07/07/2026
Issues

Amber Glenn dan Tabu Menstruasi yang Hambat Atlet Perempuan 

Amber Glenn secara terbuka berbicara soal menstruasi pada Olimpiade Musim Dingin 2026. Keberaniannya membuka tabir stigma kekal terkait menstruasi di dunia olahraga.

  • March 9, 2026
  • 7 min read
  • 738 Views
Amber Glenn dan Tabu Menstruasi yang Hambat Atlet Perempuan 

Amber Glenn, atlet figure skating asal Amerika Serikat, baru saja menyelesaikan penampilannya di atas es ketika ia memutuskan untuk berbicara jujur tentang kondisinya. Di tengah ekspektasi dunia terhadap performa tanpa cela, Glenn mengungkap realitas biologis yang selama ini dianggap tabu: Siklus menstruasi. 

“Saya sedang menstruasi saat ini, jadi segalanya terasa sangat berat, terutama ketika kamu harus tampil di hadapan seluruh dunia. Ini menakutkan. Namun, kamu tetap harus menjadi seorang atlet terlepas dari bagaimana perasaanmu,” ujar Glenn dalam konferensi pers. 

Pernyataan Glenn tidak sekadar menggambarkan rasa sakit fisik. Ia menjelaskan perubahan hormon yang memengaruhi kemampuan teknisnya sebagai atlet. Glenn mencatat gangguan keseimbangan yang sangat krusial bagi seorang skater. Ia merasa tubuhnya menjadi “lembek seperti mi” (noodly) saat meluncur di atas es. Kondisi tersebut menggambarkan otot yang kehilangan kekuatan serta saraf yang tidak lagi memiliki presisi untuk melakukan lompatan-lompatan sulit. 

Dampak yang paling terasa justru pada sisi mentalnya. Alih-alih membicarakan kegagalan meraih medali, Glenn mengaku kehilangan rasa bahagia dan antusiasme yang biasanya ia rasakan ketika tampil. Baginya, menstruasi mengganggu pengalaman emosional positif yang selama ini membuatnya mencintai olahraga tersebut. 

“Itulah yang benar-benar saya inginkan, dan itulah yang saya lewatkan (karena menstruasi),” ungkapnya. 

Baca juga: Perempuan Indonesia Catat Sejarah, Emas buat Apriyani-Greysia

Tabu yang Bertahan Lama 

Keterbukaan Glenn memicu beragam respons di media sosial. Banyak yang mendukung dan memujinya, tetapi tidak sedikit pula yang mengkritik. Kritik tersebut menunjukkan menstruasi masih menjadi tabu di dunia olahraga profesional dan sering kali turut diinternalisasi oleh atlet perempuan sendiri. 

Mikaela Shiffrin, skier yang mencetak sejarah sebagai pemenang World Cup terbanyak sepanjang masa, baik di kategori laki-laki maupun perempuan, pernah mengalami hal serupa. Dalam serial video Moving Right Along di YouTube, ia menceritakan rasa malu dan canggung saat membicarakan menstruasi di ruang publik. Ia bahkan sempat menyesal pernah menyinggung topik tersebut dalam wawancara sebelum menyadari dirinya sendiri telah terpengaruh oleh tabu tersebut. 

Secara historis, menstruasi memang lama dijadikan alasan medis untuk mengeksklusi perempuan dari aktivitas fisik. Masyarakat Yunani dan Romawi Kuno mengenal konsep hysteria, yang berasal dari kata hystera (rahim). Organ reproduksi perempuan saat itu dianggap sebagai entitas semi-otonom yang dapat “berpindah-pindah” di dalam tubuh jika tidak mendapatkan kelembapan dari kehamilan. 

Dalam naskah Hippocratic Corpus, kumpulan tulisan medis Yunani Kuno tertua, rahim yang berpindah diyakini dapat menekan organ lain seperti jantung atau paru-paru sehingga menyebabkan sesak napas dan berbagai gangguan kesehatan. Aktivitas fisik berat bahkan dianggap dapat mengguncang posisi rahim dan memicu infertilitas atau keguguran spontan. 

Menurut penelitian Helen King dalam bukunya Hippocrates’ Woman: Reading the Female Body in Ancient Greece (1998), konstruksi medis tersebut memposisikan tubuh perempuan sebagai objek yang secara biologis dianggap tidak stabil dan lebih rapuh dibandingkan tubuh laki-laki. Akibatnya, olahraga tidak dilihat sebagai sarana kebugaran bagi perempuan, melainkan ancaman terhadap fungsi reproduksi mereka. 

Pandangan tersebut kemudian diperkuat secara pseudoscience oleh dr. Edward Clarke pada abad ke-19 dalam bukunya Sex in Education; or, a Fair Chance for Girls (1873). Clarke berargumen perempuan memiliki energi vital yang terbatas. Jika energi tersebut digunakan untuk olahraga atau pendidikan tinggi selama menstruasi, organ reproduksi dianggap akan kekurangan nutrisi dan mengalami kerusakan permanen. 

Argumen ini kemudian digunakan oleh sejumlah institusi pendidikan dan olahraga untuk membatasi partisipasi perempuan. Clarke mengklaim aktivitas non-esensial selama siklus bulanan dapat melemahkan perempuan secara fisik dan mental, narasi bias gender yang mengabaikan kemampuan tubuh perempuan beradaptasi terhadap latihan fisik. 

Baca juga: Sepak Bola Perempuan Semakin Diminati, Namun Disparitas Tetap Ada  

Menstruasi yang Kurang Diperhitungkan dalam Sains Olahraga 

Pandangan menstruasi sebagai gangguan juga memengaruhi penelitian olahraga modern. Mayoritas riset sains olahraga masih menggunakan tubuh laki-laki sebagai standar utama. Siklus hormonal perempuan sering dianggap variabel yang terlalu kompleks untuk dimasukkan dalam metodologi penelitian. 

