20/07/2026
Lifestyle

‘One-Sided Friendship’: Tanda Pertemanan Sepihak yang Perlu Kamu Kenali

Selalu menjadi orang yang menghubungi lebih dulu atau merasa hanya kamu yang berusaha menjaga hubungan? Bisa jadi kamu sedang mengalami one-sided friendship.

  • July 20, 2026
  • 7 min read
  • 135 Views
‘One-Sided Friendship’: Tanda Pertemanan Sepihak yang Perlu Kamu Kenali

Pernah merasa kamu selalu menjadi orang yang lebih dulu menghubungi teman, mengajak bertemu, atau mendengarkan curhatnya? Namun, ketika kamu membutuhkan dukungan, respons yang diterima justru enggak sebanding. Situasi seperti ini sering disebut one-sided friendship atau pertemanan sepihak, yaitu hubungan pertemanan yang didominasi oleh usaha dari satu pihak.

Dalam pertemanan yang sehat, kedua belah pihak umumnya saling memberikan perhatian, dukungan, dan waktu. Bentuknya memang tidak harus selalu sama, tetapi tetap ada rasa saling menghargai dan timbal balik. Sebaliknya, pada one-sided friendship, keseimbangan tersebut mulai berkurang sehingga salah satu pihak merasa lebih banyak memberi dibanding menerima.

Verywell Mind dalam artikel Signs of a One-Sided Friendship menjelaskan bahwa pertemanan sepihak biasanya ditandai dengan kurangnya timbal balik dalam komunikasi, dukungan emosional, maupun usaha untuk mempertahankan hubungan. Jika kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, seseorang dapat mulai merasa diabaikan, tidak dihargai, atau mempertanyakan kualitas hubungan yang sedang dijalani.

Hubungan seperti ini tidak selalu mudah dikenali sejak awal. Banyak pertemanan berkembang secara alami dan tetap terasa menyenangkan pada masa-masa awal. Namun, seiring waktu, pola interaksi yang tidak seimbang mulai terlihat. Salah satu teman lebih sering berinisiatif, sementara pihak lain cenderung pasif atau hanya hadir ketika membutuhkan bantuan.

Baca Juga: Pertemanan Kadaluarsa, Perlukah Dipertahankan?

Tanda-Tanda One-sided Friendship

Tidak semua pertemanan berjalan dengan intensitas yang sama. Ada teman yang memang jarang berkomunikasi, tetapi tetap saling mendukung ketika dibutuhkan. Karena itu, one-sided friendship tidak bisa dinilai hanya dari seberapa sering seseorang mengirim pesan atau mengajak bertemu. Yang lebih penting adalah melihat pola hubungan secara keseluruhan.

Kamu Selalu Menjadi Orang yang Berinisiatif

Salah satu tanda yang paling sering dirasakan adalah ketika hampir semua inisiatif datang dari satu pihak. Mulai dari menghubungi lebih dulu, mengatur jadwal bertemu, hingga menjaga percakapan tetap berjalan, semuanya dilakukan oleh orang yang sama.

Sesekali mengambil inisiatif tentu merupakan hal yang wajar. Namun, apabila kondisi tersebut berlangsung terus-menerus tanpa adanya usaha dari pihak lain, hubungan dapat terasa semakin tidak seimbang. Psychology Today dalam artikel Is Your Friendship One-Sided? menjelaskan bahwa hubungan yang sehat umumnya melibatkan usaha dari kedua belah pihak untuk tetap menjaga koneksi dan komunikasi.

Dukungan Emosional Tidak Berjalan Dua Arah

Tanda lain yang cukup umum adalah ketidakseimbangan dalam dukungan emosional. Misalnya, kamu selalu meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita teman, membantu ketika ia menghadapi masalah, atau memberikan dukungan saat ia sedang mengalami masa sulit. Namun, ketika kamu berada dalam situasi yang sama, respons yang diberikan jauh lebih sedikit atau bahkan tidak ada.

