17/07/2026
Health Issues Opini

Darah Perempuan dan Dunia yang Menutup Mata

Tiap bulan perempuan mengalami siklus menstruasi, tetapi dunia memaksa perempuan meredam sakit yang mengiringinya. Ini refleksi pribadi saya sebagai perempuan.

  • March 12, 2026
  • 9 min read
  • 1616 Views
Darah Perempuan dan Dunia yang Menutup Mata

Suatu pagi di Maret, aku terbangun dengan perasaan berat, seolah awan hitam menggantung di atas kepala. Tanpa alasan jelas, air mataku jatuh begitu saja. Ada rasa lelah yang melampaui fisik. Dunia terasa seperti berkonspirasi melawanku hingga diam-diam aku berharap hidup sudah tidak lagi berarti. 

Untuk waktu yang cukup lama, aku meringkuk di bawah selimut, tak mampu menggerakkan satu inci pun anggota tubuh kecuali untuk ke kamar mandi atau sekadar makan. Namun semakin lama berdiam, aku semakin sadar sebagai orang dewasa, dunia tidak mengizinkanku berhenti total. Tenggat waktu menunggu, artikel harus rampung, dan narasumber sudah menanti untuk diwawancarai. 

Dengan sisa energi yang kupaksakan, aku mencoba menggerakkan tubuh. Aku mencuci wajah, memasang senyum profesional, dan berpura-pura semuanya baik-baik saja, meskipun di dalam tubuhku terasa seperti mesin rusak. 

Malamnya, insomnia menyerang. Aku berbaring menatap langit-langit, mencoba menebak apa yang memicu kegelapan emosional ini. Apakah ini dampak dari pekerjaanku? Sebagai jurnalis yang setiap hari terpapar beritaburuk, apakah otakku akhirnya menyerah karena kelelahan kronis? Ataukah ini burnout akibat beban kerja yang tak kunjung usai? 

Jawaban itu datang keesokan harinya. Bercak cokelat muncul di pakaian dalamku, disusul darah segar pada hari berikutnya. Seketika semuanya menjadi masuk akal. Awan gelap itu bukan sekadar kelelahan mental biasa. Itu adalah reaksi hormonal yang menandai siklus bulananku. 

Baca juga: Perempuan Indonesia Catat Sejarah, Emas buat Apriyani-Greysia 

Tubuh yang Asing 

Pengalaman pagi itu menghantamku. Sebagai perempuan, kita menjalani siklus ini setiap bulan. Kita diminta tetap berfungsi normal, padahal kenyataannya tak ada yang benar-benar normal dari rasa sakit ini. 

Sebelum darah benar-benar mengalir, kamu sudah bergulat dengan kelelahan emosional dan mental. Ketika darah itu akhirnya keluar, tubuh masih harus menghadapi pertempuran fisik. Kram yang menyakitkan terkadang membuat duduk tegak pun terasa seperti kemewahan yang tidak mampu dibayar oleh tubuh. 

Ironisnya, di dunia yang menuntut kita selalu produktif, hampir tidak ada yang benar-benar menjelaskan seberapa besar rasa sakit yang mungkin kita tanggung. Di sekolah, pelajaran kesehatan reproduksi sering kali berhentipada penjelasan biologis yang dangkal. Misal, ketika tumbuh dewasa, kamu akan berdarah, dan saat itulah kamu dianggap cukup umur untuk hamil. 

Bahkan di lingkungan keluarga, percakapan sering berhenti di permukaan. Aku mungkin memiliki privilese karena orang tuaku cukup terbuka. Papa dan Mama mengajarkan aku dan saudara laki-lakiku tentang kesehatan reproduksi, tentang consent, tentang menjaga higienitas, hingga memperhatikan asupan makanan saat sedang datang bulan. 

Namun tetap ada bagian yang luput dibicarakan. Aku tidak pernah benar-benar diberi pemahaman tentang tantangan kesehatan mental yang mengikuti siklus tersebut, atau rasa sakit di perut bagian bawah yang bisamelumpuhkan fungsi tubuh. 

Padahal secara biologis penderitaan ini nyata. Dalam penelitian berjudul “Neuroimaging the menstrual cycle: A multimodal systematic review” (2021) di jurnal Frontiers in Neuroendocrinology, dijelaskan bagaimana fluktuasihormon seperti estrogen dan progesteron berinteraksi langsung dengan neurotransmiter di otak, termasuk serotonin. 

Artinya, kesedihan, kecemasan, dan insomnia yang muncul sebelum menstruasi bukanlah sekadar drama atau kelelahan kerja biasa. Itu merupakan reaksi biologis yang nyata. Sayangnya, ruang pendidikan dan rumah sering kali tidak membuka ruang bagi perempuan untuk memahami kompleksitas ini sejak dini. 

Sebagaimana dianalisis Silvia Federici dalam Caliban and the Witch (2004), dalam tatanan masyarakat patriarki kapitalis tubuh perempuan kerap direduksi menjadi mesin produksi tenaga kerja. Sistem ini memaksa perempuan hidup dalam struktur sosial yang mengontrol tubuh mereka, termasuk melalui institusi pernikahan dan norma kesusilaan. 

Dalam konteks tersebut, tidak mengherankan jika percakapan tentang bagaimana tubuh bereaksi saat menstruasi jarang dibicarakan secara terbuka. Bagi sistem patriarki kapitalis, rasa sakit yang dialami perempuan saat menstruasi dianggap tidak memiliki nilai ekonomi maupun sosial. Akibatnya, hak perempuan atas kenyamanan tubuhnya sendiri menjadi sesuatu yang asing bahkan bagi dirinya sendiri. 

