‘Daisy Chain Fields’: Melawan dengan Jelita ala Olivia Rodrigo dan Perempuan Musisi
Pemandangan tidak biasa terjadi di Great Park, Irvine, California, Amerika Serikat (29/8) lalu. Di tengah teriknya matahari, sebuah festival musik bertajuk Daisy Chain Fields dibuka dengan ribuan mahkota bunga daisy yang menghiasi rambut para pengunjung, lengkap dengan padu padan gaun bertema flora hingga aksesori buatan tangan.
Festival musik penuh warna itu digagas Olivia Rodrigo, penyanyi muda berdarah Filipina-Amerika. Dalam sehari perhelatannya, Daisy Chain Fields berhasil menggaet sekitar 45.000 pengunjung dan menghadirkan deretan musisi perempuan dengan spektrum musik yang kaya.
Mulai dari rock alternatif era 90-an milik Garbage dan The Breeders, dentum rap penuh energi dari Doechii, amarah riot-grrrl punk dari Bikini Kill dan Die Spitz, alunan ikon queer pop Chappell Roan, hingga indie-pop melankolis seperti Mitski, Santigold, Rachel Chinouriri, Devon Again, Eli, Quiet Light, serta Rodrigo sendiri.
Di atas panggung Daisy Chain Fields, ketiadaan elemen kompetitif maupun hierarki terasa begitu mencolok. Tidak ada jadwal tampil dua musisi yang berbenturan (overlapping sets), sehingga penonton dapat menyaksikan seluruh pertunjukan tanpa harus mengorbankan salah satu musisi favoritnya.
Bahkan, pada poster resmi festival, setiap nama musisi dicetak dengan jenis huruf (font) dan ukuran yang persis sama. Tidak peduli apakah mereka legenda musik rock dunia yang sudah puluhan tahun berkarya atau musisi pendatang baru yang tengah meniti karier, semua berdiri sejajar di atas panggung yang sama.
Emma Madden, jurnalis musik dalam tulisannya di The Guardian, menyebut selama puluhan tahun industri musik dan media massa kerap menjebak musisi perempuan dalam persaingan tidak sehat. Polanya dilakukan dengan membandingkan pencapaian maupun seberapa besar label yang menaungi mereka.
Laporan tahun 2025 dari organisasi Book More Women misalnya mengungkap persaingan ini berdampak nyata pada ketimpangan gender dalam festival musik. Musisi perempuan hanya mencakup 21,6 persen dari total pemusik utama (headliners) di sembilan festival musik besar dunia.
Dalam konteks ini, Daisy Chain Fields hadir dengan konsep yang berbeda dari pola kompetisi tersebut. Penyanyi indie berusia 25 tahun, Eli, yang merupakan salah satu penampil termuda di festival ini pun menggarisbawahi betapa krusialnya ekosistem yang dibangun Olivia Rodrigo tersebut.
“(Daisy Chain Fields) menempatkan karya seni perempuan agar dapat diterima dan dihargai dalam lingkungan yang tidak terlalu kompetitif dan kapitalistik”, sebutnya.
Baca juga: Mitos Cinta sebagai Penyembuh dalam Album Baru Olivia Rodrigo
Sisterhood
Berbeda dengan festival musik kebanyakan yang berfokus pada keuntungan finansial serta dominasi nama-nama korporasi besar, Daisy Chain Fields sejak awal dirancang Olivia Rodrigo sebagai bagian dari gerakan sosial yang inklusif. Konsep tersebut terlihat dari cara festival ini menyusun panggung, memperlakukan para penampil, hingga mengarahkan keuntungan yang diperoleh.
Dalam wawancara bersama media musik Billboard, Rodrigo menjelaskan konsep festival ini berawal dari imajinasi sederhananya tentang para perempuan yang duduk di bawah rindangnya pohon, merangkai rantai bunga daisy, membuat mahkota bunga, atau menjalin gelang persahabatan.
Visualisasi ini kemudian ia terjemahkan sebagai panggung bersama, tempat setiap perempuan menjadi sahabat sekaligus inspirasi satu sama lain yang melintasi berbagai genre dan generasi. “Daisy Chain Fields diciptakan untuk merayakan kekuatan luar biasa yang lahir ketika kita semua bersatu dan saling mendukung satu sama lain,” ungkap Rodrigo.
Gagasan untuk saling mendukung ini tidak berhenti sebagai konsep di atas panggung, melainkan diterapkan dalam cara festival tersebut dikelola. Festival musik komersial umumnya sangat bergantung pada urusan bisnis dan besaran honorarium para penampil, sedangkan Rodrigo mengajak para musisi berfokus pada dampak sosial yang ingin dicapai.
