24/08/2026
Issues

Bendera Dayak Borneo Dikibarkan, Apa Maknanya?

Pengibaran bendera Dayak Borneo di sejumlah wilayah Kalimantan menjelang HUT ke-81 RI memunculkan pertanyaan soal konteks dan maknanya.

  • August 24, 2026
  • 5 min read
  • 10 Views
Bendera Dayak Borneo Dikibarkan, Apa Maknanya?

Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, bendera Dayak atau Borneo dikibarkan di sejumlah wilayah Kalimantan. Penggunaan bendera berwarna merah, kuning, dan biru tersebut sempat memunculkan kekhawatiran mengenai kemungkinan adanya gerakan untuk memisahkan diri dari Indonesia.

Namun, sejumlah pihak yang dikutip dalam pemberitaan membantah anggapan tersebut. Tokoh pemerhati Dayak sekaligus anggota Komisi III DPRD Nunukan, Gat Khaleb A, mengatakan pengibaran bendera Dayak berkaitan dengan identitas dan persatuan masyarakat Dayak.

Dalam artikel Detik Kalimantan berjudul Isu Pengibaran Bendera Dayak saat HUT RI, Tokoh Nunukan: Semua Merah Putih!, Gat menegaskan bahwa masyarakat Dayak tetap mengakui Merah Putih sebagai bendera Indonesia.

“100% Dayak, 100% Indonesia. Semua Merah Putih. Final,” ujar Gat kepada Detik pada 15 Agustus 2026.

Gat mengatakan bendera Dayak atau Borneo digunakan sebagai simbol persaudaraan dan persatuan sesama Dayak. Ia juga menyebut tidak ada keinginan untuk membangun negara sendiri atau meninggalkan Indonesia.

Baca Juga: Mengenang Laskar Perempuan Pejuang Kemerdekaan

Bendera Dayak Borneo Dikibarkan di Krayan

Pengibaran bendera Dayak Borneo juga dilakukan warga di Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Berbeda dengan konteks pernyataan Gat mengenai identitas Dayak, aksi di Krayan disertai penyampaian aspirasi mengenai kondisi infrastruktur di wilayah perbatasan RI-Malaysia.

Dalam artikel Kompas berjudul Kibarkan Bendera Dayak Borneo di Jalan Rusak, Warga Krayan: Jangan Abaikan, bendera Dayak Borneo dikibarkan di area jalan rusak antara Krayan Induk dan Krayan Selatan pada Senin (17/8/2026).

Bendera berwarna merah, kuning, dan biru tersebut dikibarkan di bawah Merah Putih. Inisiator aksi, Martinus, mengatakan pengibaran dilakukan untuk menyampaikan kondisi masyarakat Krayan kepada pemerintah.

Menurut Martinus, persoalan jalan menjadi salah satu masalah utama yang memengaruhi kehidupan masyarakat di wilayah tersebut. Kondisi jalan membuat warga kesulitan mengeluarkan hasil kebun, sementara kebutuhan sehari-hari dan biaya transportasi menjadi lebih mahal.

Akses menuju fasilitas kesehatan juga menjadi persoalan. Martinus mengatakan warga masih harus bergotong royong menandu masyarakat yang sakit menuju fasilitas kesehatan yang berjarak belasan kilometer dari permukiman.

Pengibaran bendera Dayak Borneo dilakukan di bawah Merah Putih. Martinus mengatakan posisi tersebut menjadi penegasan bahwa aksi yang dilakukan warga bukan bentuk pembangkangan terhadap Indonesia.

“Meski begitu, hari ini kami tetap kibarkan Bendera Dayak Borneo di bawah Merah Putih. Itu menjadi penegasan bahwa apa yang kami lakukan bukan sebuah pembangkangan,” ujar Martinus kepada Kompas.

Martinus mengatakan masyarakat Krayan berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap pembangunan wilayah tersebut. Ia juga meminta pemerintah pusat melihat kondisi Krayan sebagai persoalan yang perlu menjadi prioritas.

“Kita kibarkan Bendera Dayak Borneo sebagai kritik. Itu konstitusional, dan kami meminta Pemerintah Pusat melihat ini sebagai prioritas, jangan abaikan beranda negeri,” kata Martinus.