Menurut Verywell Mind, dukungan emosional merupakan salah satu unsur penting dalam pertemanan yang sehat. Ketika hanya satu pihak yang terus memberikan perhatian sementara pihak lain jarang menunjukkan kepedulian yang sama, hubungan tersebut dapat memunculkan rasa kecewa dan kelelahan emosional.

Kamu Sering Merasa Tidak Dihargai

Perasaan tidak dihargai juga dapat menjadi sinyal bahwa hubungan mulai kehilangan keseimbangan. Misalnya, ajakanmu sering diabaikan, pendapatmu jarang didengarkan, atau keberadaanmu baru dicari ketika teman sedang membutuhkan bantuan.

Pengalaman seperti ini memang tidak selalu berarti sebuah pertemanan sudah tidak sehat. Namun, apabila pola tersebut terjadi berulang kali, wajar jika seseorang mulai mempertanyakan apakah hubungan itu masih memberikan manfaat secara emosional.

Interaksi Justru Membuatmu Lelah

Pertemanan pada dasarnya dapat menjadi sumber dukungan sosial. Namun, dalam one-sided friendship, interaksi yang terus berlangsung tanpa adanya timbal balik justru dapat menguras energi.

American Psychological Association (APA) menjelaskan bahwa hubungan sosial yang berkualitas berperan penting terhadap kesejahteraan psikologis. Sebaliknya, hubungan interpersonal yang dipenuhi konflik, ketidakseimbangan, atau minim dukungan dapat meningkatkan stres dan memengaruhi kesehatan mental apabila berlangsung dalam jangka panjang.

Karena itu, penting untuk memperhatikan bagaimana perasaanmu setelah berinteraksi dengan seorang teman. Jika setiap pertemuan atau percakapan justru membuatmu merasa semakin lelah, kecewa, atau tidak dihargai, kondisi tersebut dapat menjadi salah satu tanda bahwa hubungan tersebut perlu dievaluasi.

Baca Juga: Kenali Tanda Pertemanan ‘Toxic’

Dampak One-Sided Friendship terhadap Kesehatan Mental

Pertemanan yang tidak seimbang tidak selalu langsung berdampak pada kesehatan mental. Namun, jika berlangsung dalam waktu lama, kondisi tersebut dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri maupun kualitas hubungan sosial yang dijalani.

Salah satu dampak yang paling sering muncul adalah kelelahan emosional. Ketika seseorang terus berusaha menjaga hubungan tanpa mendapatkan timbal balik yang setara, ia dapat merasa bahwa perhatian, waktu, dan energinya tidak dihargai. Perasaan tersebut perlahan dapat berubah menjadi frustrasi atau kekecewaan, terutama jika pola yang sama terus berulang.

Masih dari Verywell Mind menjelaskan bahwa hubungan yang tidak seimbang dapat memunculkan rasa kesepian, kecewa, hingga berkurangnya kepuasan dalam menjalani pertemanan. Kondisi tersebut terjadi karena salah satu pihak terus memberikan dukungan emosional tanpa merasakan dukungan yang sama ketika membutuhkannya.

Selain itu, hubungan yang tidak sehat juga dapat memengaruhi harga diri. Sebagian orang mulai mempertanyakan apakah dirinya kurang menarik sebagai teman atau merasa harus terus berusaha agar hubungan tetap bertahan. Padahal, kualitas sebuah pertemanan tidak hanya ditentukan oleh usaha satu orang.

American Psychological Association (APA) melalui publikasi seperti The Importance of Social Connection dan laporan terkait hubungan interpersonal menjelaskan bahwa relasi yang sehat berperan penting dalam menjaga kesejahteraan psikologis. Sebaliknya, hubungan yang dipenuhi ketidakseimbangan, konflik, atau minim dukungan dapat menjadi salah satu sumber stres apabila berlangsung dalam jangka panjang.