Penjelasan Federici tercermin dalam fenomena yang dikenal sebagai gender pain gap. Istilah ini menjelaskan bagaimana rasa sakit perempuan secara sistematis diremehkan, diabaikan, atau dianggap normal oleh masyarakatmaupun sistem medis. 

Laporan Bridging the Gender Pain Gap: The Inquiry into Women’s Pain Report 2025 menunjukkan kenyataan tersebut. Dalam laporan itu, masalah menstruasi dan kondisi hormonal menjadi isu kesehatan paling umum yang dialami perempuan dan memengaruhi sekitar 40 persen responden. 

Lebih dari itu, sebanyak 52 persen responden mengakses enam atau lebih layanan berbeda untuk mengelola rasa sakit mereka, sementara 23 persen responden harus mengunjungi lebih dari sepuluh layanan sebelum akhirnyamendapatkan penjelasan tentang kondisi tubuh mereka sendiri. 

Pengabaian terhadap rasa sakit perempuan juga terlihat dalam cara dunia dirancang. Dalam buku Invisible Women (2019), Caroline Criado Perez menunjukkan bagaimana banyak sistem sosial dan ekonomi dibangun dengantubuh laki-laki sebagai standar. 

Laki-laki memiliki siklus hormonal harian yang relatif stabil, sedangkan perempuan hidup dalam siklus hormonal sekitar 28 hari yang fluktuatif. Ketika sistem kerja menuntut produktivitas yang konstan setiap hari, perempuandipaksa menyesuaikan diri dengan ritme biologis laki-laki. 

Akibatnya, banyak perempuan merasa harus menyembunyikan siklus biologis mereka agar tetap dianggap kompeten. Tubuh dipaksa mengikuti ritme dunia yang tidak pernah dirancang untuknya. 

Baca juga: Sepak Bola Perempuan Semakin Diminati, Namun Disparitas Tetap Ada

Pentingnya Membicarakan Menstruasi 

Karena itu, keberanian untuk membicarakan realitas biologis ini di ruang publik sering menjadi tindakan yang tidak mudah. 

Hal ini terlihat dari pengalaman Amber Glenn, atlet seluncur indah (figure skater) asal Amerika Serikat. Glenn secara terbuka mengatakan ia sedang menstruasi saat harus tampil di atas es. 

Pernyataan Glenn tidak hanya menggambarkan rasa sakit fisik. Ia juga menjelaskan bagaimana perubahan hormon memengaruhi performanya sebagai atlet. Glenn merasa tubuhnya menjadi “lembek seperti mi” (noodly) ketika meluncur di atas es. Ototnya kehilangan kekuatan ledak, dan sarafnya kehilangan presisi untuk melakukan lompatan-lompatan sulit. 

Dampak yang paling berat justru terjadi pada kondisi mentalnya. Alih-alih meratapi kegagalan meraih medali, Glenn mengaku kehilangan rasa bahagia dan antusiasme yang biasanya ia rasakan. 

“Itulah yang benar-benar saya inginkan, dan itulah yang saya lewatkan,” ungkapnya. 

Namun kejujuran tersebut justru memicu hujatan. Banyak warganet menilai hal pribadi seperti menstruasi tidak pantas dibicarakan. Di sinilah letak ketidakadilan itu. Dunia menuntut performa sempurna dari perempuan, tetapi menolak mendengar hambatan biologis yang mereka hadapi. 

Pengalaman itu mengingatkanku pada sebuah diskusi tentang menstruasi yang pernah kuhadiri di Kongsi8, sebuah toko, studio, dan kantin di Jatinegara. Dalam ruang aman itu, orang-orang yang memiliki rahim berbagipengalaman tanpa sensor. 

Di sana aku menyadari bahwa kesedihan ekstrem sebelum menstruasi ternyata bukan pengalaman yang langka. Banyak orang mengalami hal serupa. Kami mulai mengenal istilah PMDD (Premenstrual Dysphoric Disorder), kondisi medis yang jauh lebih berat dibanding PMS biasa. 

Gejalanya meliputi perubahan suasana hati ekstrem, depresi, kecemasan, dan iritabilitas yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. 

Baca juga: Berlapis Tekanan, Kesehatan Mental Atlet Diabaikan 

Di ruang yang sama, beberapa orang juga baru menyadari kemungkinan mereka mengalami PCOS (Polycystic Ovary Syndrome), gangguan hormonal yang sering diabaikan karena dianggap sebagai “risiko menjadi perempuan”. 

Ironisnya, ketika beberapa dari mereka mencari bantuan medis, respons yang diterima tidak selalu memadai. Alih-alih diagnosis yang jelas, mereka justru disarankan untuk segera menikah agar siklus menstruasi menjadi lebihteratur. 

Dari pengalaman Amber Glenn hingga percakapan di Kongsi8, aku semakin menyadari betapa pentingnya membuka lebih banyak ruang untuk membicarakan menstruasi secara jujur. 

Membicarakan menstruasi bukan sekadar membahas proses biologis. Ini adalah upaya merebut kembali hak atas tubuh kita dari dunia yang lama dirancang dengan perspektif maskulin. 

Sudah saatnya kita berhenti merasa bersalah ketika tubuh membutuhkan istirahat saat kram menyerang. Tidak apa-apa melambat. Tidak apa-apa mengakui bahwa hari ini tubuh sedang berjuang. 

Karena setiap tetes darah yang keluar membawa cerita yang layak didengar, bukan sesuatu yang harus disembunyikan dalam rasa malu. 

Ilustrasi oleh Karina Tungari

About Author

Jasmine Floretta V.D

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.