08/07/2026
Culture Screen Raves

Musim Ketiga Bikin ‘Euphoria’ Hilang Jati Diri, Apa yang Salah dari Serial ini? 

Diawali dengan sangat baik sebagai drama remaja yang kompleks, ‘Euphoria’ berakhir sebagai film koboi yang dibuat untuk algoritme media sosial.

  • June 24, 2026
  • 5 min read
  • 323 Views
Musim Ketiga Bikin ‘Euphoria’ Hilang Jati Diri, Apa yang Salah dari Serial ini? 

Foto: IMDB

Piring di hadapan saya sudah kosong, menyisakan satu tulang ayam tak bermakna yang siap dibuang. Namun saya tidak langsung beranjak menuju wastafel. Memalingkan wajah dari episode terakhir Euphoria musim ketiga yang berputar di laptop terasa mustahil, terutama ketika tokoh utamanya, Rue Bennett (Zendaya), tengah meregang nyawa.

Potongan-potongan kehidupan Rue dari musim-musim sebelumnya dipertontonkan dengan latar musik dan penyuntingan yang melankolis. Salah satunya ketika ia melihat Jules Vaughn (Hunter Schafer) mengayuh sepeda dari dalam mobil dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Rumah lama Rue, tempat penonton mengikuti masa-masa kelam kecanduan narkotikanya, kembali ditampilkan dengan cukup apik.

Seiring alur yang bergerak mundur, saya ikut bernostalgia. Dua musim sebelumnya berhasil membentuk Euphoria sebagai serial yang nakal, menyenangkan, sekaligus menyimpan sisi gelap yang pas. Namun pada musim ketiga, Sam Levinson tampak memilih membanjiri cerita dengan nuansa depresif hingga menenggelamkan identitas yang sebelumnya sudah terbentuk.

Baca juga: ‘Euphoria’ Serial Televisi Gen Z Paling Realistis?

Perkembangan Karakter yang Makin Gelap

Musim ketiga memperlihatkan kehidupan para karakter utama setelah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA). Episode pertama dibuka dengan Rue yang dibantu sekelompok orang Meksiko karena roda mobilnya terjebak di tanah basah.

Setelah mobil kembali berjalan, penonton disuguhi hamparan gurun di perbatasan Texas, Amerika Serikat (AS), dan Meksiko. Rue kemudian berhenti di sebuah gerbang perbatasan dan menyerahkan uang kepada seseorang di sisi AS.

Belakangan diketahui orang tersebut adalah penyelundup imigran. Ia membantu Rue menyeberang dengan menyandarkan papan besi di gerbang perbatasan. Namun upaya itu gagal setelah mobil Rue tersangkut, memaksanya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Di tengah gurun Texas yang luas, Rue menemukan rumah peternakan dan tidur di kandang sapi. Pemilik rumah tersebut ternyata keluarga Kristen konservatif. Untuk bertahan, Rue berpura-pura menjadi wartawan mahasiswa nasionalis yang sedang menulis laporan tentang penyelundupan manusia di perbatasan Amerika.

Padahal, kenyataannya ia bekerja sebagai kurir narkotika, profesi yang justru dikutuk keluarga tersebut. Di tengah kehidupannya sebagai kriminal, Rue menemukan ketenangan dalam kehidupan keluarga konservatif yang jauh dari hiruk-pikuk kota dan internet. Ia ingin hidup seperti mereka, tetapi masih harus menyelesaikan tugas mengantarkan paket fentanyl ke California.

Transformasi Rue dari pengguna narkotika menjadi bagian dari jaringan peredaran narkotika sebenarnya tidak mengejutkan. Perubahan itu terasa linear dengan alur yang dibangun sejak ia melarikan diri dari bandar narkotika yang ditipunya pada musim kedua.

Sayangnya, Rue bukan satu-satunya karakter yang menjalani hidup problematik.

Nate Jacobs (Jacob Elordi) terjerat utang yang mengancam nyawanya hingga akhir musim. Istrinya, Cassie Howard (Sydney Sweeney), mencari uang dengan menjual foto dan video di OnlyFans. Sementara itu, Maddy Perez (Alexa Demie) menjadi manajer seorang influencer OnlyFans yang kemudian mengelola karier Cassie.

