24/08/2026
Lifestyle Relationship

Goblintimacy: Saat Jujur tentang Sisi Anehmu Lebih Menarik di ‘Dating Apps’

Goblintimacy muncul di tengah percakapan tentang budaya kencan yang makin menekankan autentisitas. Namun, menjadi diri sendiri bukan berarti harus membuka semua hal sejak awal.

  • August 24, 2026
  • 6 min read
  • 4 Views
Goblintimacy: Saat Jujur tentang Sisi Anehmu Lebih Menarik di ‘Dating Apps’

Bayangin kamu sedang bersiap untuk kencan pertama. Kamu memilih pakaian terbaik, memikirkan topik obrolan, bahkan mungkin berusaha menunjukkan versi diri yang paling menyenangkan. Semua itu terdengar wajar. Namun, bagaimana jika kamu justru merasa harus mempertahankan citra tersebut sepanjang hubungan?

Dalam percakapan tentang budaya kencan belakangan ini, muncul istilah goblintimacy. Istilah ini menggambarkan pendekatan yang mendorong orang menunjukkan diri yang lebih autentik sejak awal hubungan, termasuk kebiasaan aneh, kekurangan, quirks, atau sisi diri yang biasanya disembunyikan.

The Indian Express dalam artikel ‘Goblintimacy’ dating trend: Why more people are choosing authenticity over perfection menjelaskan goblintimacy sebagai tren kencan yang mendorong seseorang tampil autentik sejak awal, termasuk menunjukkan ketidaksempurnaan, kerentanan, dan beban emosional yang biasanya baru dibagikan ketika hubungan sudah lebih mapan.

Sementara itu, VICE dalam artikel Goblintimacy Invites You to Be Your Weirdest, Most Goblin-Like Self on Dates menggambarkannya sebagai pendekatan kencan yang mendorong seseorang hadir sebagai versi dirinya yang lebih jujur dan tidak terlalu dipoles.

Namun, goblintimacy bukan berarti seseorang harus sengaja tampil berantakan atau mengabaikan perasaan pasangan. Intinya lebih sederhana: tidak perlu membangun hubungan dengan versi diri yang terlalu jauh dari kenyataan.

Baca Juga: ‘Quiet Dating’: Tren Berkencan Tanpa Pamer di Media Sosial

Dari Goblin Mode ke Goblintimacy

Istilah goblintimacy merupakan gabungan dari kata goblin dan intimacy. Konsepnya berkaitan dengan goblin mode, istilah yang lebih dulu populer di media sosial.

Pada 2022, Oxford Languages menetapkan goblin mode sebagai Word of the Year setelah pemungutan suara yang melibatkan lebih dari 340.000 orang. Oxford mendefinisikannya sebagai perilaku yang sangat memanjakan diri, malas, berantakan, atau tidak peduli pada ekspektasi sosial.

Dalam artikel The Guardian, ‘Goblin mode’: new Oxford word of the year speaks to the times, popularitas istilah tersebut dikaitkan dengan kejenuhan terhadap standar estetika dan gaya hidup yang semakin sulit dicapai di media sosial.

Semangat itulah yang kemudian dibawa ke dunia kencan. Jika goblin mode memberi ruang untuk tidak selalu terlihat sempurna dalam kehidupan sehari-hari, goblintimacy menggunakannya untuk mempertanyakan kebiasaan menunjukkan versi diri paling ideal ketika bertemu calon pasangan.

Baca Juga: Tips Kencan Ekonomis Nan Romantis Ala SJW

Mengapa Goblintimacy Menarik bagi Pengguna Dating App?

Budaya kencan modern membuat kesan pertama terasa semakin penting. Profil dating app bisa dikurasi, foto dipilih berulang kali, sementara percakapan dapat dipikirkan sebelum dikirim.

Masalahnya, semakin jauh citra tersebut dari kehidupan sehari-hari, semakin besar pula jarak yang harus dipertahankan ketika hubungan mulai berkembang.

The Indian Express menyebut goblintimacy sebagai respons terhadap budaya kencan yang terlalu menekankan presentasi diri. Tren ini menawarkan gagasan bahwa menunjukkan diri secara lebih autentik sejak awal dapat membantu seseorang mengetahui kecocokan dengan calon pasangan lebih cepat.

Hal serupa disampaikan Psychology Today dalam artikel How ‘Goblintimacy’ Dating Can Get Ugly in Good and Bad Ways. Menurut artikel tersebut, menunjukkan diri apa adanya dapat membantu seseorang lebih cepat mengetahui siapa yang cocok dengannya. Namun, keterbukaan tetap membutuhkan rasa hormat dan tidak seharusnya digunakan untuk memaksa kedekatan terjadi terlalu cepat.

Jadi, goblintimacy bukan soal berhenti berusaha. Ini lebih tentang mengurangi kebutuhan untuk terus-menerus tampil sebagai seseorang yang bukan diri kita.

Risiko Goblintimacy yang Perlu Diwaspadai

Meski terdengar menyegarkan, menjadi autentik bukan berarti semua hal harus dibagikan sejak kencan pertama. Ada perbedaan antara menunjukkan kepribadian asli dan menghilangkan seluruh batas pribadi.

