07/07/2026
Gender & Sexuality Issues Opini

Sejak Kecil Dianggap Kurang ‘Lelaki’, ini Perjalananku Menerima Tubuh Sendiri 

Sejak kecil, aku dipaksa makan mi instan tiap hari agar tubuh lebih berisi, dianggap terlalu putih, dan dihina karena fisik yang lemah. Namun aku belajar menerima tubuhku tanpa lagi tunduk pada standar maskulinitas.

  • March 26, 2026
  • 5 min read
  • 1212 Views
Sejak Kecil Dianggap Kurang ‘Lelaki’, ini Perjalananku Menerima Tubuh Sendiri 

Sejak kecil, tubuhku tidak pernah benar-benar dianggap cukup sebagai “lelaki kebanyakan”. Di lingkungan tempatku tumbuh, ada ukuran yang jelas tentang seperti apa laki-laki seharusnya. Laki-laki dituntut kuat, tubuhnya berisi, mampu kerja berat, dan tidak menunjukkan emosi secara terbuka, termasuk menangis. 

Masalahnya, aku sama sekali tidak masuk dalam ukuran tersebut. Aku kurus dan tidak terbiasa dengan kerja fisik berat. Penilaian terhadap tubuhku datang berulang kali dan pelan-pelan memengaruhi cara aku melihat diriku sendiri. 

Pada mulanya, tubuhku tidak selalu seperti ini. Saat kecil, tubuhku sempat gempal, tetapi semakin aku bertumbuh, tubuhku justru makin ramping. Orang-orang di sekitarku mengaitkannya dengan kebiasaanku bermain playstation, meski aku sendiri tidak sepenuhnya yakin. Aku lebih merasa perubahan itu berkaitan dengan kondisi keluarga yang berantakan dan terus kupikirkan sejak kecil. 

Di lingkungan masyarakat petani tempatku tumbuh, tubuh laki-laki ideal harus berisi dan berotot. Tubuh semacam itu dianggap mencerminkan kekuatan dan kemampuan bekerja. Dalam ukuran tersebut, tubuh kurus seperti milikku langsung dipandang tidak memiliki kejantanan dan dianggap tidak mampu berbuat apa-apa. 

Baca juga: Menolak Kata “Gender” Akan Melestarikan Ketidakadilan

Tubuh yang Tidak Masuk Ukuran 

Upaya untuk menyesuaikan tubuh dengan standar itu pernah dilakukan di rumah. Saat usiaku sekitar 10 tahun, bapakku memaksaku mengonsumsi mi instan setiap malam sebelum tidur. Satu dus disiapkan dan harus dihabiskan secara rutin selama beberapa bulan karena dipercaya bisa menambah berat badan dengan cepat. 

Hasilnya nihil. Tubuhku tetap kurus dan tidak mendekati bentuk yang diharapkan. Yang berubah hanya kebiasaanku mengonsumsi mi instan. Setelah itu, kebiasaan tersebut dihentikan, dan tubuhku tetap dianggap tidak cukup kuat. 

Selain bentuk tubuh, warna kulit juga menjadi bagian dari penilaian. Aku berkulit putih mengikuti ibuku, berbeda dari laki-laki lain di kampung yang kebanyakan berkulit cokelat karena bekerja di sawah. Di tempatku, kulit putih lebih sering dilekatkan pada perempuan, sehingga perbedaan ini membuatku semakin terlihat tidak sesuai. 

Komentar dari lingkungan muncul dalam bentuk perbandingan. Aku disebut lebih cocok jadi perempuan, bahkan wajahku dibilang seperti perempuan. Pengalaman seperti ini terus berulang dan membuatku mulai meragukan tubuhku sendiri. 

Aku pernah bertanya ke ibuku, emang raiku kayak wadon? Ia menjawab, ya lanang, wong lanang due rai kayak wadon berarti gagah. Jawaban itu tidak sepenuhnya menjawab kegelisahanku. 