Di pertengahan musim, Rue beralih dari industri narkotika menjadi manajer di strip club. Mantan kekasihnya, Jules Vaughn (Hunter Schafer), menjadi sugar baby sembari melanjutkan mimpinya sebagai seniman. Ada satu benang merah yang menghubungkan hampir seluruh karakter dalam musim ketiga: pekerjaan seks.

Baca juga: ‘Euphoria’: Kumpulan Momen Tak Nyambung yang Dirangkai Satu

Kehilangan Jati Diri demi Sensasi

Satu-satunya karakter yang tampak dilepaskan Levinson dari lingkaran prostitusi adalah Lexi Howard (Maude Apatow). Ia bekerja sebagai asisten produser sinetron di Hollywood. Bergaul dengan kelompok yang gemar melihat dunia dari sudut pandang progresif, Lexi digambarkan sebagai sosok yang senang mengkritik tanpa benar-benar memahami konteks.

Melihat latar belakang hampir seluruh karakter utama musim ketiga, sejak episode pertama saya sudah menduga serial ini akan bergerak lebih dekat ke film gangster atau karya Quentin Tarantino ketimbang drama remaja. Dugaan itu terbukti. Darah, kekerasan, dan kematian ditampilkan berulang kali dengan sangat gamblang.

Levinson juga terus mengeksploitasi ketimpangan gender melalui penderitaan karakter-karakter perempuannya. Berbagai tren media sosial seperti tradwivessugar baby, dan OnlyFans diangkat bukan untuk dikritik secara mendalam, melainkan lebih sering digunakan sebagai alat kejut.

Kolumnis The Guardian, Louis Staples, menilai musim ketiga Euphoria menggunakan strategi yang mirip dengan algoritme media sosial, yakni attention economy.

“The show has always had extreme, discourse-sparking moments, but it now feels like it’s going for the most provocative thing with the sole aim of dominating the social feed.”

“Acara ini sudah mendorong diskursus dengan adegan-adegan ekstrem sejak dulu, tetapi sekarang hal provokatif digunakan hanya untuk mendominasi lini masa sosial,” tulis Staples.

Ia menambahkan, jika satu-satunya indikator keberhasilan adalah dominasi percakapan di media sosial, Levinson jelas berhasil mencapai tujuan tersebut.

Menurut Staples, dialog dan adegan dalam musim ketiga sengaja dirancang untuk memancing engagement dan mudah disebarluaskan dalam bentuk meme. Salah satu contohnya adalah adegan Cassie berdandan seperti anak anjing, lalu Nate berkata kepadanya, “Kamu adalah anjing nakal.”

Reduksi semacam itu menggerus makna yang sebelumnya dibangun dengan cukup kuat pada dua musim pertama. Karakter-karakter yang dahulu kompleks kini terasa semakin datar karena terus diposisikan sebagai kendaraan untuk menghasilkan momen viral.

Baca juga: ‘Euphoria’: Adiksi, Seks, dan Romantisme ‘Coming of Age’

Pada titik tertentu, Levinson bahkan terlihat sedang mewujudkan fantasi khas penganut manosphere: istri yang selalu patuh kepada suami yang nyaris tak berkontribusi dalam hubungan, sugar baby yang rela dijadikan objek oleh “majikan”, serta pekerja seks yang digambarkan seolah tidak memiliki harga diri.

Hal yang paling saya syukuri dari musim ketiga adalah fakta musim ini akhirnya berakhir. Saya berharap wacana mengenai musim keempat tidak lagi dilanjutkan siapa pun. Levinson sendiri sudah menyatakan adegan credit scene yang saya tonton sambil menggerogoti tulang lunak ayam merupakan akhir dari waralaba ini.

Ketika akhirnya beranjak menuju tempat sampah dan wastafel, saya masih menyimpan satu pertanyaan: Apakah delapan episode yang saya tonton benar-benar berasal dari semesta yang sama dengan dua musim sebelumnya?

Rasanya seperti menonton film koboi berbiaya besar yang ditulis menggunakan campuran fantasi imitasi dan logika algoritma media sosial.

Pada akhirnya, saya membuang ekspektasi yang sejak lama dipupuk terhadap Euphoria musim ketiga, bersamaan dengan tulang ayam yang telah kehilangan jati dirinya sebagai makanan.

About Author

Andrei Wilmar

Andrei Wilmar bermimpi buat jadi wartawan desk metropolitan.