Fringe Friend: Ketika Kamu Ada dalam Circle, tapi Tak Pernah Benar-benar Menjadi Bagian
Belakangan ini, istilah fringe friend semakin sering muncul sosial media seperti TikTok, X, dan Threads. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang merasa berada di “pinggiran” sebuah lingkaran pertemanan. Mereka bukan orang asing, tetapi juga bukan bagian dari kelompok inti. Masih diajak sesekali, masih ada di grup chat, tetapi jarang menjadi orang yang pertama dihubungi atau dilibatkan dalam momen penting.
Kata fringe sendiri berarti “pinggiran” atau “tepi”. Karena itu, fringe friend dapat dipahami sebagai teman yang memiliki hubungan sosial dengan sebuah kelompok, tetapi kedekatan emosionalnya tidak sekuat anggota lain dalam circle tersebut.
Fenomena ini mulai banyak dibahas setelah psikolog klinis Dr. Christie Ferrari menjelaskan pengalaman menjadi fringe friend dalam wawancaranya dengan SELF, Are You the ‘Fringe Friend’ of Your Group?, dan Newsweek, Four Signs You’re the ‘Fringe Friend,’ According to a Psychologist. Menurut Ferrari, seseorang yang berada di posisi ini sering kali tetap diterima dalam sebuah kelompok, tetapi tidak merasa benar-benar menjadi bagian dari dinamika utama pertemanan. Mereka mungkin baru diajak setelah rencana dibuat atau lebih sering menjadi pihak yang harus memulai komunikasi terlebih dahulu.
Baca Juga: Cinta Terganjal Restu Teman, Perlu Enggak Kenalin Pasangan ke Circle Pertemanan?
Apakah Fringe Friend Istilah dalam Psikologi?
Meski ramai dibicarakan di media sosial, fringe friend bukan istilah psikologi formal maupun diagnosis kesehatan mental. Istilah ini lebih banyak digunakan untuk menggambarkan pengalaman sosial yang dialami sebagian orang dalam hubungan pertemanan.
Namun, pengalaman tersebut bukan berarti tidak memiliki dasar ilmiah. Dalam artikel More than an Acquaintance Less than a Friend: Fringeships in Everyday Life yang diterbitkan di Review of General Psychology (2025), para peneliti memperkenalkan konsep fringeships, yaitu hubungan yang berada di antara kenalan biasa dan teman dekat. Hubungan seperti ini ditandai dengan adanya interaksi yang cukup rutin dan rasa saling mengenal, tetapi belum berkembang menjadi kedekatan emosional yang kuat seperti persahabatan akrab.
Konsep tersebut membantu menjelaskan bahwa hubungan sosial tidak selalu terbagi menjadi dua kategori—teman atau bukan teman. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak relasi berada di tengah spektrum tersebut. Seseorang bisa merasa cukup dekat untuk ikut berkumpul bersama sebuah circle, tetapi tetap tidak memiliki ikatan emosional yang sama dengan anggota inti kelompok.
Baca Juga: Menilik Tanda-tanda Pertemanan yang Baik
Mengapa Istilah Fringe Friend Menjadi Viral?
Popularitas fringe friend enggak lepas dari semakin banyaknya diskusi mengenai kesehatan mental, kualitas pertemanan, dan rasa memiliki (sense of belonging) di media sosial. Banyak orang mulai membagikan pengalaman merasa “ikut, tetapi tidak benar-benar dilibatkan” dalam sebuah kelompok. Pengalaman tersebut kemudian dianggap mewakili posisi fringe friend.
Meski begitu, menjadi fringe friend tidak selalu berarti memiliki hubungan yang tidak sehat. Dalam beberapa kasus, posisi tersebut muncul karena dinamika hidup yang berubah, seperti pindah sekolah, berganti pekerjaan, memiliki kesibukan berbeda, atau perubahan prioritas dalam hubungan pertemanan. Artinya, berada di pinggiran sebuah circle tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang ditolak atau tidak disukai.