Aku juga jarang dilibatkan dalam kerja ladang sejak kecil. Alasannya supaya kulitku tidak menghitam, tetapi aku merasa tubuhku memang dianggap tidak cukup kuat. Dampaknya terasa saat aku dewasa dan tidak terbiasa melakukan kerja fisik berat seperti laki-laki lain di sekitarku. 

Baca juga: Pengalaman Tak Enak Jadi ‘Gym Girl’: Rela Luangkan Waktu hingga Uang, Berujung Diobjektifikasi

Tubuh Lelaki dan Ukuran Kegunaan 

Di kampungku, kemampuan fisik tidak hanya soal kerja, tetapi juga menentukan nilai seorang lelaki. Standar ini dipakai untuk melihat apakah seseorang bisa diandalkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, hal ini berhubungan dengan peluang untuk menikah. 

Istilah ora laku jodoh sering digunakan untuk laki-laki yang tidak mampu kerja berat. Ukurannya sederhana, minimal mampu memanggul gabah dan bekerja di sawah. Jika tidak, laki-laki dianggap tidak punya nilai dalam lingkungan sosialnya. 

Cara pandang ini menempatkan tubuh laki-laki sebagai alat yang dinilai dari kegunaannya. Herbert Sussman dalam Masculine Identities: The History and Meanings of Manliness (2012) menulis, “… that the primary determinate for forms of masculinity lies in being functional or useful to the society.” 

Dalam konteks ini, kejantanan dipahami sebagai sesuatu yang harus ditampilkan atau manliness as performance. Standar tersebut tidak memberi ruang bagi tubuh yang berbeda. Akibatnya, tubuh seperti milikku terus ditempatkan sebagai kurang, tidak utuh. 

Dampaknya tidak selalu terlihat dari luar, tetapi terasa dalam keseharian. Aku jadi ragu dengan kemampuan tubuhku sendiri dan takut mencoba pekerjaan berat. Selain itu, aku juga terbiasa menahan emosi karena takut dinilai lemah. 

Kondisi ini membuat ruang untuk memahami diri menjadi sempit. Aku merasa tidak punya cukup kendali untuk menentukan siapa diriku di luar standar yang sudah ada. 

Aku mulai mencari cara lain untuk memahami diriku. Salah satunya lewat membaca. Novel On Earth We’re Briefly Gorgeous (2019) karya Ocean Vuong, penulis dan penyair Vietnam-Amerika, memberi perspektif berbeda tentang identitas. 

Baca juga: Tubuh yang Berkelok: Pengalaman Perempuan dengan Skoliosis

Dalam wawancara bersama Caspar Eric, Vuong mengatakan, “The identity is already there. It’s embedded into everything.” Kalimat itu memberi cara pandang baru tentang identitas yang tidak sepenuhnya ditentukan oleh tuntutan sosial. 

Dari situ, aku mulai pelan-pelan mengatur ulang cara melihat diriku sendiri. Aku tidak lagi memaksakan diri untuk masuk ke semua standar yang ada. Aku memilih pekerjaan yang tidak bergantung pada kekuatan fisik dan mulai memberi ruang untuk emosiku sendiri. 

Aku juga mencoba membangun relasi dengan orang lain tanpa harus membuktikan diri sebagai lelaki “ideal”. Proses ini tidak membuat semuanya mudah, tetapi memberiku ruang untuk menentukan pilihan sendiri. 

Pada akhirnya, pengalaman ini menunjukkan tubuh tidak hanya menjadi objek penilaian sosial. Tubuh juga menjadi ruang untuk memahami diri secara perlahan. Dari situ, aku tidak lagi bertanya apakah aku boleh menangis atau apakah tidak masalah jika fisikku tak cukup kuat. Sebaliknya, aku mulai berbaik hati pada diriku sendiri dan memberi ruang untuk menerimanya. 

Saefudin Muhammad lahir di Cirebon dan pernah bergiat di Komunitas Tjirebon Book Club. Saat ini menjadi pengajar untuk anak-anak Indonesia Timur serta aktif menulis esai dan puisi di berbagai media online. 

About Author

Saefudin Muhamad