11/06/2026
Issues Opini

Kartini, Menulis, dan Ruang Aman yang Membebaskan

Menjelang Hari Kartini, pertanyaan pentingnya bukan hanya apa yang diperjuangkan Kartini, tetapi ruang seperti apa yang ia butuhkan untuk tumbuh.

  • April 13, 2026
  • 5 min read
  • 1354 Views
Kartini, Menulis, dan Ruang Aman yang Membebaskan

Menjelang Hari Kartini, ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan: apakah Kartini punya ruang aman? Dalam tradisi pingitan yang membatasi geraknya, jawabannya kemungkinan besar tidak. Justru karena itu, menulis menjadi sangat penting. Bagi Kartini, menulis bukan sekadar cara berekspresi, tetapi juga cara bertahan dan, dalam batas tertentu, cara melawan.

Kita bisa membayangkan bahwa Kartini juga bertumbuh melalui relasi yang mendukungnya. Sosok kakaknya, Kartono, misalnya, sering disebut sebagai salah satu orang yang dekat dengannya. Lewat bacaan-bacaan dan korespondensi yang diperkenalkan kepadanya, dunia Kartini melampaui Jepara, bahkan melampaui Nusantara. Dari sana, ia tidak hanya mengenal gagasan baru, tetapi juga menemukan bahasa untuk memahami dirinya dan zamannya.

Di titik ini, perjuangan perempuan memang tidak bisa dibaca hanya sebagai urusan individu. Pendekatan feminisme yang lebih mutakhir juga menekankan pentingnya relasi. Hidup perempuan dibentuk bukan hanya oleh kehendaknya sendiri, tetapi juga oleh orang-orang terdekat dan struktur yang mengitarinya: orang tua, saudara, pasangan, anak, komunitas, hingga norma sosial. Pertanyaannya sederhana, tetapi sangat mendasar: apakah relasi-relasi itu memungkinkan perempuan untuk tumbuh, atau justru membatasi mereka secara halus?

Baca juga: Kita Berutang Lebih dari Sekadar Sanggul pada Kartini

Jiwa yang merdeka

Dalam situasi yang sangat terbatas, menulis sering menjadi cara untuk tetap waras dan tetap hidup sebagai manusia. Pengalaman ini bukan hanya milik Kartini.

Kita melihat jejak yang mirip pada Pramoedya Ananta Toer di Pulau Buru, yang terus menuturkan kisah agar tidak tenggelam dalam kesunyian dan tekanan. Kita juga menemukannya dalam karya Nawal El Saadawi, Perempuan di Titik Nol (1975). Melalui tokoh Firdaus, penulis dan feminis Mesir itu menunjukkan ketika tubuh bisa dikontrol, kesadaran tetap mencari jalan untuk bebas. 

Dalam konteks ini, menulis bukan sekadar aktivitas, melainkan cara untuk bertahan sekaligus bentuk penolakan untuk dilenyapkan. Menulis juga lahir dari relasi yang sehat dengan diri sendiri: kemampuan untuk mendengar suara batin, mengenali luka, dan memberi makna pada pengalaman.

Tidak semua perempuan memiliki ruang untuk jujur pada luka-lukanya. Namun ketika keberanian itu hadir, menulis bisa menjadi cara untuk mengalirkan, memahami, dan memulihkan diri. Dari proses itu tumbuh kesadaran diri yang utuh. Perempuan yang berjiwa merdeka tidak mudah dikendalikan oleh ketakutan, ekspektasi, atau batasan yang tidak adil. Ia mampu mengenali dirinya, menentukan pilihan hidupnya, dan menjaga martabatnya.

Namun, kesadaran individu saja tidak cukup. Ada hubungan timbal balik antara individu dan struktur sosial. Kartini sendiri adalah contoh nyata: tradisi pingitan dan poligami boleh menekannya, tetapi gagasan emansipasinya justru melampaui batas-batas itu, bahkan melintasi zaman.