Baca Juga: 75 Tahun Indonesia Merdeka, Masyarakat Adat Masih Berjuang untuk Kesetaraan

Pengibaran Bendera sebagai Kritik

Menurut Martinus, warga sudah cukup lama menyampaikan persoalan mengenai kondisi jalan di Krayan. Ia menyebut berbagai foto, video, dan pemberitaan mengenai kondisi wilayah tersebut telah beredar, tetapi persoalan akses jalan masih dihadapi masyarakat.

Ia juga mengatakan sejumlah investor lokal maupun luar negeri pernah datang ke Krayan dengan tawaran pembangunan jalan yang disertai izin untuk mengambil hasil hutan. Namun, Martinus mengatakan masyarakat masih berharap pembangunan dilakukan oleh pemerintah.

Jalan yang dikeluhkan warga mencakup ruas mulai dari Long Bawan, Krayan Timur, dan Krayan Tengah menuju Kabupaten Malinau. Dalam pemberitaan Kompas, ruas tersebut disebut sebagai jalan nasional, sementara sebagian lainnya merupakan kewenangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara.

Karena itu, pengibaran bendera Dayak Borneo dalam aksi tersebut ditempatkan dalam konteks penyampaian kritik terhadap kondisi pembangunan di Krayan. Martinus juga mengatakan masyarakat meminta pemerintah tidak mengabaikan wilayah perbatasan yang selama ini dijaga oleh warga.

Baca Juga: #MerdekainThisEconomy: Agustus dan Tubuh Perempuan yang Merdeka Sehari 

Pangdam: Bukan Tanda Ingin Lepas dari NKRI

Pangdam VI/Mulawarman Mayjen TNI Krido Pramono juga memberikan penjelasan mengenai pengibaran bendera Borneo di Kalimantan.

Dalam artikel Media Indonesia berjudul Pangdam Mulawarman Nyatakan Pengibaran Bendera Borneo Bukan Tanda Ingin Lepas dari NKRI, Krido mengatakan aparat telah melakukan pendalaman mengenai pengibaran bendera tersebut.

Hasil pendalaman, menurut Krido, tidak menemukan indikasi bahwa pengibaran bendera Borneo bertujuan mendirikan negara sendiri atau memisahkan diri dari Indonesia.

Krido mengatakan bendera Borneo digunakan sebagai simbol identitas masyarakat sekaligus sarana menyampaikan aspirasi mengenai pembangunan. Aspirasi tersebut antara lain berkaitan dengan kebutuhan pembangunan infrastruktur seperti jalan dan jembatan.

Pernyataan Krido sejalan dengan konteks aksi warga di Krayan yang menggunakan pengibaran bendera sebagai sarana menyampaikan kritik mengenai kondisi jalan. Dalam aksi tersebut, bendera Dayak Borneo tetap dikibarkan di bawah Merah Putih.

Baca Juga: #MerdekaInThisEconomy: 80 Tahun Merdeka, Ancaman Otoritarianisme Makin Nyata

Identitas Dayak dan Posisi sebagai Warga Indonesia

Pernyataan Gat Khaleb menempatkan identitas Dayak dalam konteks kebangsaan Indonesia. Ia menegaskan masyarakat Dayak tetap bagian dari Indonesia dan Merah Putih tetap menjadi bendera Indonesia.

Di Krayan, konteksnya lebih spesifik. Martinus mengatakan pengibaran bendera Dayak Borneo merupakan cara warga menyampaikan kritik mengenai kondisi pembangunan, terutama persoalan jalan yang berdampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat.

Pangdam VI/Mulawarman Mayjen TNI Krido Pramono kemudian menyatakan aparat tidak menemukan indikasi bahwa pengibaran tersebut bertujuan mendirikan negara sendiri atau memisahkan diri dari Indonesia.

Di Nunukan, bendera Dayak digunakan untuk menegaskan identitas masyarakat Dayak. Sementara di Krayan, bendera yang sama dikibarkan sebagai bagian dari kritik warga terhadap kondisi jalan dan pembangunan. Aparat pun menyatakan tidak menemukan indikasi bahwa pengibaran tersebut bertujuan memisahkan diri dari Indonesia.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

About Author

Kevin Seftian

Kevin merupakan SEO Specialist di Magdalene, yang sekarang bercita-cita ingin menjadi dog walker.