Akibatnya, panduan nutrisi, pemulihan, dan strategi latihan lebih banyak dirancang berdasarkan tubuh laki-laki. Atlet perempuan sering harus menyesuaikan diri dengan sistem yang tidak sepenuhnya mempertimbangkan kondisi biologis mereka. 

Padahal, sebuah studi tahun 2022 dalam jurnal Science and Medicine in Football menemukan menstruasi memiliki “dampak negatif yang jelas terhadap performa.” Gejala yang dilaporkan tidak hanya nyeri perut, tetapi juga kelelahan sistemik, penurunan kualitas tidur, serta hilangnya fokus yang penting dalam olahraga kompetitif. 

Calli Hauger-Thackery, pelari jarak jauh Olimpiade asal Inggris, juga pernah membicarakan hal tersebut dalam wawancara dengan BBC. Ia menggambarkan perubahan fisik yang signifikan menjelang menstruasi. 

“Saya merasa sangat lelah, kaki terasa berat, dan terkadang merasa seperti berlari menembus lumpur,” ungkapnya. 

Bagi Calli, siklus menstruasi menjadi sumber kecemasan, terutama ketika jadwal kompetisi besar bertepatan dengan periode tersebut. Dalam Boston Marathon April lalu, ia finis di posisi keenam, tetapi terus bertanya-tanya apakah hasilnya bisa berbeda jika ia tidak sedang menstruasi. 

Dampak tabu dan kurangnya dukungan ini tidak hanya dirasakan atlet elit. Studi Canadian Women & Sport pada 2022 terhadap 4.500 responden menemukan 25 persen peserta merasa menstruasi membatasi partisipasi mereka dalam olahraga. Data tersebut juga menunjukkan anak perempuan berhenti dari olahraga terorganisir dua kali lebih cepat dibanding anak laki-laki, dengan menstruasi menjadi salah satu faktor penghambat. 

Dalam olahraga profesional, tekanan tersebut bahkan membuat sebagian atlet muda mencoba mengontrol atau menghilangkan siklus menstruasi melalui obat-obatan atau diet ekstrem. Mereka percaya langkah tersebut dapat meningkatkan performa. Padahal, hilangnya siklus menstruasi (amenore) merupakan tanda kondisi Relative Energy Deficiency in Sport (RED-S), yang dapat merusak kesehatan tulang dan sistem metabolisme secara permanen. 

Baca juga: Berlapis Tekanan, Kesehatan Mental Atlet Diabaikan

Perubahan Sistemik Dibutuhkan 

Untuk mengatasi persoalan ini, Allison Sandmeyer-Graves, CEO Canadian Women & Sport, menilai perubahan tidak bisa hanya bergantung pada keberanian individu atlet untuk berbicara. Sistem olahraga secara keseluruhan perlu bertransformasi. 

“Kita semua harus tau tahu bahwa olahraga dapat mengubah budaya dengan cara yang sangat penting, karena menstruasi yang sehat adalah bagian dari tubuh yang sehat dan itu penting untuk atlet (perempuan),” tegasnya dalam wawancara bersama CBC. 

Beberapa tim olahraga mulai mencoba pendekatan baru. Pada Piala Dunia Perempuan 2023, Tim Kanada bekerja sama dengan Nike untuk menggunakan pakaian dengan lapisan liner khusus guna mencegah kebocoran saat menstruasi. 

Tim Orlando Pride dari National Women’s Soccer League juga mengganti celana pendek putih mereka dengan celana pendek gelap setelah pemain menyampaikan kekhawatiran menggunakan celana putih saat menstruasi. 

Di Inggris, tim rugby Sale Sharks Women bekerja sama dengan Manchester Metropolitan University untuk memberikan edukasi kepada para pemain mengenai siklus menstruasi dan perencanaan latihan. 

Mantan kapten rugby Inggris, Katy Daley-McLean, menjelaskan timnya kini menerapkan strategi proaktif, termasuk mengonsumsi ibuprofen beberapa hari sebelum menstruasi untuk mengelola inflamasi. 

“Melalui pengetahuan inilah kita bisa membuat rencana dan mengubah perilaku untuk menjadikan perempuan atlet yang lebih baik,” kata Katy. 

Pada akhirnya, pengakuan jujur dari atlet elit seperti Glenn memang penting untuk membuka percakapan tentang menstruasi dalam olahraga. Namun perubahan jangka panjang membutuhkan langkah kolektif untuk memperbaiki sistem olahraga yang masih bias gender. 

Upaya tersebut perlu dimulai dari riset ilmiah yang memasukkan siklus hormonal perempuan sebagai data utama, hingga kebijakan federasi olahraga yang memastikan fasilitas dan perlengkapan yang sesuai dengan kebutuhan atlet perempuan. 

Pelatih, staf medis, dan pengambil kebijakan juga perlu memandang menstruasi bukan sebagai hambatan performa, melainkan bagian dari manajemen kesehatan atlet profesional. 

Sebagaimana ditegaskan Graves, olahraga memiliki kekuatan besar untuk mengubah budaya. Ketika menstruasi tidak lagi dibicarakan dengan rasa malu di ruang ganti, tetapi menjadi bagian dari strategi performa dan kesehatan atlet, ruang bagi atlet perempuan untuk berkembang akan semakin terbuka. 

Artikel ini merupakan bagian dari serial liputan bertema “Merebut Kembali Ruang Aman di Dunia Olahraga” dalam rangka Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day/IWD) 2026. 

About Author

Jasmine Floretta V.D

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.