08/09/2026
Community Issues

Sisterhood Festival 2026, Ruang Perempuan Bersuara dan Saling Menguatkan

Dari ancaman perempuan jurnalis hingga keamanan digital, banyak cerita dibawa ke Sisterhood Festival 2026. Di sini, perempuan bertemu, berbagi pengalaman, dan membangun solidaritas.

  • September 7, 2026
  • 6 min read
  • 146 Views
Sisterhood Festival 2026, Ruang Perempuan Bersuara dan Saling Menguatkan

Foto: Toto Santika Budi/Magdalene

Beragam isu yang dekat dengan kehidupan perempuan dibawa ke ruang publik dalam Sisterhood Festival 2026 di Melting Pop, MBloc Space, Jakarta Selatan (5/9). Digelar Magdalene bersama International Media Support (IMS) dan The Swedish International Development Cooperation Agency (SIDA), festival perdana ini mempertemukan media, komunitas, dan publik untuk membahas pengalaman perempuan sekaligus membangun solidaritas.

Menggandeng Women News Network (WNN), Sisterhood Festival 2026 menghadirkan panel diskusi, kegiatan komunitas, masterclass, kelas warga, hingga pertunjukan komedi dan musik. Pengunjung juga dapat mengunjungi marketplace yang diisi berbagai usaha kecil menengah, komunitas, dan organisasi.

Editor-in-Chief Magdalene, Devi Asmarani, mengatakan sisterhood dalam festival ini tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi diwujudkan melalui dialog, aksi, dan kolaborasi.

“Perjuangan mendorong kesetaraan bukan pekerjaan satu orang atau kelompok, tapi upaya bersama yang dilakukan di berbagai lapisan masyarakat bahkan sampai ke ranah personal. Pada akhirnya upaya kolektif seperti ini lah yang dapat membantu kita untuk terus merawat harapan,” tutur Devi.

Dibuka oleh Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Irene Umar, Sisterhood Festival 2026 mengusung empat pilar, yakni Media, Pemberdayaan Ekonomi, Kesehatan Mental, dan Kepemimpinan. Keempat pilar tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai sesi yang mempertemukan pengunjung dengan narasumber dan komunitas.

Jakarta, Indonesia. September 5, 2026. Magdalene Event. Sisterhood Festival 2026. Photo by Toto Santiko/Magdalene.

Inklusivitas juga menjadi bagian dari penyelenggaraan festival melalui kehadiran juru bahasa isyarat untuk Teman Tuli dan Child Corner bagi para ibu yang ingin mengikuti rangkaian acara bersama anak.

Baca juga: ‘Daisy Chain Fields’: Melawan dengan Jelita ala Olivia Rodrigo dan Perempuan Musisi

Dari Ancaman Jurnalis hingga Kebijakan Pengasuhan

Pengalaman perempuan jurnalis menjadi salah satu isu yang dibahas dalam wawancara spesial bersama Jurnalis Tempo sekaligus Host Bocor Alus Politik Fransisca Christy Rosana. Dalam diskusi “Fireside Chat: Francisca Christy Rosana, Bocor Alus Tempo”, Chicha membagikan pengalaman dan tantangan perempuan jurnalis ketika menjalankan tugas.

Ancaman fisik, intimidasi, serangan digital, dan pelecehan menjadi bagian dari tantangan tersebut. Situasi ini juga berkelindan dengan posisi perempuan jurnalis ketika meliput isu-isu sensitif.

Menurutnya, pengalaman dan tantangan perempuan jurnalis penting dibicarakan dalam Sisterhood Festival. Ruang tersebut memungkinkan perempuan membahas pengalaman yang kerap dipandang sebagai persoalan individual, meski berkaitan dengan persoalan struktural.

“Seperti, relasi kuasa, kebebasan pers, keamanan digital, dan posisi perempuan di ruang publik. Bagi saya, sisterhood bukan tentang membuat perempuan menjadi lebih ‘kuat’ agar bisa menghadapi ancaman sendirian. Justru sebaliknya, bagaimana kita menciptakan lingkungan yang membuat perempuan tidak harus menghadapi ancaman itu sendirian,” tambahnya.

Isu perempuan kemudian dibawa ke ranah kebijakan publik melalui Kelas Warga Magdalene. Sesi yang menghadirkan Annette Ellen dari Aliansi Ibu Indonesia dan Nabiyla Risfa Izzati dari Kabinet Bayangan ini membahas pentingnya kebijakan publik yang berperspektif perempuan.

Jakarta, Indonesia. September 5, 2026. Magdalene Event. Sisterhood Festival 2026. Photo by Toto Santiko/Magdalene.

Salah satu kebijakan yang dibahas adalah cuti orang tua dan kaitannya dengan pembagian tanggung jawab pengasuhan. Nabiyla menilai kebijakan yang tersedia saat ini belum cukup mendorong pembagian peran pengasuhan secara setara.

