20/07/2026
Issues Opini Politics & Society

‘Nyawit Nih Orang’ hingga ‘Pria Solo itu Lagi’: Kala Bahasa Jadi Cara Aman Sindir Negara

Celetukan “nyawit nih orang” dan “pria Solo itu lagi” makin sering muncul di media sosial. Di balik kesan jenaka, ini jadi cara WNI menyindir kekuasaan tanpa mempertaruhkan keamanan.

  • March 26, 2026
  • 5 min read
  • 4104 Views
‘Nyawit Nih Orang’ hingga ‘Pria Solo itu Lagi’: Kala Bahasa Jadi Cara Aman Sindir Negara

Belakangan ini, linimasa media sosial saya terasa seperti punya “bahasa” sendiri. Di hampir setiap video yang menampilkan kejanggalan, pernyataan pejabat yang terasa ganjil, atau kebijakan yang absud, kolom komentar dipenuhi dua frasa yang sama. “Nyawit nih orang” dan “pria Solo itu lagi” muncul berulang. Seolah semua orang punya konsensus bersama dan YTTA alias yang tahu-tahu aja.

Sekilas, dua frasa ini terdengar seperti candaan biasa. Namun semakin sering saya menemukannya, semakin terasa ada sesuatu yang bekerja di baliknya. Ini bukan sekadar lelucon, melainkan cara publik, terutama anak muda, merespons kekuasaan dengan bahasa yang tidak langsung.

Menariknya, frasa seperti “nyawit nih orang” juga bisa dibaca sebagai bagian dari tradisi bahasa gaul atau slang. Dalam unggahan di Facebook Historia, ada yang mengartikannya sebagai “mencari duit”, tetapi di luar makna itu, kata “nyawit” mengingatkan pada bahasa prokem atau slang yang sudah lama hidup dalam keseharian, seperti wakuncartijelge-erkece, hingga memble.

Dalam Diksi dan Gaya Bahasa, Gorys Keraf menjelaskan slang sebagai kata-kata kiasan yang khas dan jenaka yang sering dipakai dalam percakapan, demikian mengutip Historia. Namun, slang tidak selalu sekadar permainan kata yang lucu. Dalam sejarahnya, pada masa revolusi, pejuang di Malang menggunakan bahasa terbalik atau Boso Walikan sebagai kode agar tidak diketahui pihak Belanda. Bahasa ini juga berfungsi sebagai penanda, siapa kawan dan siapa lawan.

Dari sini, penggunaan frasa seperti “nyawit nih orang” terasa tidak berdiri sendiri. Ia punya jejak dalam praktik bahasa yang lebih panjang, di mana kata-kata tidak hanya menyampaikan makna, tetapi juga menyembunyikan maksud. Dalam konteks hari ini, ia seperti mengulang fungsi lama itu dalam bentuk yang lebih ringan, tapi tetap politis.

Nyawit nih orang” merujuk pada gagasan Presiden Prabowo Subianto tentang perluasan sawit di berbagai wilayah, termasuk Papua. Sementara “pria Solo itu lagi” menjadi rujukan longgar pada sosok mantan Presiden Joko Widodo. Dua konteks ini berbeda, tetapi di ruang digital, keduanya dipakai sebagai kode bersama untuk menandai sesuatu yang dianggap janggal atau tidak beres.

Saya mencoba menelusuri lebih jauh. Dalam sejumlah video tentang program Makan Bergizi Gratis, kasus penyiraman air keras terhadap aktivis, hingga penanganan tersangka korupsi yang menjadi tahanan rumah, dua frasa itu terus muncul. Pola ini terasa konsisten dan tidak kebetulan.

Mayoritas yang menggunakannya datang dari kalangan muda. Di ruang digital yang serba cepat, frasa ini menyebar seperti bahasa sehari-hari. Dari sini, saya melihat ini bukan lagi tren komentar, melainkan gejala bahasa yang sedang tumbuh. Sama seperti celetukan warga saat mengkritik Menteri Bahlil yang sering asal bunyi (asbun) dengan menyebut temannya, “Jadi orang jangan Bahlil-bahlil amat lah.”