Memahami perbedaan ini penting agar kita tidak terburu-buru memberi label negatif pada setiap perubahan dalam hubungan sosial. Tidak semua pertemanan berkembang menjadi hubungan yang sangat dekat, dan tidak semua orang membutuhkan tingkat kedekatan yang sama untuk tetap menjalin relasi yang bermakna.
Baca Juga: Kenali Tanda-tanda Hubungan Cinta Merenggang Lewat Bahasa di Media Sosial
Apa Saja Ciri-Ciri Fringe Friend?
Tidak semua orang yang merasa kurang dekat dengan sebuah circle otomatis menjadi fringe friend. Namun, ada beberapa pola yang sering muncul. Menurut psikolog klinis Dr. Christie Ferrari, seseorang yang berada di posisi ini umumnya tetap memiliki hubungan dengan kelompok pertemanan, tetapi jarang menjadi bagian dari interaksi yang paling dekat atau paling intens.
Berikut beberapa ciri yang sering ditemukan.
1. Jarang Menjadi Orang yang Pertama Diajak
Salah satu tanda yang paling sering dirasakan adalah bukan tidak pernah diajak, melainkan jarang menjadi orang yang pertama dilibatkan. Kamu mungkin masih ikut nongkrong atau hadir di acara tertentu, tetapi baru mengetahui rencana tersebut setelah orang lain membicarakannya atau setelah ada tempat yang masih kosong.
Sesekali mengalami situasi seperti ini sebenarnya wajar. Namun, jika pola tersebut terus berulang dalam berbagai kesempatan, tidak sedikit orang mulai mempertanyakan posisi mereka dalam sebuah circle. Perasaan tersebut muncul bukan karena jumlah undangannya, melainkan karena merasa kehadirannya tidak benar-benar dipertimbangkan sejak awal.
2. Hubungan Terbatas pada Situasi Tertentu
Hubungan dengan fringe friend sering kali bersifat kontekstual. Kedekatan terasa ketika berada di kantor, kampus, organisasi, atau komunitas tertentu. Namun, di luar lingkungan tersebut, komunikasi hampir tidak pernah berlanjut.
Misalnya, kamu rutin makan siang bersama rekan kerja setiap hari, tetapi tidak pernah diajak berkumpul di luar jam kerja. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa hubungan lebih banyak dibangun karena berada dalam situasi yang sama, bukan karena kedekatan emosional yang berkembang secara alami.
Bukan berarti hubungan tersebut buruk. Hanya saja, tingkat kedekatannya berbeda dengan persahabatan yang biasanya tetap terjalin meski konteksnya berubah.
3. Percakapan Jarang Menyentuh Hal yang Personal
Persahabatan yang dekat umumnya ditandai dengan rasa saling percaya. Orang-orang di dalamnya lebih nyaman berbagi pengalaman pribadi, meminta pendapat, atau menceritakan kesulitan yang sedang dihadapi.
Sebaliknya, hubungan sebagai fringe friend cenderung didominasi percakapan yang bersifat ringan, seperti pekerjaan, kuliah, film, atau topik sehari-hari. Bukan berarti obrolan tersebut tidak menyenangkan, tetapi hubungan belum berkembang hingga tahap saling membuka diri secara emosional.
Karena itu, banyak orang yang berada di posisi ini merasa mereka mengenal anggota circle tersebut, tetapi tidak benar-benar merasa dekat dengan mereka.
4. Sering Merasa Menjadi Pilihan Kedua
Ciri lain yang cukup umum adalah munculnya perasaan menjadi opsi cadangan. Misalnya, kamu baru dihubungi ketika ada teman lain yang berhalangan hadir atau ketika seseorang membutuhkan bantuan tertentu.
Perlu diingat, satu atau dua pengalaman seperti ini belum tentu menunjukkan bahwa kamu adalah fringe friend. Namun, apabila pola tersebut terjadi berulang dalam berbagai situasi, wajar jika muncul perasaan bahwa hubungan yang terjalin tidak seimbang.
Meski demikian, penting untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa orang lain sengaja mengabaikanmu. Dinamika pertemanan sering kali dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kedekatan yang sudah terbangun lebih dulu, kesamaan aktivitas, hingga perubahan prioritas dalam kehidupan masing-masing.