“Kita ada cuti hamil dan melahirkan. Tapi sampai sekarang kita enggak punya kebijakan cuti ayah. Satu-satunya yang diberikan itu cuti menemani istri melahirkan, dikasihnya dua hari. Itu enggak berpihak pada perempuan karena kebijakan cuti melahirkan tanpa cuti ayah yang memadai, membuat pandangan merawat anak yang baru lahir itu tanggung jawab perempuan aja,” kata Nabiyla.

Pembahasan kemudian bergeser ke pengalaman perempuan dalam kehidupan sehari-hari melalui kegiatan komunitas bersama Hannah Al Rashid dan Nadine Alexandra dari siniar Sini, Sis!. Keduanya membahas imposter syndrome yang kerap dialami perempuan, terutama dalam ranah personal.

Hannah dan Nadine membagikan pengalaman serta cara mereka menghadapi impostor syndrome. “Penting sekali untuk memahami bahwa perempuan di dunia ini masih sering menghadapi diskriminasi dan bias agar secara kolektif kami bisa terus membuat perubahan,” kata Hannah.

Menurut Sini, Sis!sisterhood merupakan gerakan atau pemikiran dari perempuan yang kerap merasa sendiri dalam hidup. Di tengah penindasan struktural, hubungan antarperempuan untuk saling mendukung dan melindungi perlu terus dijaga.

“Perempuan sudah dari dulu melawan penindasan struktural melalui hubungan erat antara perempuan yang saling melindungi, saling mengangkat, saling dukung dan sisterhood hanyalah bentuk terbarunya,” kata Nadine.

Baca juga: Women News Network: Jejaring Media Perempuan untuk Dorong Iklim Kesetaraan

Media dan Ruang Dialog

Selain membahas pengalaman perempuan, Sisterhood Festival juga mempertemukan media dengan audiens dan komunitas. Program Manager International Media Support (IMS), Eva Danayanti, mengatakan pertemuan tersebut dapat membuat hubungan media dan khalayak tidak berhenti pada produksi dan konsumsi konten.

“Tetapi berkembang menjadi ruang dialog, saling belajar, dan membangun kepercayaan,” kata Eva.

Menurut Eva, pertemuan langsung dengan audiens penting bagi media untuk mendengar pengalaman dan kebutuhan mereka. Interaksi tersebut dapat membantu media menghasilkan informasi yang lebih relevan dan representatif, termasuk bagi perempuan yang aktif menggunakan ruang digital untuk berekspresi.

Jakarta, Indonesia. September 5, 2026. Magdalene Event. Sisterhood Festival 2026. Photo by Toto Santiko/Magdalene.

“Ruang digital saat ini telah menjadi bagian penting dari ruang publik, tempat perempuan menyampaikan pendapat, membangun komunitas, mengembangkan usaha, berkarya, serta terlibat dalam berbagai isu sosial,” imbuhnya.

Namun, ruang digital juga membawa potensi risiko bagi perempuan. Pemahaman mengenai hak, kapasitas, rasa aman, dan kesempatan yang setara menjadi bagian penting dalam mendorong kesetaraan gender di ruang tersebut.

“Sisterhood Festival dapat memperkuat hal tersebut dengan mempertemukan perempuan, membangun solidaritas, meningkatkan pengetahuan tentang keamanan digital, serta mendorong terciptanya ekosistem digital yang lebih aman dan inklusif,” terangnya.

Sisterhood Festival 2026 turut didukung sejumlah pihak, antara lain Telkom Indonesia, OCBC, Artotel Wanderlust, dan HokBen.

Catatan untuk Redaktur:

Magdalene adalah platform media feminis independen di Indonesia yang mempromosikan kesetaraan gender, hak asasi manusia, dan wacana publik yang inklusif. Melalui jurnalisme, storytelling dan keterlibatan komunitas, Magdalene menghadirkan liputan berbasis bukti dan bertujuan konstruktif serta menciptakan ruang aman untuk percakapan tentang gender, keberagaman, dan pemberdayaan.

Tentang International Media Support (IMS): International Media Support (IMS) adalah organisasi nirlaba internasional yang bekerja di lebih dari 40 negara di empat benua untuk mendukung media lokal di wilayah yang terdampak konflik bersenjata, ketidakamanan, dan transisi politik. IMS berkomitmen untuk memajukan kebebasan pers, memperkuat jurnalisme profesional yang berkualitas, serta melindungi keselamatan para pekerja media agar masyarakat dapat mengakses informasi yang tepercaya dan independen demi pembangunan yang damai serta demokratis. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui www.mediasupport.org.

About Author

Andrei Wilmar

Andrei Wilmar bermimpi buat jadi wartawan desk metropolitan.