Baca Juga: Mesra Tanpa Asmara: Bromance dari A sampai Z

Cara Mengatasi One-Sided Friendship

Menyadari bahwa sebuah pertemanan tidak berjalan seimbang bukan berarti hubungan tersebut harus langsung diakhiri. Dalam beberapa situasi, langkah pertama yang dapat dilakukan adalah memahami kembali pola hubungan yang selama ini terjadi.

Cobalah melihat hubungan tersebut secara menyeluruh, bukan hanya berdasarkan satu atau dua kejadian. Misalnya, apakah hanya kamu yang selalu menghubungi lebih dulu? Apakah dukungan emosional hanya mengalir dari satu pihak? Atau justru hubungan tersebut memang sedang memasuki fase ketika salah satu teman menghadapi situasi yang sulit? Melihat pola dalam jangka panjang dapat membantu membedakan antara masalah sementara dan ketidakseimbangan yang berlangsung terus-menerus.

Jika memang merasa ada yang mengganggu, komunikasi terbuka dapat menjadi langkah berikutnya. Menyampaikan perasaan secara jujur tanpa menyalahkan sering kali membantu kedua belah pihak memahami situasi yang sedang terjadi. Mayo Clinic dalam artikel Conflict Resolution: How to Keep Your Relationships Healthy menjelaskan bahwa komunikasi yang terbuka dan saling menghormati merupakan salah satu unsur penting dalam menjaga hubungan interpersonal yang sehat.

Selain komunikasi, menetapkan batasan (boundaries) juga tidak kalah penting. Batasan bukan berarti menjauh atau memutus hubungan, melainkan membantu seseorang menjaga waktu, energi, dan kesehatan emosional. Misalnya, tidak selalu merasa harus segera membalas pesan, tidak memaksakan diri untuk selalu tersedia, atau mulai mengatakan “tidak” ketika sebuah permintaan membuat diri sendiri merasa tidak nyaman.

Pendekatan serupa dijelaskan Cleveland Clinic dalam artikel How to Set Healthy Boundaries in Relationships. Menurut Cleveland Clinic, batasan yang sehat membantu seseorang membangun hubungan yang lebih saling menghargai sekaligus mengurangi risiko kelelahan emosional.

Kapan Sebaiknya Mengakhiri Pertemanan?

Tidak semua one-sided friendship dapat diperbaiki. Ada situasi ketika komunikasi sudah dilakukan, batasan sudah diterapkan, tetapi hubungan tetap berjalan dengan pola yang sama. Dalam kondisi seperti itu, mengevaluasi apakah pertemanan masih memberikan dampak positif menjadi hal yang wajar.

Beberapa tanda yang dapat menjadi bahan pertimbangan misalnya ketika seseorang terus-menerus merasa tidak dihargai, hanya satu pihak yang berusaha mempertahankan hubungan, atau interaksi yang terjadi lebih sering menimbulkan stres dibanding rasa nyaman. Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama tanpa perubahan, hubungan tersebut dapat memengaruhi kesejahteraan emosional.

Psychology Today dalam artikel Is Your Friendship One-Sided? menjelaskan bahwa hubungan pertemanan yang sehat ditandai dengan adanya rasa saling menghargai, kepedulian, dan usaha dari kedua belah pihak. Ketika salah satu unsur tersebut terus-menerus tidak terpenuhi, seseorang dapat mempertimbangkan kembali apakah hubungan tersebut masih sesuai dengan kebutuhan dan batasan pribadinya.

Mengakhiri sebuah pertemanan bukan berarti mengabaikan hubungan yang pernah terjalin. Dalam beberapa situasi, keputusan tersebut justru menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan mental dan membangun hubungan sosial yang lebih sehat. Yang terpenting adalah memastikan bahwa keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan pola hubungan secara menyeluruh, bukan semata-mata karena konflik sesaat.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

About Author

Kevin

Kevin merupakan SEO Specialist di Magdalene, yang sekarang bercita-cita ingin menjadi dog walker.