuwan gila yang menghidupkan kembali potongan-potongan mayat manusia yang ia satukan. Tindakan yang bermula sebagai ambisi masyhur itu berakhir tragis. Frankenstein melihat ciptaannya sebagai sosok mengerikan yang membuatnya jijik dan takut. Ia pun kabur meninggalkan makhluk ciptaannya, yang bahkan belum sempat dinamai, untuk bertahan hidup sendiri. Namun, makhluk tersebut mengejar Frankenstein ke mana pun ia pergi, bahkan menghancurkan hidupnya dalam upaya meminta perhatian penciptanya. 

Baca juga: Rentan jadi Korban Kejahatan, Alasan Perempuan Suka ‘True Crime’

Banyak sastrawan mengamati, tema di dalam Frankenstein kemungkinan besar terinspirasi dari kisah hidup Mary Shelley sendiri. Misalnya, ditinggal meninggal ibu saat masih kecil dan kehilangan anaknya beberapa hari setelah melahirkan. Frankenstein, mungkin, adalah alegori pengalaman hidup Mary Shelley sebagai seorang perempuan. 

The Bride, film soal pengantin Frankenstein yang baru tayang di bioskop tidak melupakan semua itu. Pengalaman dan keresahan perempuan adalah tema utama. Film ini bahkan dibuka oleh Mary Shelley di alam baka. Ia bermonolog kepada penonton tentang karya transformatifnya—dan merasa “tugasnya” belum selesai.

Pengantin Frankenstein tidak ada dalam Frankenstein. Ia lahir di film The Bride of Frankenstein (1935), sekuel dari Frankenstein (1931). Film ini mengikuti Baron Henry Frankenstein yang didesak monsternya menciptakan pasangan. Meski namanya jadi judul, sang pengantin hanya muncul sekitar tiga menit di akhir, tanpa dialog.

Sayang sekali, mengingat banyaknya pertanyaan yang bisa diulik dari karakternya. Bagaimana kalau monster yang dibangkitkan ilmuwan gila bukanlah laki-laki melainkan perempuan? Apakah masalah yang mendatanginya akan sama? Terlebih jika dia adalah seorang perempuan dari kelompok masyarakat yang diremehkan.

Bak dokter Frankenstein kepada ciptaannya, Maggie Gyllenhaal selaku penulis dan sutradara di balik The Bride memberikan nyawa untuk si pengantin. Gyllenhaal memberikannya masa lalu, kepribadian, dan tujuan untuk dikejar. 

Semuanya bermula saat makhluk ciptaan Frankenstein—yang kini menamai dirinya Frank—datang ke Chicago. Lebih dari seabad setelah diciptakan dan hidup sendirian, Frank yang kesepian mencari Dr. Euphronious, ilmuwan visioner, untuk memintanya menciptakan pendamping hidup. Bersama-sama, mereka mencuri mayat untuk dibangkitkan kembali.

Namun sesaat sebelum proses dimulai, Frank ragu ketika melihat wajah calon pasangannya. “She’s too beautiful,” katanya. Ucapan itu menegaskan bahwa bahkan tubuh perempuan yang tak bernyawa pun tak pernah lepas dari standar kecantikan patriarkal. Sosok monster di film ini juga digambarkan cukup berwawasan—ia paham risiko yang mengintai perempuan cantik pada zamannya.

Baca juga: Bahaya Incel dan Femisida: Percakapan Penting Setelah Nonton ‘Adolescence’

Jasad yang dicuri Frank dan dokter Euphronious adalah Ida—perempuan muda yang tewas dalam kecelakaan saat bekerja sebagai escort bagi anggota mafia. Film ini juga menolak trope born sexy yesterday: saat tubuh perempuan dewasa dan seksual, tapi dipasangi kepolosan kekanak-kanakan agar mudah dikendalikan. Meski lupa identitasnya, Ida yang bangkit tetap memancarkan keberanian yang sama seperti sosoknya di adegan pembuka.

Penampilannya memang nyentrik—rambut seperti tersetrum, bercak hitam di wajah—tapi kecantikannya masih utuh. Itu jadi pisau bermata dua: memudahkannya berbaur dibanding Frank, sekaligus membuatnya lebih rentan jadi sasaran niat jahat. Di sebuah klub malam, Ida didekati dan disentuh tanpa consent. Tapi tubuh Ida—dengan jiwa Mary Shelley yang seolah merasuk—menyimpan ingatan tentang batas dan kekerasan seksual. Ia menolak keras, merebut kembali otoritas atas dirinya.