Seorang perempuan yang sadar diri tetap bisa terjebak dalam lingkungan yang tidak mendukung: keluarga yang membatasi, pasangan yang tidak setara, atau struktur sosial yang bias gender. Di sinilah pentingnya membangun apa yang bisa kita sebut sebagai struktur yang berkesadaran.

Baca juga: Komunitas Kendal Berkain dan Berkebaya: Pakai Kebaya Tiap Hari, ‘Why Not’?

Struktur yang berkesadaran

Feminisme Pancasila berpegang pada penjelasan Sukarno terkait Sila Kelima, yaitu sistem sosial yang tidak memberi ruang bagi penindasan—baik antarindividu seperti feodalisme, patriarki, dan rasisme, maupun antarbangsa seperti kolonialisme dan imperialisme. Karena itu, struktur yang berkesadaran adalah lingkungan sosial yang bukan hanya “tidak menindas”, tetapi juga secara aktif memungkinkan perempuan untuk tumbuh dan menjadi dirinya sendiri.

Struktur ini bekerja pada beberapa lapisan. Pertama, keluarga sebagai ruang awal kesetaraan. Di sinilah anak belajar tentang relasi kuasa. Ketika anak perempuan diberi ruang untuk berpendapat dan bermimpi, sementara anak laki-laki diajarkan empati dan berbagi peran, fondasi kesetaraan mulai dibangun.

Kedua, relasi yang setara, bukan sekadar suportif. Dukungan saja tidak cukup jika relasi tetap timpang. Relasi yang berkesadaran adalah relasi yang setara, di mana keputusan diambil bersama, beban dibagi secara adil, dan masing-masing individu memiliki ruang untuk berkembang.

Ketiga, laki-laki sebagai bagian dari perubahan. Membangun ruang aman bagi perempuan tidak bisa hanya dibebankan pada perempuan. Laki-laki perlu menjadi bagian dari solusi, dimulai dari cara mereka dibesarkan: apakah dengan empati dan tanggung jawab, atau justru dengan privilese yang tidak disadari.

Keempat, struktur sosial dan kebijakan yang adil. Negara dan masyarakat memiliki peran penting melalui kebijakan yang melindungi dan memampukan perempuan, mulai dari perlindungan pekerja rumah tangga hingga akses pendidikan dan pekerjaan. Tanpa dukungan struktural ini, kesadaran individu sering kali tidak cukup untuk mengatasi ketimpangan.

Selama ini, narasi tentang perempuan sering berhenti pada tuntutan untuk menjadi kuat. Perempuan diminta tangguh dan mandiri, seolah-olah semua beban ada pada dirinya, sementara lingkungan jarang dipertanyakan: apakah benar-benar memampukan perempuan untuk tumbuh?

Kartini tidak hanya berbicara tentang emansipasi perempuan, tetapi juga tentang perubahan cara pandang masyarakat terhadap perempuan. Karena itu, merayakan Kartini seharusnya bukan sekadar simbol, melainkan momentum untuk membangun kesadaran—baik di dalam diri maupun dalam struktur sosial.

Ruang aman bagi perempuan tidak lahir dari satu sisi saja. Ia tumbuh ketika perempuan mengenal dirinya, dan ketika lingkungan di sekitarnya cukup sadar untuk tidak membatasi, bahkan berani membuka jalan.

Perempuan tidak hanya butuh keberanian untuk berdiri, tetapi juga ruang yang memungkinkan ia tidak harus berjuang sendirian. Sering kali, ruang itu tidak datang begitu saja, melainkan harus diciptakan, dijaga, dan dituliskan.

Tulisan ini bagian dari serial Hari Kartini yang mengangkat tema pentingnya lingkungan yang memungkinkan perempuan bertumbuh. Baca tulisan lainnya di sini untuk melihat beragam perspektif kontributor.

About Author

Eva Kusuma Sundari

politisi, enthusiast Feminisme Pancasila, pendiri Institut Sarinah dan konsultan SDGs, gender and development,