24/08/2026
Lifestyle

Ketika Obrolan Selalu tentang Dirinya: Apa Itu Conversational Narcissism?

Pernah merasa setiap kali bercerita, lawan bicara justru mengubahnya menjadi cerita tentang dirinya? Bisa jadi kamu sedang berhadapan dengan pola komunikasi yang disebut conversational narcissism.

  • August 24, 2026
  • 6 min read
  • 8 Views
Ketika Obrolan Selalu tentang Dirinya: Apa Itu Conversational Narcissism?

Pernahkah kamu bercerita tentang sesuatu yang sedang kamu alami, tetapi lawan bicara justru segera mengaitkannya dengan pengalaman dirinya? Alih-alih bertanya lebih jauh, ia mungkin langsung mengatakan, “Gue juga pernah mengalami itu,” lalu percakapan berubah menjadi cerita tentang dirinya.

Sekilas, respons semacam ini terlihat seperti usaha membangun koneksi. Berbagi pengalaman pribadi memang merupakan bagian dari percakapan yang sehat. Namun, jika hampir setiap pembicaraan selalu berakhir dengan cerita, pendapat, atau pengalaman dari satu orang, komunikasi dapat berubah menjadi tidak seimbang.

Pola tersebut dikenal sebagai conversational narcissism. Charlie Health dalam artikel Everything You Should Know About Conversational Narcissism menjelaskan istilah ini sebagai gaya komunikasi ketika seseorang terlalu berfokus pada dirinya sendiri sehingga lawan bicara dapat merasa tidak didengar atau dihargai. Perilaku tersebut juga tidak otomatis berarti seseorang mengalami narcissistic personality disorder (NPD).

Verywell Mind, How to Deal When You’re Talking to a Conversational Narcissist, juga mencatat bahwa orang dengan pola komunikasi ini cenderung lebih banyak membicarakan dirinya, jarang bertanya tentang lawan bicara, serta sering mengembalikan pembicaraan kepada dirinya.

Karena itu, conversational narcissism sebaiknya tidak digunakan untuk memberi label pada kepribadian seseorang. Yang perlu diperhatikan adalah pola komunikasi yang berulang dan dampaknya terhadap orang lain.

Baca Juga: Kisah Berakhirnya Hubungan Saya dengan Sahabat yang Bercadar

Ciri-ciri Conversational Narcissism

Tidak semua orang yang sering membicarakan dirinya sendiri dapat disebut conversational narcissist. Berbagi pengalaman pribadi merupakan hal yang wajar, terutama ketika dilakukan untuk menunjukkan empati atau menemukan kesamaan cerita.

Masalah muncul ketika percakapan hampir selalu berpusat pada satu orang. Beberapa pola berikut dapat menjadi tanda komunikasi yang tidak seimbang.

Selalu Mengembalikan Topik kepada Diri Sendiri

Salah satu pola yang mudah dikenali adalah kecenderungan menghubungkan hampir setiap topik dengan pengalaman pribadi. Ketika seseorang bercerita tentang masalah pekerjaan, misalnya, respons yang diberikan langsung berubah menjadi cerita tentang pengalaman kerja dirinya.

Mengaitkan pengalaman pribadi sebenarnya tidak selalu bermasalah. Namun, jika cerita tersebut membuat pengalaman orang lain tidak lagi mendapat ruang, percakapan menjadi tidak seimbang.

Jarang Bertanya tentang Lawan Bicara

Percakapan dua arah membutuhkan rasa ingin tahu. Setelah seseorang bercerita, pertanyaan sederhana seperti “Kamu merasa bagaimana?” menunjukkan bahwa kita memperhatikan ceritanya.

Sebaliknya, conversational narcissism dapat terlihat ketika seseorang lebih sibuk menunggu kesempatan untuk berbicara daripada memahami apa yang disampaikan lawan bicara.

Mendominasi atau Sering Menyela

Dominasi dapat muncul melalui kebiasaan berbicara terlalu lama, memotong pembicaraan, atau mengambil alih topik sebelum orang lain selesai berbicara. Sesekali menyela tentu dapat terjadi dalam percakapan normal. Yang perlu diperhatikan adalah ketika pola tersebut terus berulang dan membuat hanya satu pihak memiliki ruang untuk berbicara.

Mengubah Cerita Menjadi Kompetisi

Pola lainnya adalah one-upping, ketika pengalaman seseorang selalu dibalas dengan pengalaman yang dianggap lebih besar, lebih sulit, atau lebih menarik.

Jika terjadi terus-menerus, percakapan tidak lagi menjadi ruang untuk saling memahami. Interaksi berubah menjadi kompetisi tentang siapa yang memiliki pengalaman paling menarik atau paling berat.

Baca Juga: Kamu Perempuan Lajang di Antara Teman-teman yang Sudah Menikah? Silakan Baca Ini

Mengapa Seseorang Bisa Menjadi Conversational Narcissist?

Seseorang yang sering mengembalikan pembicaraan kepada dirinya sendiri belum tentu sengaja mengabaikan lawan bicara. Dalam beberapa kasus, perilaku tersebut dapat berkaitan dengan rasa tidak aman, keterampilan sosial yang belum berkembang, atau ketidaksadaran terhadap pola komunikasinya sendiri.