Baca juga: Cara Berbeda Lawan Sawit, Cerita Mama-mama dari Namblong Papua

Bahasa sebagai Cara Aman untuk Mengkritik

Dosen Antropologi Universitas Indonesia, Geger Riyanto, melihat fenomena ini sebagai bentuk celetukan kreatif. Ia menyebut frasa seperti “nyawit nih orang” atau “pria Solo itu lagi” sebagai cara publik menggambarkan kekonyolan kekuasaan ketika kritik langsung terasa terbatas. Dalam situasi seperti ini, bahasa menjadi jalur alternatif.

Menurutnya, ketika ruang kritik menyempit, publik tidak serta-merta diam. Mereka menggeser cara berbicara, dari yang frontal menjadi simbolik. Media sosial lalu menjadi ruang yang memungkinkan sindiran itu beredar luas tanpa harus diucapkan secara terang-terangan.

Dalam kondisi ini, fungsi bahasa berubah. Ia bukan sekadar alat jembatan komunikasi, tetapi juga menjadi alat bertahan. Bahkan, imbuh Geger, “Ini bisa menjadi cara paling kecil, namun penting, untuk menjaga kewarasan masyarakat di tengah kritik langsung dibungkam.”

Saya sendiri sering mendapati diri sendiri tertawa saat membaca kolom komentar sesama WNI. Bukan karena benar-benar lucu, melainkan karena ada keganjilan yang sama-sama dipahami. Tawa itu terasa seperti kompromi antara lelah, muak, dan keinginan untuk tetap merespons.

Geger juga menilai gaya bahasa ini bersifat sarkastik sekaligus politis. Ia membangun rasa kebersamaan melalui kode yang hanya dipahami oleh mereka yang punya kegelisahan serupa. Namun di saat yang sama, bahasa tetap memiliki batas dan tidak otomatis mengubah keadaan.

Baca juga: Prabowo Cabut 28 Perusahaan Perusak Lingkungan, Sawit Watch: “Buka Rekam Jejak Konfliknya”

Antara Kritik dan Sekadar Tren

Meski tidak mengubah keadaan secara langsung, bahasa tetap punya peran penting. Riyanto menyebut perubahan sosial sering diawali oleh krisis bahasa. Ketika bahasa resmi terasa tidak lagi mewakili, publik akan menciptakan istilah baru sebagai respons.

Pandangan ini sejalan dengan tulisan dalam jurnal Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), 2017, berjudul “Bahasa sebagai Arena dan Instrumen Kekuasaan”. Tulisan tersebut menjelaskan bahasa kerap digunakan penguasa untuk memuluskan kepentingannya, bahkan tanpa disadari masyarakat. 

Penulisnya, Anggi Afriansyah, menegaskan bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Ia juga menjadi piranti penting dalam mempertahankan kekuasaan dan membentuk cara berpikir publik. Dalam konteks ini, muncul relasi yang saling memengaruhi antara bahasa dan kekuasaan.

Namun tidak semua orang melihat fenomena ini sebagai kritik. Ada yang menganggapnya sekadar candaan yang tidak membawa dampak. Dalam situasi seperti ini, bahasa berisiko kehilangan tajinya dan berubah menjadi tren semata.

Di titik ini, pertanyaan menjadi tidak sederhana. Apakah bahasa yang kita gunakan sedang melawan, atau justru hanya mencari cara aman untuk mengomentari keadaan. Kedua kemungkinan ini tampak berjalan bersamaan.

Saya melihat keduanya hidup berdampingan. Di satu sisi, bahasa memberi ruang untuk menyindir dan berbagi kegelisahan. Di sisi lain, ia juga menunjukkan batas sejauh mana kritik bisa disampaikan hari ini.

Meski begitu, satu hal terasa jelas. Publik tidak benar-benar diam. Mereka hanya mengubah cara berbicara. Dan mungkin, dari cara-cara kecil seperti ini, kita bisa membaca bagaimana kritik tetap mencari jalan, bahkan ketika ruangnya terasa semakin sempit.

About Author

Ahmad Khudori

Ahmad Khudori adalah seorang anak muda penyuka kelucuan orang lain, biar terpapar lucu.