Bukan Cuma Kwir, Heteroseksual juga Perlu Belajar SOGIESC
Beberapa waktu lalu, sebuah konten melewati linimasa TikTok saya. Konten tersebut menampilkan dua orang perempuan meneriaki seseorang laki-laki berpenampilan feminin dan menyebutnya “boti”. Dalam video, laki-laki tersebut tampak risih dan lantas langsung berlari menjauh dari kedua perempuan tersebut.
Boti sendiri merupakan istilah yang mulanya populer di media sosial, asal mulanya dari kata “bottom” atau pria gay yang memosisikan diri sebagai pihak yang submisif dalam hubungan seksual gay.
Dari konten itu, dapat terlihat bagaimana dua perempuan tersebut memahami ekspresi gender sama dengan orientasi seksual. Konten tersebut hanyalah salah satu contoh yang saya temui. Di dunia nyata, tak jarang saya melihat beberapa kenalan heteroseksual—selanjutkan akan disebut hetero saja—yang saya kenal juga menebak orientasi seksual seseorang dari ekspresi gendernya.
Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman terkait SOGIESC (orientasi seksual/sexual orientation, identitas gender/gender identity, ekspresi gender/gender expression, dan karakteristik seks/sex characteristics) masih tabu di kalangan umum.
Baca juga: Thai LGBTI and Rights Groups hail Marriage Equality Bill as Triumphant Moment
Matriks Heteroseksual yang Masih Mengakar
Fenomena di atas menunjukkan bagaimana kerangka heteronormatif masih mengakar di masyarakat. Heteronormativitas membuat cara pandang terhadap gender dan seksualitas menjadi hitam dan putih, atau memandang gender hanya dari sudut pandang biner. Butler mendefinisikan praktik ini sebagai “matriks heteroseksual”.
Kata Herquidison dan DePalma, dalam “Matriks heteroseksual” merupakan istilah yang diciptakan oleh Butler pada tahun 1990 dalam bukunya Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity.
Istilah ini merujuk pada tindakan dan praktik dalam budaya tertentu yang menjunjung tinggi biner gender dan hegemoni heteroseksual. Istilah ini didasarkan pada tiga asumsi: Pertama, hanya ada dua jenis kelamin (laki-laki dan perempuan), yang diatur secara hierarkis menurut sistem patriarki. Kedua, jenis kelamin tersebut menentukan gender seseorang (maskulin dan feminin). Ketiga, jenis kelamin menentukan hasrat (heteroseksual).
Asumsi-asumsi inilah yang menentukan bagaimana gender dan ekspresi gender yang “seharusnya”. Akibatnya, siapa pun yang tidak mengikuti arus ini (laki-laki feminin, perempuan maskulin, dan identitas lain di luar heteroseksual), langsung dianggap menyimpang.
Matriks heteroseksual tidak menyediakan ruang bagi kenyataan bahwa gender dan seksualitas jauh lebih cair dari asumsi matriks tersebut. Dengan kata lain, matriks heteroseksual mengunci jenis kelamin, gender, ekspresi gender, dalam satu definisi.
Untuk membongkar cara pandang ini, perlu dipahami bahwa gender, seksualitas, ekspresi, hingga karakteristik seks merupakan dimensi yang terpisah. Kerangka inilah yang ditawarkan oleh SOGIESC.
Baca juga: Pekan Kesadaran Biseksual: Mematahkan 5 Mitos tentang Biseksual
Apa Itu SOGIESC?
Kerangka SOGIESC mengajarkan bahwa orientasi seksual, identitas gender, ekspresi gender, dan karakteristik seks adalah empat dimensi yang berbeda. Seseorang bisa berekspresi feminin tanpa menentukan orientasi maupun perannya dalam relasi.
Mengutip Prinsip Yogyakarta (Yogyakarta Principles), orientasi seksual merupakan kapasitas individu untuk merasakan ketertarikan emosional, kasih sayang, dan seksual dengan individu dari jenis gender yang berbeda, gender yang sama, maupun lebih dari satu gender.
Sementara itu, menukil Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK), orientasi seksual terdiri (dan tidak terbatas) dari heteroseksual (ketertarikan pada lawan gender), homoseksual (ketertarikan pada gender sejenis), biseksual (ketertarikan pada dua gender atau lebih), panseksual (ketertarikan pada semua gender), aseksual (ketidaktertarikan atas hasrat seksual), serta turunan-turunan lainnya dalam payung kwir.
