21/07/2026
Issues Madge PCR Opini Relationship

Ada Apa dengan ‘Cowok Bingung’? Saat Validasi Jadi ‘Currency’ di Relasi

Fenomena “cowo bingung” tak sekadar menggambarkan laki-laki yang sulit berkomitmen. Ada konstruksi maskulinitas yang bikin sebagian laki-laki terus mencari validasi, bahkan saat telah memiliki pasangan.

  • July 21, 2026
  • 4 min read
  • 123 Views
Ada Apa dengan ‘Cowok Bingung’? Saat Validasi Jadi ‘Currency’ di Relasi

Belakangan, linimasa media sosial saya dipenuhi cerita tentang laki-laki yang sudah memiliki pasangan, tetapi masih aktif meninggalkan komentar genit di unggahan perempuan lain. Tak jarang mereka mengirim direct message, atau sengaja menjaga komunikasi dengan mantan tanpa sepengetahuan pasangan. Ketika dikonfrontasi, enggak sedikit yang beralasan, “Cuma cari teman,” “Biar seru aja,” atau “Enggak ngapa-ngapain,” “enggak ada niat selingkuh.”

Anak-anak muda kerap melabeli kecenderungan ini sebagai “cowo bingung”. Istilah ini umumnya merujuk pada laki-laki yang mengaku mendamba hubungan serius, tetapi tetap menikmati perhatian dari perempuan lain. Meski terdengar seperti istilah bercanda, saya justru melihat ada persoalan yang lebih besar di baliknya.

Jika seseorang sudah memilih menjalani relasi yang monogami, mengapa perhatian dari perempuan lain masih terasa penting? Mengapa pengakuan dari orang lain tetap dicari meski ia telah memiliki pasangan?

Pertanyaan itulah yang membuat saya melihat fenomena “cowo bingung” bukan semata persoalan komitmen. Bagi saya, perilaku ini juga membuka pertanyaan tentang bagaimana sebagian laki-laki memaknai maskulinitas dan nilai dirinya. Apakah pengakuan dari perempuan lain telah menjadi cara untuk memastikan dirinya tetap menarik, diinginkan, dan layak dihargai?

Baca Juga: ‘Micro-cheating’ atau Selingkuh Tipis-tipis, Perlukah Diwaspadai?

Saat Validasi Jadi Ukuran Maskulinitas

Fenomena “cowo bingung” sering dipahami sebagai persoalan individu. Tidak sedikit yang menganggap perilaku tersebut sekadar menunjukkan laki-laki yang tidak tegas, ogah jujur, atau takut berkomitmen. Padahal, jika dilihat lebih jauh, fenomena ini juga berkaitan dengan cara masyarakat membentuk maskulinitas.

Dalam Masculinities (1995), sosiolog R.W. Connell menjelaskan maskulinitas bukan sifat bawaan laki-laki, melainkan konstruksi sosial yang dibentuk melalui relasi gender. Connell juga memperkenalkan konsep hegemonic masculinity, yakni bentuk maskulinitas yang pada periode tertentu dianggap paling ideal dan paling dihargai dalam masyarakat. Artinya, tidak ada satu cara yang alamiah untuk menjadi laki-laki. Standar tentang maskulinitas dibentuk, dipertahankan, dan terus berubah mengikuti nilai yang berkembang di masyarakat.

Di era media sosial, standar tersebut ikut bergeser. Laki-laki tidak hanya didorong untuk tampil sukses dan percaya diri, tetapi juga terlihat menarik, diinginkan, dan memiliki daya tarik di mata orang lain. Perhatian dalam bentuk likes, komentar, pesan pribadi, hingga interaksi di media sosial pun mudah dimaknai sebagai pengakuan atas nilai diri.

Dalam konteks itulah fenomena “cowo bingung” menjadi menarik. Persoalannya bukan semata sulit berkomitmen, melainkan dorongan untuk terus memperoleh validasi dari luar. Pada sebagian laki-laki, perhatian dari perempuan lain menjadi cara untuk memastikan dirinya masih menarik dan layak diinginkan, meski telah memiliki pasangan.

Akibatnya, hubungan romantis berisiko bergeser dari ruang untuk membangun kedekatan menjadi ruang pembuktian diri. Komitmen berjalan berdampingan dengan kebutuhan untuk terus memperoleh pengakuan. Selama nilai diri masih bergantung pada validasi dari luar, perhatian dari pasangan sering kali terasa belum cukup karena selalu ada keinginan untuk memastikan diri tetap diinginkan.

Baca Juga: Kenalkan Teman ke Pasangan, Perlu Enggak Sih?

Bagaimana Jika Saya Enggak Mau “Bingung” Lagi?

Fenomena “cowo bingung” tentu tidak dapat digeneralisasi kepada semua laki-laki. Namun, kemunculannya memperlihatkan bagaimana konstruksi maskulinitas dapat memengaruhi cara sebagian laki-laki memaknai hubungan romantis. Selama nilai diri terus diukur dari pengakuan orang lain, perhatian dari pasangan akan mudah terasa kurang. Relasi pun berisiko berubah menjadi ruang untuk mencari pembuktian, bukan tempat membangun kepercayaan dan rasa aman.

Menyadari pola tersebut merupakan langkah awal untuk keluar dari lingkarannya. Tidak ada yang keliru dengan keinginan untuk dihargai atau diterima. Persoalannya muncul ketika pengakuan dari orang lain menjadi satu-satunya cara untuk merasa bernilai. Pada titik itu, perhatian dari luar hubungan akan selalu terasa menggoda karena menawarkan pembuktian yang sifatnya sesaat.

Barangkali, yang perlu diubah bukan hanya cara kita menjalin hubungan, tetapi juga cara kita memaknai maskulinitas. Menjadi laki-laki tidak harus dibuktikan melalui banyaknya orang yang tertarik atau kemampuan mempertahankan perhatian dari perempuan lain. Maskulinitas yang lebih sehat justru memberi ruang bagi laki-laki untuk mengakui kerentanan, mengelola emosi, serta membangun hubungan yang didasarkan pada rasa saling percaya dan saling menghormati.

Perubahan itu tentu tidak bisa dibebankan kepada individu semata. Keluarga, sekolah, media, dan budaya populer juga berperan membentuk gambaran tentang seperti apa laki-laki yang dianggap ideal. Selama pengakuan sosial masih lebih dihargai daripada kedewasaan emosional, laki-laki akan terus didorong untuk membuktikan dirinya kepada orang lain, alih-alih belajar membangun relasi yang sehat.

Mungkin, pertanyaan yang perlu lebih sering kita ajukan bukan lagi, “Siapa pasangan yang tepat untuk saya?”, melainkan, “Sudahkah saya cukup matang untuk membangun hubungan tanpa terus menggantungkan nilai diri pada pengakuan orang lain?” Sebab, relasi yang sehat tidak lahir dari kebutuhan untuk terus mencari validasi, melainkan dari keberanian menerima diri sendiri dan memilih berkomitmen secara sadar dengan pasangan sebagai pribadi yang setara.

About Author

Esti Widyastuti Prabasukma