Jangan Samakan Keterbukaan dengan Oversharing

Salah satu risiko goblintimacy adalah anggapan bahwa autentik berarti harus menceritakan semuanya. Padahal, seseorang tetap berhak menentukan informasi apa yang ingin dibagikan dan kapan waktunya.

Psychology Today dalam artikel Goblintimacy and the Risks of Oversharing mengingatkan bahwa kedekatan membutuhkan proses. Mengetahui sisi buruk seseorang melalui beberapa cerita singkat belum tentu berarti kita benar-benar mengenalnya.

Karena itu, menceritakan pengalaman traumatis, persoalan keluarga, atau masalah pribadi yang sangat berat kepada orang yang baru dikenal perlu mempertimbangkan kesiapan kedua pihak.

Kedekatan Tidak Bisa Dipaksa

Keterbukaan yang intens dapat membuat dua orang merasa sangat dekat dalam waktu singkat. Namun, rasa dekat tersebut belum tentu sama dengan kepercayaan yang sudah terbentuk.

Kepercayaan juga tumbuh dari konsistensi, pengalaman bersama, dan cara seseorang bersikap ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan.

Psychology Today menekankan bahwa seseorang tidak otomatis akan membalas keterbukaan dengan tingkat keterbukaan yang sama. Intimasi tetap membutuhkan waktu dan kepercayaan yang dibangun bersama.

Menjadi Diri Sendiri Bukan Berarti Bebas Bersikap Seenaknya

Goblintimacy juga tidak seharusnya menjadi alasan untuk mempertahankan kebiasaan yang merugikan orang lain.

Datang terlambat tanpa meminta maaf, mengabaikan batas pasangan, atau berbicara kasar tidak otomatis menjadi bentuk autentisitas hanya karena seseorang mengatakan, “Aku memang begini.”

Menjadi diri sendiri tetap membutuhkan kesadaran bahwa ada orang lain dalam hubungan tersebut. Autentisitas dan empati seharusnya berjalan beriringan.

Baca juga: Mengenali Diri Lebih Baik lewat ‘Online Dating’

Cara Menjalani Goblintimacy secara Sehat

Kalau ingin menerapkan semangat goblintimacy, kamu tidak perlu sengaja menunjukkan sisi paling berantakan dari diri sendiri. Cukup mulai dengan berhenti menciptakan citra yang terlalu jauh dari kenyataan.

Tunjukkan Diri yang Lebih Autentik

Kamu tidak perlu berpura-pura menyukai sesuatu hanya karena ingin terlihat cocok dengan calon pasangan. Minat, hobi, kebiasaan, atau selera yang berbeda justru bisa menjadi bagian dari proses saling mengenal.

Menunjukkan diri secara autentik juga tidak berarti harus menceritakan seluruh riwayat hidup pada pertemuan pertama. Kamu tetap bisa memilih apa yang ingin dibagikan.

Bangun Keterbukaan secara Bertahap

Ceritakan hal-hal personal ketika sudah merasa cukup aman, lalu lihat bagaimana pasangan meresponsnya.

Cara ini memberi ruang bagi kedua pihak untuk mengetahui batas masing-masing. Kamu juga bisa melihat apakah pasangan menghargai cerita yang dibagikan atau justru menggunakannya untuk menghakimi.

Pertahankan Personal Boundaries

Batas pribadi tetap penting meski kamu ingin menjalani hubungan secara lebih autentik. Kamu berhak memiliki waktu sendiri, menyimpan beberapa hal sebagai privasi, dan mengatakan tidak ketika belum siap membicarakan sesuatu.

Batasan bukan tanda bahwa kamu tidak percaya kepada pasangan. Justru, batas yang jelas membantu hubungan berkembang tanpa membuat salah satu pihak kehilangan ruang untuk dirinya sendiri.

Fokus pada Kecocokan, Bukan Kesempurnaan

Tujuan berkencan bukan menemukan seseorang yang menganggap semua sisi diri kita sempurna. Yang lebih penting adalah mengetahui apakah kamu dan calon pasangan memiliki kecocokan untuk membangun hubungan.

Kecocokan itu mencakup cara berkomunikasi, nilai hidup, cara menghadapi konflik, kebutuhan emosional, hingga batas pribadi. Menunjukkan diri secara lebih jujur sejak awal dapat membantu proses tersebut berjalan dengan lebih realistis.

Goblintimacy mungkin terdengar seperti tren internet yang lucu. Namun, di balik istilahnya yang nyeleneh, ada pertanyaan yang cukup serius tentang cara kita menjalani hubungan: seberapa lama kita mau berpura-pura menjadi versi diri yang paling ideal demi membuat orang lain tertarik?

Menunjukkan diri apa adanya bisa menjadi awal yang baik, selama kejujuran tidak digunakan sebagai alasan untuk mengabaikan batas, empati, atau rasa hormat. Hubungan yang autentik tetap membutuhkan proses untuk saling mengenal, bukan tuntutan untuk membuka semuanya sejak awal.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

About Author

Kevin Seftian

Kevin merupakan SEO Specialist di Magdalene, yang sekarang bercita-cita ingin menjadi dog walker.