Pelecehan itu tak berhenti di dalam klub. Pelaku mengikuti mereka hingga ke luar, memaksa Frank membunuhnya demi melindungi Ida. Tindakan itu membuat keduanya diburu polisi dan memicu kepanikan publik atas keberadaan mereka.

Namun versi lengkap kejadian segera menyebar lewat kesaksian warga. Simpati pun mengalir, terutama dari sesama perempuan. Bercak hitam di wajah, bibir, dan lidah Ida kemudian diadopsi sebagai simbol perlawanan terhadap kekerasan pada perempuan. 

Ingatan Ida yang berangsur pulih menyeretnya pada kenyataan pahit. Dulu, ia adalah informan polisi bersama sejumlah pekerja seks lainnya. Mereka mengumpulkan bukti tentang kejahatan para mafia yang mereka layani.

Namun penyelidikan itu dihentikan. Identitas para informan bocor. Banyak dari mereka dibunuh secara keji oleh kepala mafia. Kematian mereka sunyi—tanpa keadilan. Mereka yang selamat hidup dalam ketakutan, sadar status sosial membuat mereka tak pernah benar-benar dilindungi.

Semakin ingatannya pulih, amarah Ida berubah arah. Ia tak lagi marah sendirian, melainkan membawa solidaritas kolektif atas ketidakadilan yang dialami banyak perempuan. Kekerasan yang menimpanya bukan insiden langka, tapi buah relasi kuasa yang timpang.

Di sebuah pesta elite, di hadapan audiens besar, Ida menumpahkan semuanya—seperti medium yang menyalurkan suara dari kubur. Ia menjadi perantara bukan hanya bagi Mary Shelley, tapi juga bagi perempuan-perempuan lain yang dibungkam. Amarahnya menjelma aksi yang mustahil diabaikan, membuat mafia dan aparat kelabakan sekaligus melipatgandakan dukungan publik.

Gelombang perlawanan itu melampaui sosok Ida. Meski ia akhirnya gugur ditembak, kobarannya terlanjur menyala. Perempuan-perempuan Chicago bergerak menuntut keadilan mereka sendiri, hingga sang kepala mafia—dalang dari semuanya—akhirnya berhasil ditangkap.

Peristiwa dalam The Bride memantulkan realitas dunia nyata. Kekerasan terhadap perempuan tetap tinggi dan terus meningkat dari tahun ke tahun di berbagai negara. Sebagian kasus bahkan masuk kategori femisida.

Menurut Komnas Perempuan, femisida adalah pembunuhan terhadap perempuan yang didorong oleh kebencian atau motif berbasis gender, kerap menjadi eskalasi dari kekerasan sebelumnya. Ia berbeda dari pembunuhan biasa karena ada motif spesifik: pelaku marah karena diceraikan, tersinggung karena cintanya ditolak, menolak bertanggung jawab atas kehamilan, dan bentuk kontrol lain atas tubuh serta hidup perempuan.

Baca juga: Dear Sineas ‘Vina: Sebelum Tujuh Hari’, Filmmu Bukan Sarana Edukasi tapi Eksploitasi

Kasus femisida paling banyak terjadi dalam ranah intim: dilakukan oleh pacar, suami, atau mantan pasangan. Namun kekerasan mematikan juga menimpa perempuan dari kelompok rentan—pekerja seks, perempuan disabilitas, perempuan dengan orientasi seksual minoritas, hingga transpuan.

Di The Bride, pola itu terasa jelas. Para mafia membunuh perempuan-perempuan pendamping bukan sekadar untuk menutup jejak, tapi karena merasa berkuasa atas hidup mereka—perempuan yang dipandang “tidak berharga” oleh masyarakat. Polisi yang menutup mata menegaskan kegagalan negara melindungi warganya yang paling rentan.

The Bride bukan sekadar film monster yang menafsir ulang mitos Frankenstein dan memberi suara pada karakter titularnya. Film ini menempatkan pengalaman perempuan sebagai pusat cerita. Lewat fiksi ilmiah dan horor, Maggie Gyllenhaal menyorot kekerasan berbasis gender yang terus menghantui perempuan—baik di dunia fiksi maupun nyata.

About Author

Keisha Elyoni