Verywell Mind menjelaskan bahwa rasa tidak aman, rendahnya kepercayaan diri, kebutuhan akan validasi, kecemasan sosial, dan keterampilan sosial yang kurang berkembang dapat berkaitan dengan kecenderungan tersebut.

Kebutuhan Mendapatkan Validasi

Percakapan dapat menjadi cara seseorang mendapatkan pengakuan dari orang lain. Ketika merasa kurang percaya diri, seseorang mungkin lebih sering membicarakan pencapaian, pengalaman, atau pendapatnya untuk mendapatkan respons positif.

Namun, kebutuhan untuk mendapatkan validasi tidak selalu terlihat sebagai perilaku yang terang-terangan mencari pujian. Bisa juga muncul dalam bentuk kebiasaan terus mengaitkan pembicaraan dengan pengalaman pribadi.

Jika berlangsung berulang, perhatian yang seharusnya terbagi antara dua orang dapat semakin terpusat pada satu pihak.

Kurangnya Keterampilan Mendengarkan

Percakapan yang seimbang membutuhkan kemampuan untuk mendengarkan, bukan sekadar menunggu giliran berbicara. Seseorang mungkin merasa sudah terlibat karena memberikan respons, padahal respons tersebut selalu mengembalikan fokus kepada dirinya.

Penelitian Anita L. Vangelisti, Mark L. Knapp, dan John A. Daly berjudul Conversational narcissism, yang diterbitkan dalam Communication Monographs pada 1990, membahas conversational narcissism sebagai bentuk fokus berlebihan pada diri sendiri dalam percakapan. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa sejumlah perilaku seperti membual, mengalihkan topik kembali kepada diri sendiri, dan menunjukkan ketidaktertarikan ketika orang lain berbicara dapat dipersepsikan secara negatif.

Tidak Selalu Disadari

Seseorang yang menunjukkan pola conversational narcissism belum tentu menyadari perilakunya. Verywell Mind mencatat bahwa sebagian orang mungkin tidak mengetahui bahwa mereka mendominasi percakapan atau belum memiliki keterampilan untuk mengubah kebiasaan tersebut.

Karena itu, penting untuk tidak terburu-buru menganggap orang yang sering membicarakan dirinya sebagai orang egois atau memiliki gangguan kepribadian. Konteks dan pola perilaku tetap perlu diperhatikan.

Baca Juga: “Sepertinya Saya Bipolar”: Bahaya Diagnosis Mandiri Gangguan Mental

Cara Menghadapi Conversational Narcissist

Berbicara dengan seseorang yang terus mengembalikan percakapan kepada dirinya sendiri bisa melelahkan. Kamu mungkin merasa tidak punya kesempatan menyelesaikan cerita atau akhirnya memilih diam karena percakapan selalu berubah menjadi pengalaman orang lain.

Namun, menghadapi pola komunikasi seperti ini tidak selalu berarti harus langsung menjauh. Verywell Mind, How to Deal When You’re Talking to a Conversational Narcissist menyarankan pendekatan seperti menetapkan batasan, mengarahkan kembali percakapan, dan menyampaikan kebutuhan secara langsung.

Tetapkan Batasan dalam Percakapan

Jika seseorang terus menyela atau mengambil alih pembicaraan, kamu dapat mengatakan, “Tunggu sebentar, aku belum selesai.” Kalimat sederhana ini dapat membantu mengembalikan ruang bicara tanpa langsung menciptakan konflik.

Batasan juga penting ketika pola tersebut terus berulang. Kamu tidak harus terus berada dalam percakapan yang membuatmu merasa tidak didengarkan.

Arahkan Kembali Topik Pembicaraan

Ketika lawan bicara mulai mengubah ceritamu menjadi cerita tentang dirinya, kamu dapat mengembalikan percakapan ke topik awal.

Misalnya:

“Aku paham kamu pernah mengalami hal serupa, tapi aku ingin menyelesaikan ceritaku dulu.”

Cara ini membantu menjaga arah percakapan tanpa harus menyerang karakter lawan bicara.

Gunakan Komunikasi Asertif

Alih-alih mengatakan, “Kamu selalu egois,” lebih baik menjelaskan dampak perilakunya terhadapmu.

Misalnya:

“Aku merasa belum selesai menyampaikan ceritaku ketika pembicaraan langsung berpindah ke pengalamanmu.”

Komunikasi seperti ini berfokus pada pengalaman pribadi, bukan memberi label terhadap kepribadian seseorang.

Kenali Kapan Harus Menjaga Jarak

Jika seseorang terus mengabaikan batasan meski sudah disampaikan, kamu berhak mengevaluasi seberapa jauh ingin terlibat dalam interaksi tersebut. Tidak semua hubungan harus dipertahankan dengan intensitas yang sama.

Kalau setelah beberapa kali mencoba pola percakapan tetap sama, mungkin yang perlu dipikirkan bukan lagi bagaimana membuat obrolan berjalan sempurna, melainkan seberapa jauh kamu ingin terus terlibat di dalamnya.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

About Author

Kevin Seftian

Kevin merupakan SEO Specialist di Magdalene, yang sekarang bercita-cita ingin menjadi dog walker.