‘Queer Love Is Real’: Lima Lagu Bucin untuk Merayakan Cinta Kwir
Mencari cinta sebagai seorang kwir enggak selalu sederhana. Ada fase ketika aku harus menebak apakah orang yang kusukai juga mungkin menyukaiku, mempertanyakan apakah rasa nyaman yang dia tunjukkan hanya sebatas pertemanan, atau menimbang apakah menyatakan perasaan akan berujung pada penolakan sekaligus rasa tidak aman karena orientasi seksualku.
Namun, ketika akhirnya menemukan seseorang yang membuatku merasa dicintai dan diterima sepenuhnya, rasanya seperti menemukan sesuatu yang selama ini kucari. Cinta kwir pun layak dirayakan lewat lagu-lagu bucin yang manis dan penuh harapan, seperti lima lagu dari playlist-ku berikut ini.
Baca juga: Rayakan Bulan Kebanggaan dengan Lagu-lagu ‘Queer Joy’, Ini 5 Rekomendasi Untukmu
This Song – Conan Gray
Conan Gray, musisi yang terbuka sebagai kwir, kerap menangkap berbagai momen percintaan kwir, khususnya pengalaman seorang gay, lewat lagu-lagunya. Salah satunya “Heather”, lagu yang sempat meledak di pasaran dan membuatku menangis karena merasa nasibku mirip dengan karakter di dalamnya, yakni mencintai seseorang yang ternyata memilih orang lain.
Namun, Conan tak melulu menulis lagu sedih. Di album terbarunya bertajuk Wishbone, ia membawakan “This Song” yang hadir dengan nuansa romantis.

Lewat “This Song”, Conan menggambarkan masa-masa naksir gebetan yang relate dengan pengalamanku sebagai kwir. Ada perasaan menggebu-gebu, berharap dia tahu perasaan kita tanpa perlu mengatakannya karena malu, sampai akhirnya berani menyatakan cinta.
“You know that I love you / Is it dumb believing you might love me too?”
Buat kwir, fase ini biasanya terasa dua kali lebih rumit. Bukan cuma takut ditolak, tetapi juga takut salah membaca sinyal, mengetahui orang yang disuka ternyata enggak available secara orientasi, atau menyatakan cinta justru membuat orientasi seksual kita diketahui sebelum siap.
Kalau buat orang hetero menyatakan cinta saja sudah cukup bikin deg-degan, buat kwir ada lapisan ketakutan lain yang ikut menyertai prosesnya. Karena itu, ketika seorang kwir akhirnya menemukan cinta, kebahagiaan tersebut rasanya juga patut dirayakan, seperti yang ditawarkan lagu ini.
Red Wine Supernova – Chappell Roan
Dari album debutnya, The Rise and Fall of Midwest Princess, “Red Wine Supernova” merayakan cinta kwir dengan berani, centil, dan penuh hasrat. Lagu ini menangkap momen ketika ketertarikan kepada seseorang sudah enggak bisa lagi disembunyikan.

Ada rasa penasaran, gairah, dan keberanian untuk mengakui keinginan terhadap seseorang. Pengalaman kwir dalam lagu ini pun enggak ditempatkan semata sebagai cerita tentang penderitaan, tetapi juga sebagai pengalaman mencintai, menginginkan, dan menikmati kegembiraan jatuh cinta.
Buatku, “Red Wine Supernova” terasa seperti pengingat kalau kwir juga berhak dan punya ruang untuk menjadi bucin di tengah dunia yang banyak dibangun dengan narasi heteroseksual.
Baca juga: 5 Film BL dengan Happy Ending: Alternatif Melawan ‘Bury Your Gays Trope’
We Fell in Love in October – girl in red
“We Fell in Love in October” menggambarkan cinta dengan sederhana, tetapi tetap terasa intim dan romantis. Lewat lagu ini, Marie Ulven, yang dikenal dengan nama panggung girl in red, mengabadikan momen jatuh cinta seorang lesbian melalui kebersamaan dengan orang yang disukai dan kebahagiaan karena bisa berada di dekatnya.
Kesederhanaan tersebut justru menjadi bagian dari kebahagiaan yang ditawarkan lagu ini. Mengutip Songfacts, girl in red menulis lagu tersebut saat masih remaja dan menggambarkan cinta pertamanya kepada sesama perempuan.

Easy – Camila Cabello
“Easy” dari Camila Cabello menggambarkan sisi lain dari cinta yang jarang dibicarakan, yaitu ketika kita merasa diterima apa adanya oleh seseorang. Lagu ini bercerita tentang hubungan yang membuat berbagai kekurangan dan rasa tidak percaya diri terasa lebih mudah dihadapi.
Ada rasa nyaman ketika bersama seseorang yang tidak menuntut kita menjadi versi diri yang sempurna. Perasaan tersebut juga punya makna tersendiri dalam pengalaman cinta kwir, terutama ketika sejak awal kita terbiasa merasa berbeda dari norma yang berlaku.
Menemukan seseorang yang membuat kita enggak perlu terus mempertanyakan apakah diri kita “cukup” bisa terasa sangat melegakan. Cinta yang baik semestinya memang seperti itu, bukan membuat kita semakin sibuk menyembunyikan diri, melainkan memberi ruang untuk menjadi diri sendiri.

Baca juga: Dari Olivia Dean sampai Nadhif Basalamah: Rekomendasi Lagu Buat Pejuang LDR dan Para Bucin
So Easy (To Fall In Love) – Olivia Dean
Ada satu lagu yang belakangan ini terasa seperti mantra buatku, “So Easy (To Fall in Love)” dari Olivia Dean. Lagu ini mengingatkanku kalau dicintai seharusnya enggak perlu terasa seperti sesuatu yang harus kuperjuangkan mati-matian.
Ada kalanya aku terlalu sibuk mempertanyakan apakah diriku cukup menarik, cukup baik, atau cukup pantas untuk membuat seseorang memilihku. Padahal, mungkin aku enggak perlu menjadi versi diri yang lebih sempurna untuk bisa dicintai.
Setiap kali mendengarkan lagu ini, aku ingin mengingat satu hal sederhana: diriku sudah cukup untuk dicintai. Aku enggak perlu mengubah siapa diriku, menyembunyikan bagian-bagian tertentu dari diriku, atau terus-menerus mencari validasi dari orang lain untuk membuktikan kalau aku layak mendapatkan cinta.

Sebagai seorang kwir, perasaan tersebut mungkin terasa lebih kompleks. Pengalaman ditolak atau merasa berbeda bisa membuat kita tanpa sadar mempertanyakan apakah kita pantas mendapatkan cinta seperti orang lain.
“So Easy (To Fall in Love)” menjadi pengingat kecil buatku kalau cinta enggak seharusnya menjadi hadiah yang hanya bisa didapat setelah kita memenuhi standar tertentu. Mungkin, sebelum menemukan seseorang yang bisa mencintai kita dengan utuh, kita perlu belajar mengatakan hal yang sama kepada diri sendiri: Aku sudah cukup, dan aku layak dicintai.
“Anyone with a heart would agree / It’s so easy to fall in love with me”





