Identitas gender merujuk pada cara seseorang mengidentifikasi gendernya sendiri secara sosial, dan tidak harus sesuai dengan seks atau jenis kelamin saat ia lahir. Masih mengutip LBH APIK, setiap individu memiliki hak untuk menentukan identitas gendernya sendiri tanpa harus terikat pada kategori biner maupun karakteristik biologis seperti organ reproduksi, hormon, atau kromosom. Identitas ini terbentuk dari pengalaman personal yang unik pada masing-masing individu.
Pengalaman tersebut kemudian membedakan identitas seperti cisgender, yaitu ketika identitas gender seseorang sesuai dengan gender yang dilekatkan sejak lahir; transgender, ketika identitas gendernya tidak selaras dengan gender yang ditetapkan saat lahir; serta non-biner dan kwir, yang tidak membatasi diri pada identitas gender biner laki-laki atau perempuan.
Sementara itu, ekspresi gender adalah cara seseorang menampilkan atau mengekspresikan gendernya kepada orang lain sesuai dengan kenyamanan dirinya. Dapat melalui penampilan fisik, sosial, maupun kultural tergantung individu.
Karakteristik seks merujuk pada karakteristik biologis atau deskripsi fisik organ reproduksi dan seksual yang dimiliki oleh individu. Setiap individu memiliki kombinasi karakteristik yang beragam dan unik.
Karakteristik seksual paling dasar umumnya mencakup organ reproduksi seperti penis dan vagina. Namun, karakteristik seksual juga meliputi aspek lain, seperti hormon–misalnya estrogen dan testosteron, kromosom, hingga ciri biologis atau pun karakteristik seksual sekunder lainnya (ciri fisik).
Biologi sendiri tidak bersifat mutlak atau pun tetap. Karakteristik biologis dapat berubah dan beragam, termasuk melalui proses seperti HRT (Hormone Replacement Therapy), operasi afirmasi gender, maupun kondisi biologis tertentu seperti interseks. Karena itu, gender seseorang tidak bisa ditentukan semata-mata berdasarkan organ reproduksi atau kromosom yang dimilikinya.
Hal yang penting dipahami adalah bahwa karakteristik seksual bukan penentu identitas gender seseorang.
Baca juga: Magdalene Primer: Memahami Gender dan Seksualitas
Memahami SOGIESC adalah Tugas Bersama
Memahami SOGIESC berarti menyadari bahwa kita tidak bisa menyimpulkan identitas seseorang hanya dari apa yang tampak di permukaan. Laki-laki feminin tidak otomatis gay, perempuan maskulin tidak otomatis lesbian, dan seseorang yang terlahir dengan karakteristik seks tertentu belum tentu mengidentifikasi dirinya dengan gender yang dilekatkan sejak lahir. Orientasi seksual, identitas gender, ekspresi gender, dan karakteristik seks adalah dimensi yang saling berkaitan, tetapi tidak saling menentukan.
Memahami SOGIESC bukan semata urusan komunitas kwir. Kelompok heteroseksual pun perlu mempelajarinya karena kerangka heteronormatif nyatanya mendiskriminasi orang-orang di luar identitas heteroseksual. Ketika ekspresi gender dianggap sebagai penentu orientasi seksual, atau ketika maskulinitas dan femininitas dipaksa mengikuti standar tertentu, yang lahir adalah prasangka, pelabelan, dan pengucilan.
Belajar SOGIESC membantu kita menyadari bahwa manusia tidak bisa dipahami melalui kotak-kotak sederhana seperti laki-laki-perempuan, maskulin-feminin, atau hetero-homo. Setiap orang memiliki pengalaman gender, seksualitas, dan tubuh yang beragam.
Dengan memahami keragaman tersebut, kita dapat menciptakan ruang yang lebih aman bagi kelompok kwir, serta membangun masyarakat yang lebih adil dan memungkinkan setiap orang menjadi dirinya sendiri tanpa dibatasi ekspektasi heteronormatif.
Ilustrasi oleh Karina Tungari





