Hal ini diwujudkan lewat kesepakatan para musisi untuk tidak menerima bayaran profesional sepeser pun. Sebaliknya, seluruh keuntungan bersih festival yang mencapai 20 juta dolar AS atau setara dengan sekitar Rp354 miliar didonasikan secara utuh kepada 10 organisasi non-profit yang berfokus pada pemenuhan hak-hak dasar kesehatan, keadilan sosial, dan kesejahteraan perempuan serta kelompok rentan.
Dua di antaranya adalah Planned Parenthood dan Jhpiego yang berfokus meningkatkan akses layanan kesehatan kritis secara global di lebih dari 35 negara.
Berlandaskan komitmen sosial ini, Rodrigo menyampaikan kelahiran Daisy Chain Fields tidak lepas dari jejak perjuangan para musisi perempuan pendahulunya. Secara khusus, ia terinspirasi oleh Lilith Fair, sebuah festival tur serba perempuan bentukan penyanyi legendaris Sarah McLachlan pada akhir tahun 1990-an.
Saat itu, Lilith Fair mengukir sejarah besar dengan membuktikan kepada publik festival yang seluruh penampilnya perempuan sanggup meraih sukses secara finansial sekaligus membawa perubahan sosial yang nyata.
Sebagaimana dilaporkan oleh majalah Forbes, keterikatan Rodrigo dengan warisan tersebut semakin kuat setelah ia terlibat dalam film dokumenter tahun 2025 berjudul Lilith Fair: Building a Mystery. Dalam dokumenter itu, Rodrigo mengkreditkan Lilith Fair sebagai pengaruh besar yang membentuk visi karier dan kesadaran sosialnya.
Ketika Rodrigo mulai merencanakan festival musiknya sendiri, Sarah McLachlan adalah orang pertama yang ia hubungi untuk dimintai restu, masukan, dan dukungan.
Baca juga: Lagu Patah Hati Olivia Rodrigo: Saatnya Rayakan Kehilangan dengan Elegan
Perlawanan di Tengah Krisis Hak Perempuan
Di berbagai belahan dunia, hak-hak dasar perempuan yang telah diperjuangkan selama berdekade-dekade kini kembali menghadapi ancaman dari para pemimpin dunia yang fasis dan ultra-maskulin. Kondisi tersebut turut terlihat di Amerika Serikat, negara tempat Rodrigo menetap dan berkarya.
Pemerintahan Presiden Donald Trump secara signifikan menarik mundur pencapaian hak-hak kesetaraan gender melalui deretan kebijakan yang dinilai anti-feminis. Kebijakan tersebut melingkupi berbagai sektor, mulai dari pencabutan perlindungan hukum terhadap diskriminasi gender di lingkungan kerja, pembatasan ruang bagi advokasi hak-hak perempuan, hingga pengetatan akses atas otonomi tubuh.
Secara khusus di sektor kesehatan publik, pemerintahannya gencar berupaya mereformasi dan memangkas dana hibah keluarga berencana yang biasa digunakan oleh klinik-klinik kesehatan reproduksi untuk menyediakan kontrasepsi dan perawatan infeksi menular seksual.
Tahun lalu, penangguhan dana hibah senilai US$27,5 juta sempat dibekukan oleh pemerintah bagi lembaga-lembaga kesehatan, termasuk beberapa afiliasi Planned Parenthood, sebelum akhirnya dipulihkan kembali akibat tekanan publik yang masif dan proses hukum.
Baca juga: Olivia Rodrigo and the Expiration Date of Female Likeability
Kebijakan pemangkasan dan ketidakpastian anggaran dari pemerintah federal ini mengancam akses jutaan perempuan terhadap layanan kesehatan dasar seperti pemeriksaan kanker, layanan kontrasepsi terjangkau, dan tes infeksi menular seksual. Situasi tersebut menjadi salah satu konteks sosial yang melatarbelakangi pentingnya dukungan terhadap organisasi yang bergerak dalam pemenuhan hak perempuan.
Pada akhirnya, rantai bunga yang dirangkai di Irvine, California pada akhir Agustus tersebut tidak hanya menyatukan ribuan penonton dan puluhan musisi di atas panggung, tetapi juga menghubungkan festival dengan dukungan terhadap layanan kesehatan, perlindungan hukum, dan keadilan sosial.
Jika Daisy Chain Fields benar-benar menjadi agenda tahunan sebagaimana yang dicita-citakan Rodrigo, festival ini berpotensi terus menjadi ruang bagi musisi perempuan untuk tampil bersama sekaligus mendukung organisasi yang memperjuangkan hak perempuan di tengah kemunduran gerakan kesetaraan gender.





