Baca Juga: ‘One-Sided Friendship’: Tanda Pertemanan Sepihak yang Perlu Kamu Kenali
Apa Dampak Menjadi Fringe Friend?
Menjadi fringe friend tidak selalu berdampak negatif. Sebagian orang memang nyaman memiliki hubungan yang tidak terlalu dekat dengan sebuah circle. Namun, jika seseorang terus-menerus merasa berada di pinggir kelompok dan menginginkan hubungan yang lebih erat, pengalaman tersebut dapat memengaruhi kesejahteraan emosional.
Dampaknya pun berbeda pada setiap orang. Hal ini dipengaruhi oleh kebutuhan sosial, kepribadian, serta kualitas hubungan yang dimiliki di lingkungan lain.
1. Merasa Kesepian Meski Tidak Sendirian
Salah satu pengalaman yang paling sering dirasakan adalah kesepian di tengah keramaian. Seseorang masih memiliki teman untuk diajak berkumpul, tetapi tidak merasa benar-benar terhubung secara emosional dengan kelompoknya.
Dalam laporan Our Epidemic of Loneliness and Isolation (2023), U.S. Surgeon General menjelaskan bahwa kesepian tidak hanya ditentukan oleh banyaknya teman yang dimiliki, tetapi juga oleh kualitas hubungan sosial dan rasa memiliki (sense of belonging). Karena itu, seseorang tetap dapat merasa kesepian meski sering berada di tengah lingkungan sosial.
Pengalaman seperti inilah yang kerap digambarkan oleh orang-orang yang merasa menjadi fringe friend: hadir secara fisik dalam sebuah circle, tetapi tidak merasa benar-benar menjadi bagian darinya.
2. Mulai Meragukan Posisi dalam Pertemanan
Ketika pola tidak dilibatkan atau tidak diprioritaskan terjadi berulang kali, sebagian orang mulai mempertanyakan posisi mereka dalam sebuah hubungan.
Pertanyaan seperti “Apakah aku memang dekat dengan mereka?” atau “Kenapa aku selalu tahu kabarnya belakangan?” merupakan respons yang wajar ketika seseorang merasa hubungan yang dijalani tidak seimbang.
Namun, penting untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa penyebabnya selalu berasal dari diri sendiri. Kedekatan dalam pertemanan dipengaruhi banyak hal, mulai dari intensitas interaksi, pengalaman yang dibangun bersama, hingga perubahan prioritas dalam kehidupan masing-masing.
3. Lebih Berhati-Hati Menjalin Pertemanan Baru
Pengalaman menjadi fringe friend juga dapat memengaruhi cara seseorang membangun hubungan baru. Ada yang menjadi lebih berhati-hati karena tidak ingin mengalami pengalaman serupa. Ada pula yang memilih meluangkan waktu lebih lama sebelum merasa nyaman membuka diri kepada orang lain.
Respons tersebut tidak selalu berarti buruk. Bagi sebagian orang, pengalaman ini justru menjadi kesempatan untuk lebih memahami seperti apa hubungan yang benar-benar mereka harapkan dan bagaimana membangun pertemanan yang terasa aman serta saling menghargai.
4. Menjadi Momen Mengevaluasi Lingkaran Pertemanan
Mengalami posisi sebagai fringe friend juga bisa menjadi kesempatan untuk mengevaluasi kualitas hubungan yang dimiliki. Tidak semua pertemanan berkembang menjadi hubungan yang sangat dekat, dan hal itu bukan berarti salah satu pihak gagal menjadi teman yang baik.
Penelitian dari Sage Journals, More than an Acquaintance Less than a Friend: Fringeships in Everyday Life, menunjukkan bahwa hubungan sosial berada dalam sebuah spektrum, mulai dari kenalan, teman biasa, hingga sahabat dekat. Karena itu, tidak semua orang dalam sebuah circle akan memiliki tingkat kedekatan yang sama.
Daripada memaksakan diri agar menjadi bagian dari “inner circle“, pengalaman ini dapat menjadi pengingat untuk membangun hubungan yang terasa lebih seimbang, saling menghargai, dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.





















